logo

Mie Gacoan Tidak Dapat Sertifikat Halal MUI, Ini hukum Memakannya di dalam Islam | Konsultasi Muslim

 


Islam bukan hanya memerintahkan untuk memakan makanan yang halal, tapi makanan yang halal lagi baik, karena betapa banyak orang yang hanya sekedar makan, tapi tidak mendapat keberkahan dari makanan yang dia makan. Seperti tidak membaca bismillah ketika makan, atau makanannya bisa membahayakan dirinya dan bisa juga nama makanannya tidak sesuai dengan syari’at Islam, seperti nama makanan yang sedang viral beberapa minggu terakhir ini yaitu Mie Gacoan. Gacoan artinya taruhan. Karena MUI menganggap taruhan adalah nama yang mengarah kepada kemaksiatan, maka pada akhirnya Mie Gacoan tidak mendapatkan sertifikat halal dari MUI. Karena seorang muslim bukan hanya harus memakan makanan yang halal, akan tetapi harus memakan makanan yang halal lagi baik.


Allah berfirman :


يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ


Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah : 168).


Imam At-Thobari rohimahullah mengomentari ayat di atas di dalam kitab tafsirnya Jaami’ Al-Bayaan Fii Ta’wiilil Qur’an :


يا أيّها الناسُ كلوا مما أحللت لكم من الأطعمة على لسان رسولي محمد صلى الله عليه وسلم فطيَّبْته لكم - مما تُحرِّمونه عَلى أنفسكم من البحائر والسوائب والوصائل وما أشبه ذلك مما لم أحرِّمه عليكم


Wahai manusia, makanlah makanan yang telah aku halalkan untukmu dari lidah Rasulku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku telah membuatnya baik untukmu dari apa yang kamu larang untuk dirimu dari lautan, sungai-sungai, sambungan-sambungan, dan semacamnya yang tidak aku larang bagimu. (Jaami’ Al-Bayaan Fii Ta’wiilil Qur’an, jilid 3 halaman 300).


Beliau rohimahullah melanjutkan :


وأما قوله:"طيبًا" فإنه يعني به طاهرًا غير نَجس ولا محرَّم


Adapun perkataan “baik” artinya suci bukan najis dan tidak diharamkan. (Jaami’ Al-Bayaan Fii Ta’wiilil Qur’an, jilid 3 halaman 301).


Nah, syarat makanan yang harus dimakan di dalam Islam bukan hanya sekedar halal saja, tapi halal lagi baik, suci dari najis dan tidak membahayakan untuk kesehatannya dan tidak terbuat dari bahan yang haram.


Bagaimana dengan status hukum Mie Gacoan, halal ataukah haram?


Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :


اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِبَاحَة حَتَّى يَدُلَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ


Asal hukum segala sesuatu dalam perkara mu’amalah adalah boleh, hingga ada dalil yang mengharamkannya.


Menurut Islam, syarat makanan dikatakan halal ada beberapa macam :


1. Bahannya terbuat dari bahan yang dihalalkan di dalam Islam


2. Diolah dengan cara yang halal


3. Tidak dicampur dengan bahan yang haram


Mie Gacoan terbuat dari bahan yang halal dan cara mengolahnya dibenarkan di dalam Islam serta bumbu-bumbunya terbuat dari bahan yang halal. Oleh sebab itu Mie Gacoan hukumnya boleh dimakan alias “halal”, karena sesuai syarat yang ditetapkan oleh syari’at Islam.


Lalu kenapa MUI tidak mengeluarkan sertifikat “HALAL” untuk Mie Gacoan jika statusnya halal dimakan?


Salah satu kriteria produk makanan menurut versi MUI yang bisa mendapatkan sertifikat “halal” adalah, bahwa nama produk makanan tersebut tidak menjurus kepada sesuatu yang diharamkan di dalam Islam. Sedangkan ‘Gacoan” artinya taruhan, di mana taruhan diharamkan di dalam Islam, sehingga penamaan Mie Gacoan menjurus ke sesuatu yang tidak baik dan ditakutkan akan adanya pemikiran bahwa taruhan itu adalah sesuatu yang biasa, padahal taruhan dilarang di dalam Islam dan haram hukumnya. Inilah salah satu alasan MUI tidak mengeluarkan sertifikat halal untuk Mie Gacoa, karena penamaan restorannya tidak termasuk kriteria Sistem Jaminan Halal MUI.


Adapun penamaan makanan dengan sesuatu yang haram, setidaknya hukumnya makruh meskipun makanannya halal. Tapi yang perlu diketahui, yang makruh itu adalah penamaan restorannya, bukan hukun hukum memakan makanannya. Hukum memakan makanannya tetap boleh dan halal dimakan. Hanya saja, hukum menamakan makanan halal dengan sesuatu yang haram setidaknya makruh, dan bagi penjualnya dikhawatirkan tidak mendapatkan keberkahan dari usaha ataupun uang dari hasil usahanya tersebut.


Maka dari itu dianjurkan untuk menamakan sesuatu dengan nama yang baik, karena setiap nama yang baik akan tampak indah dalam pandangan, dan Allah menyukai setiap keindahan, baik keindahan dari nama makanan, bentuk makanannya ataupun restorannya yang tampak bersih dan berbagai macam lainnya.


Dari ‘Abdullah Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ


Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan. (HR. Muslim, hadits no. 91).


Yuk buat nama makanan yang seindah mungkin, agar diridhoi oleh Allah, dan kalaulah sudah diridhoi oleh Allah, maka insyaAllah akan mendapatkan keberkahan dari makanan ataupun hasil usaha dari makanan tersebut.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.