logo

Hukum Memposting Makanan di Media Sosial, Berdosakah? | Konsultasi Muslim

 


Banyak sekali pada zaman sekarang orang-orang yang memposting makanan ataupun minuman ke media sosial, dan sebagian orang yang melihatnya ada yang merasa risih dan terganggu karena postingan makanan tersebut dan menimbulkan prasangka yang bermacam-macam, bahkan sampai mengatakan bahwa orang yang memposting makanan tersebut dengan niat pamer dan sebagainya.


Bolehkah seorang muslim langsung menjudge orang lain dengan keburukan sementara dia tidak tau niat orang yang memposting makanan tersebut?


Berkenaan dengan masalah ini ada sebuah hadits yang menerangkan tentang niat seorang muslim, di mana seorang muslim melakukan perbuatan tergantung pada niatnya dan bahkan dia berpahala atau berdosa tergantung niat yang ada di dalam hatinya.


Dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ


Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya kepada yang dia tuju. (HR. Bukhari, hadits no. 6689 dan Muslim, hadits no. 1907).


Imam Syihabuddin rohimahullah berkata di dalam kitabnya Irsyadus Saari Lisyarhi Shahihil Bukhari :


إنما الأعمال ثابت ثوابها بسبب النيات، ويحتمل أن تكون للإلصاق لأن كل عمل تلتصق به نيته


Sesungguhnya setiap perbuatan itu pahalanya tergantung niatnya. Dan di dalam perbuatan ada yang menempel padanya. Dan setiap perbuatan ditempeli niat. (Irsyadus Saari Lisyarhi Shahihil Bukhari, jilid 9 halaman 400).


Artinya, seseorang diberi balasan sesuai dengan niat di dalam hatinya. Jika dia melakukan perbuatan dengan niat baik, yaitu karena Allah, maka dia akan mendapatkan pahala. Namun jika niat dia melakukan sesuatu itu buruk, maka dia tidak akan mendapatkan pahala, justru dia bisa mendapatkan dosa di sisi Allah.


Begitu pula dengan seseorang yang memposting makanan di media sosial, tidak bisa langsung di judge bahwa dia memposting tersebut dengan niat pamer, karena tidak ada yang tau niat dia memposting makanan tersebut untuk apa.


Bisa jadi dia memposting makanan tersebut hanya sekedar iseng atau hanya berbagi aktivitasnya sehari-hari. Jika niatnya seperti ini, maka dia tidak mendapatkan dosa di sisi Allah. Dan seorang muslim hendaknya tidak su’udzon kepada sesama muslim.


Akan tetapi, jika niat dia memposting makanan hanya untuk pamer dan ingin dipuji orang lain, maka dia bisa saja mendapatkan dosa di sisi Allah disebabkan niat pamernya, karena bisa jadi dilihat oleh orang-orang yang menginginkan makanan yang dia posting, namun belum mampu membelinya.


Maka dari itu, setiap perbuatan tergantung bagaimana niatnya dan seorang muslim haruslah memperbagus niatnya setiap ingin melakukan sesuatu agar dia diberi balasan dengan yang baik.


Jika memang mempunyai kelebihan makanan, maka berbagilah kepada tetangga, karena baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berbagi makanan kepada para tetangga yang membutuhkan.


Dari Abu Dzar rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya :


يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً، فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ


Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak masakan yang berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu. (HR. Muslim, hadits no. 2625).


Syekh At-Thoyyib Ahmad Hutoibah rohimahullah mengomentari hadits di atas di dalam Syarah Riyadus Shalihin :


فإذا طبخت مرقة فأكثر ماءها، ولم يقل النبي صلى الله عليه وسلم: فأكثر لحمها، لأنه ليس كل واحد سيجد اللحم، فأعطه شربة مرق فقد يكون فقيراً محتاجاً فيدعو لك، ويبيت فرحاناً


Apabila kamu memasakan makanan yang berkuah, maka perbanyaklah kuahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan : Perbanyaklah dagingnya. Karena tidak setiap orang bisa membeli daging, maka paling tidak berilah tetanggamu kuah dari makanan tersebut, karena kadang-kadang seorang yang fakir membutuhkan itu, bisa jadi dia mendo’akanmu, dan dia tinggal di rumahnya dengan rasa gembira. (Syarah Riyadus Shalihin, jilid 13 halaman 6).


Kesimpulan :


1. Jangan menjudge orang yang memposting makanan terlebih dahulu karena kita tidak tau niat dia memposting makanan tersebut apa. Bisa jadi dia memposting makanan tersebut hanya sekedar iseng saja atau membagikan aktivitasnya sehari-hari


2. Setiap perbuatan diberi balasan sesuai dengan niatnya, jika niatnya baik, maka dia diberi balasan kebaikan dan jika niatnya buruk bahkan untuk pamer, dia bisa mendapatkan dosa di sisi Allah karena menampakkan sesuatu kepada orang dengan niat riya’


3. Islam tidak memperbolehkan su’udzon (berburuk sangka) kepada siapapun sebelum dia tabayun kepada yang bersangkutan, karena jika dia berburuk sangka kepada orang lain, maka dia mendapatkan dosa di sisi Allah atas perbuatannya itu


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.