logo

Hukum Menikah Karena Terpaksa dalam Islam | Konsultasi Muslim

 


Banyak orang tua yang terkadang menyuruh anak-anak perempuannya segera menikah, namun di satu sisi para orang tua memaksa sang anak untuk menikah dengan calon pilihan mereka sendiri, bukan pilihan orang tuanya. Padahal, Islam melarang keras pemaksaan dalam hal apapun, lebih-lebih dalam masalah pernikahan.


Dari Shohabiyyah Khansa binti Khidzam Al-Anshariyah rodhiyallahu 'anha berkata :


أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْ ذَلِكَ فَأَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهَا


Bahwa ayahnya menikahkan dia ketika itu dia janda dengan laki-laki yang tidak disukai. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengadu, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membatalkan pernikahannya. (HR. Bukhari, hadist no. 5138).


Imam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata di dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa :


وَأَمَّا تَزْوِيجُهَا مَعَ كَرَاهَتِهَا لِلنِّكَاحِ: فَهَذَا مُخَالِفٌ لِلْأُصُولِ وَالْعُقُولِ وَاَللَّهُ لَمْ يُسَوِّغْ لِوَلِيِّهَا أَنْ يُكْرِهَهَا عَلَى بَيْعٍ أَوْ إجَارَةٍ إلَّا بِإِذْنِهَا وَلَا عَلَى طَعَامٍ أَوْ شَرَابٍ أَوْ لِبَاسٍ لَا تُرِيدُهُ. فَكَيْفَ يُكْرِهُهَا عَلَى مُبَاضَعَةِ وَمُعَاشَرَةِ مَنْ تَكْرَهُ مُبَاضَعَتَهُ وَمُعَاشَرَةَ مَنْ تَكْرَهُ مُعَاشَرَتَهُ وَاَللَّهُ قَدْ جَعَلَ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً فَإِذَا كَانَ لَا يَحْصُلُ إلَّا مَعَ بُغْضِهَا لَهُ وَنُفُورِهَا عَنْهُ. فَأَيُّ مَوَدَّةٍ وَرَحْمَةٍ فِي ذَلِكَ؟


Dan adapun menikahkan anak perempuan secara terpaksa, padahal dia tidak menyukai pernikahan itu, maka itu adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip agama dan logika sehat. Allah tidak pernah mengizinkan wali wanita untuk memaksanya dalam transaksi jual beli, kecuali dengan izinnya. Demikian pula, orang tua tidak boleh memaksa anaknya untuk makan atau minum atau memakai baju, yang tidak disukai anaknya. Maka bagaimana mungkin dia tega memaksa anaknya untuk berhubungan dan bergaul dengan lelaki yang tidak dia sukai berhubungan dengannya. Allah menjadikan rasa cinta dan kasih sayang diantara pasangan suami istri. Jika pernikahan ini terjadi dengan diiringi kebencian si wanita kepada suaminya, lalu dimana ada rasa cinta dan kasih sayang?. (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 32 halaman 25).


Hukum pernikahan secara terpaksa


Imam Ibnu Bathol rohimahullah berkata di dalam kitabnya Syarah Shahih Al-Bukhari Libni Bathol :


ودل الحديث على أن البكر إذا نكحت قبل إذنها بالصمت أن النكاح باطل، كما يبطل نكاح الثيب قبل أن تستأمر


Hadits ini menunjukkan bahwa anak gadis apabila dinikahkan sebelum meminta izinnnya dengan diamnya, maka nikah tersebut batil. Sebagaimana batal status nikah seorang janda sebelum meminta persetujuannya. (Syarah Shahih Al-Bukhari Libni Bathol, jilid 7 halaman 251).


Apakah otomatis cerai?


Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah pernah ditanya mengenai hukum anak perempuan yang dipaksa menikah oleh orang tuanya, maka Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah menjawab :


إذا لم ترض بهذا الزواج فيرفع أمرها إلى المحكمة لتثبيت العقد أو فسخه


Jika dia tidak rela dengan pernikahannya, dia bisa mengajukan masalahnya ke pengadilan, untuk ditetapkan apakah akadnya dilanjutkan ataukah difasakh. (Fataawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, jilid 18 halaman 126).


Artinya, sang perempuan bisa mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan jika sekiranya dia tidak suka atau tidak ridho dengan pernikahannnya, karena dulu ada sahabat wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan perihal dia menikah karena terpaksa, maka pernikahannya tersebut dibatalkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Inilah ajaran Islam, tidak memperbolehkan pemaksaaan dalam bentuk apapun dan mengedepankan keadilan kepada setiap pemeluknya. Dan seharusnya orang tua meminta izin kepada anak gadisnya dalam menikahkannya, begitu pula kepada anaknya yang janda, maka dia juga harus meminta persetujuannya.


Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


لاَ تُنْكَحُ الأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ، وَلاَ تُنْكَحُ البِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ قَالُوا: كَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَسْكُتَ


Janganlah menikahkan seorang janda sebelum meminta persetujuannya, dan janganlah menikahkan anak gadis sebelum meminta izin darinya. (HR. Bukhari, hadits no. 6970).


Maka dari itu, orang tua tidak seharusnya memaksakan anaknya menikah, karena bisa saja akan menimbulkan efek atau tekanan bagi sang anak, sebab dia menikah dengan orang yang tidak dia cintai.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.