logo

Hukum Berhubungan Suami Istri di depan Bayi dalam Islam | Konsultasi Muslim

 


Islam mengatur segala sesuatu, dari bangun tidur sampai tidur lagi, termasuk masalah berhubungan suami istri. Berhubungan suami istri dalam Islam ada adab yang harus diperhatikan oleh seorang muslim, salah satunya adalah tidak melakukannya di depan orang lain, termasuk di depan bayi karena bayi tersebut bisa melihat aktifitas orang tuanya.


Syekh Nawawi Al-Bantani rohimahullah berkata :


ويحرم وطء زوجته بحضرة أجنبي أو أجنبية


Dan diharam melakukan berhubungan suami istri di hadapan orang lain baik laki-laki maupun perempuan. (Uqudul Lujain fi Bayani Huquqiz Zaujain, halaman 9).


Islam melarang seorang muslim melakukan hubungan suami istri di depan orang lain, sekalipun di depan anaknya yang masih kecil. Jangankan berhubungan suami istri di depan anak, menceritakan hubungan suami istri saja tidak diperbolehkan dan diharamkan di dalam Islam.


Dari Abu Sa’id Al-Khudry rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا


Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah lelaki yang mencumbui istri dan istrinya juga mencumbui suaminya, kemudian lelaki tersebut menyebarkan rahasianya itu. (HR. Muslim, hadits no. 1437).


Imam An-Nawawi rohimahullah mengomentari hadits di atas di dalam kitabnya Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim :


وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ تَحْرِيمُ إِفْشَاءِ الرَّجُلِ مَا يَجْرِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ مِنْ أُمُورِ الِاسْتِمْتَاعِ وَوَصْفِ تَفَاصِيلِ ذَلِكَ وَمَا يَجْرِي مِنَ الْمَرْأَةِ فِيهِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ وَنَحْوِهِ


Di dalam hadits ini terdapat pengharaman perbuatan menyebarkan apa yang terjadi dengannya dan istrinya, berupa perkara istimta’ (percumbuan). Dan menjelaskan detil-detil percumbuan tersebut dan menceritakan bagian dari percumbuan tersebut berupa perkataan atau perbuatan atau semisalnya. (Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, jilid 10 halaman 8).


Maka dari itu sebagai orang tua, carilah waktu-waktu khusus untuk berhubungan yang sekiranya tidak dilihat oleh sang anak, walaupun anaknya masih kecil. Seperti misalnya sang anak sudah tidur ataupun sedang tidak berada di kamar orang tua. Jangan sampai berhubungan suami istri di samping anak yang terjaga, karena bisa dilihat oleh sang anak dan sebagai seorang muslim tentunya harus mempunyai rasa malu, karena Islam mengajarkan kepada setiap muslim agar menanamkan rasa malu di dalam hatinya.


Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ


Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan “laa ilaha illallah” (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu merupakan bagian dari iman. (HR. Muslim, hadits no. 35).


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.