logo

Puasa Orang-Orang Sholeh Menurut Imam Al-Ghazali | Konsultasi Muslim

 


Ketika seseorang berpuasa, hendaklah dia menjaga dirinya dari hal-hal yang dilarang di dalam Islam, bukan hanya menjaga dari makan dan minum, akan tetapi menjaga diri dari hal-hal yang bisa merusak pahala puasanya.


Imam Al-Ghozali rohimahullah berkata di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumiddin tentang puasa orang-orang sholeh terdahulu :


وأما صوم الخصوص وهو صوم الصالحين فهو كف الجوارح عن الآثام وتمامه بستة أُمُورٍ


Adapun puasa khusus, yaitu puasanya orang sholeh adalah menahan anggota tubuhnya dari perbuatan dosa. Dan dalam hal ini ada 6 hal yang dijaga oleh orang-orang sholeh tersebut :


1. Menjaga pandangan dari perbuatan yang tercela


الْأَوَّلُ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّهُ عَنِ الِاتِّسَاعِ فِي النَّظَرِ إِلَى كُلِّ مَا يُذَمُّ وَيُكْرَهُ وَإِلَى كُلِّ مَا يُشْغِلُ الْقَلْبَ وَيُلْهِي عَنْ ذكر الله عز وجل


Petama : menjaga pandangan dan menahan dari melihat yang lebih luas pada setiap perbuatan yang tercela dan dibenci dan setiap perbuatan yang bisa menyibukkan hati serta dari perbuatan yang bisa mengalihkan dari mengingat Allah.


2. Menjaga lisan dari perbuatan dosa


الثاني حفظ اللسان عن الهذبان وَالْكَذِبِ وَالْغَيْبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْفُحْشِ وَالْجَفَاءِ وَالْخُصُومَةِ وَالْمِرَاءِ وإلزامه السكوت وشغله بذكر الله سبحانه وتلاوة القرآن فهذا صوم اللسان


Kedua : menjaga lisan dari mengelabui, dusta, ghibah, mengadu domba, perbuatan keji, dari perbuatan yang sia-sia, perdebatan, pertengakaran, dan hendaklah dia menahan diri dari melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, serta menyibukkan dirinya dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membaca Al-Qur’an, maka ini adalah puasa lisan.


3. Menjaga pendengaran


الثَّالِثُ كَفُّ السَّمْعِ عَنِ الْإِصْغَاءِ إِلَى كُلِّ مَكْرُوهٍ


Ketiga : menjaga pendengaran dari setiap perbuatan yang dibenci.


4. Menjaga anggota badan dari perbuatan dosa


الرابع كف بقية الجوارح عن الآثام من اليد والرجل عن الْمَكَارِهِ وَكَفُّ الْبَطْنِ عَنِ الشُّبُهَاتِ وَقْتَ الْإِفْطَارِ


Keempat : menjaga anggota badan dari dosa, yaitu menjaga tangan dan kaki dari sesuatu yang dibenci serta menjaga perut dari syubhat pada waktu berbuka puasa.


5. Tidak kekenyangan ketika berbuka puasa


الْخَامِسُ أَنْ لَا يَسْتَكْثِرَ مِنَ الطعام الحلال وقت الإفطار بحيث يمتلىء جوفه فَمَا مِنْ وِعَاءٍ أَبْغَضُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وجل من بطن مليء مِنْ حَلَالٍ


Kelima : tidak memperbanyak makan makanan ketika berpuasa sehingga dia kekenyangan. Karena tidak ada wadah yang paling dibenci oleh Allah selain perut yang penuh dengan makanan.


6. Merasa takut puasanya tidak diterima Allah dan juga berharap agar puasanya diterima


السادس أن يكون قلبه بعد الإفطار معلقاً مُضْطَرِبًا بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ


Keenam : Hendaklah hatinya gelisah setelah berbuka antara takut dan berharap kepada Allah.


Artinya dia gelisah karena takut puasanya tidak diterima oleh Allah dan berharap agar puasanya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Inilah 6 hal yang dijaga oleh orang-orang sholeh terdahulu ketika mereka berpuasa, mereka menahan diri dari hal-hal yang bisa merusak puasanya. Dan apabila ada orang yang mengajak bertengkar, gosip dan fitnah, maka hendaknya seorang muslim menjauhinya dan berkata : “aku sedang berpuasa.” Hal ini sebagaimana yang diajarkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ


Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan yang sia-sia dan perbuatan keji. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya : “Aku sedang puasa, aku sedang puasa.” (HR. Ibnu Khuzaimah, hadits no. 1996).


Syekh Musthafa Al-A’zhami rohimahullah mengomentari hadits di atas di dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah :


إسناده صحيح


Sanadnya Shahih. (Shahih Ibnu Khuzaimah, jilid 3 halaman 242).


Oleh karnanya, puasa orang-orang sholeh dan orang-orang awam sangatlah berbeda. Puasanya orang-orang sholeh benar-benar menjaga diri dari hal-hal yang bisa merusak pahala puasanya, sedangkan puasanya orang-orang awam, mereka hanya menjaga diri dari makan dan minum saja, akan tetapi tidak menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang bisa merusak pahala puasanya, dan betapa banyak orang yang berpuasa, akan tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan haus saja.


Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ


Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga. (HR. Ahmad, hadits no. 8856).


Syekh Syu’aib Al-Arnauth rohimahullah mengomentari hadits di atas di dalam kitab Musnad Al-Imaam Ahmad bin Hanbal :


إسناده جيد


Sanadnya baik. (Musnad Al-Imaam Ahmad bin Hanbal, jilid 14 halaman 445).


Semoga kita puasa terhindar dari perbuatan-perbuatan yang bisa merusak nilai puasa dan mudah-mudahan kita semua bisa mengikuti jejak Salafus Sholeh dalam berpuasa yang bisa menahan diri dari hal-hal yang bisa merusak puasa serta menajaga diri dari perkara yang bisa menjauhkan hati dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.