logo

Hukum Menyiksa Hewan dalam Islam | Konsultasi Muslim

 


Banyak kita temukan di zaman sekarang ini hewan-hewan dijadikan mata pencaharian sehari-hari. Hewan tersebut memiliki tugas yang bermacam-macam, ada sebagai pengangkut barang yang banyak seperti kuda dan ada juga yang dijadikan pemeran dalam sebuah atraksi yang dikenal dengan sebutan “Topeng Monyet”. Bahkan terkadang hewan itu dicambuk agar melaksanakan tugasnya.


Tentunya perbuatan semacam ini termasuk menyiksa binatang dan Islam melarang itu semua karena Islam datang untuk menghapus segala bentuk kekerasan ataupun penyiksaan.


Pernah ada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor unta milik pemuda Anshar yang kelelahan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan pemuda tersebut, karena jika sampai menyiksa binatang, maka dia berdosa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Dari Abdullah bin Ja’far rodhiyallahu ‘anhu bekata :


أَرْدَفَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلْفَهُ ذَاتَ يَوْمٍ، فَأَسَرَّ إِلَيَّ حَدِيثًا لَا أُحَدِّثُ بِهِ أَحَدًا النَّاسِ، وَكَانَ أَحَبُّ مَا اسْتَتَرَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَاجَتِهِ هَدَفًا، أَوْ حَائِشَ نَخْلٍ، قَالَ: فَدَخَلَ حَائِطًا لِرَجُلٍ الْأَنْصَارِ فَإِذَا جَمَلٌ، فَلَمَّا رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَنَّ وَذَرَفَتْ عَيْنَاهُ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَسَحَ ذِفْرَاهُ فَسَكَتَ، فَقَالَ: مَنْ رَبُّ هَذَا الْجَمَلِ، لِمَنْ هَذَا الْجَمَلُ؟، فَجَاءَ فَتًى مِنَ الْأَنْصَارِ فَقَالَ: لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ: أَفَلَا تَتَّقِي اللَّهَ فِي هَذِهِ الْبَهِيمَةِ الَّتِي مَلَّكَكَ اللَّهُ إِيَّاهَا؟، فَإِنَّهُ شَكَا إِلَيَّ أَنَّكَ تُجِيعُهُ وَتُدْئِبُهُ


Suatu hari untuk suatu tujuan Rasulullah keluar rumah dengan menunggangi untanya. Abdullah bin Ja’far ikut membonceng di belakang. Ketika mereka sampai di pagar salah salah seorang kalangan Anshar, tiba-tiba terdengar lenguhan seekor unta.


Unta itu menjulurkan lehernya ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia merintih dan air matanya jatuh berderai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya. Beliau mengusap belakang telinga unta itu. Unta itu pun tenang. Diam.


Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya : “Siapa pemilik unta ini? siapakah pemilik unta ini? Maka datanglah seorang pemuda dari kalangan Anshar dan dia berkata : “Itu milikku ya Rasulullah.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Tidakkah engkau takut kepada Allah karena unta yang Allah peruntukkan kepadamu ini? Ketahuilah, dia telah mengadukan nasibnya kepadaku, bahwa engkau membuatnya kelaparan dan membebaninya dengan pekerjaan yang berat. (HR. Abu Dawud, hadits no. 2549).


Maka segala bentuk penyiksaan terhadap binatang tidak dibenarkan di dalam Islam, baik membebaninya dengan pekerjaan yang berat, mencambuknya ataupun membunuhnya tanpa tujuan yang dibenarkan oleh Islam, maka dia berdosa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


مَنْ قَتَلَ عُصْفُوْرًا عَبَثًا اِلَى اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ: يَا رَبِّ اِنَّ فُلاَنًا قَتَلَنِى عَبَثًا وَ لَمْ يَقْتُلْنِى مَنْفَعَةً


Siapa membunuh seekor burung ‘usfur dengan sia-sia, maka nanti di hari kiamat burung tersebut akan mengadu kepada Allah, seraya berkata, “Ya Allah, ya Tuhanku, si Fulan telah membunuhku dengan bermain-main, dan tidak membunuhku untuk diambil manfaatnya”. (HR. An-Nasa’i).


Apapun bentuk penyiksaannya, entah itu hanya membebaninya dengan beban yang berat, ataupun menyiksanya sampai mati, maka dia berdosa dan akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Disebutkan dalam Fatawa As-Syabakah Al-Islamiyyah :


فإن قتل القطط والكلاب غير الأسود البهيم أو العقور منها عمداً لغير غرض شرعي حرام، وفاعله آثم يجب عليه أن يستغفر لله تعالى ويتوب إليه


Membunuh kucing, anjing selain anjing hitam atau anjing gila, secara sengaja tanpa untuk tujuan syar’i, hukumnya adalah haram. Pelakunya berdosa wajib beristighfar kepada Allah dan bertaubat. (Fatawa As-Syabakah Al-Islamiyyah, jilid 8 halaman 1872).


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.