logo

Hukum Berniat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh | Konsultasi Muslim

 


Para ulama sepakat bahwa niat merupakan bagian terpenting sebelum melakukan ibadah puasa. Bahkan tidak sah puasa seorang muslim ketika dia tidak berniat.


Imam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata di dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa :


وَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْعِبَادَةَ الْمَقْصُودَةَ لِنَفْسِهَا كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ لَا تَصِحُّ إلَّا بِنِيَّةِ


Para ulama sepakat bahwa ibadah yang dimaksudkan langsung pada zat ibadah itu sendiri seperti shalat, puasa, dan haji, maka tidak sah ibadah tersebut kecuali dengan niat. (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 18 halaman 257).


Maka amalan sholeh apapun yang dikerjakan tanpa didasari dengan niat, maka tidak sah karena tidak di awali dengan niat di dalam hatinya.


Namun para ulama berbeda pendapat tentang apakah niat berpuasa di bulan Ramadhan harus diperbarui setiap hari atau cukup dengan berniat sekali saja di awal Ramadhan untuk sebulan penuh.


Menurut mazhab Syafi’i, Hanafi dan Hambali, bahwa niat puasa harus diulangi setiap harinya. Berikut beberapa pendapat ulama mengenai ini :


1. Imam As-Shon’ani rohimahullah berkata di dalam kitabnya Subulus Salam Syarah Bulughul Maroom Min Jam’i Adillatil Ahkaam :


وَتُشْتَرَطُ النِّيَّةُ لِكُلِّ يَوْمٍ عَلَى انْفِرَادِهِ وَهَذَا مَشْهُورٌ مِنْ مَذْهَبِ أَحْمَدَ


Dan disyaratkan berniat setiap harinya secara terpisah, dan pendapat ini terkenal dalam mazhab Ahmad. (Subulus Salam Syarah Bulughul Maroom Min Jam’i Adillatil Ahkaam, jilid 1 halaman 561).


Beliau rohimahullah kembali menuqil pendapat Imam Ahmad :


وَلَهُ قَوْلٌ: إنَّهُ إذَا نَوَى مِنْ أَوَّلِ الشَّهْرِ تُجْزِئُهُ


Dan Imam Ahmad juga berpendapat : Bahwanya jika dia berniat di awal bulan Ramadhan saja, maka itu sudah cukup. (Subulus Salam Syarah Bulughul Maroom Min Jam’i Adillatil Ahkaam, jilid 1 halaman 561).


Artinya jika dia hanya berniat di awal bulan Ramadhan saja tanpa berniat di malam-malam berikutnya, maka boleh.


2. Syekh Abdul Karim Al-Khudair rohimahullah berkata di dalam kitabnya Syarah Shahih Al-Bukhari :


واختلفوا في تعيين النية فقال أحمد والشافعي وأبو حنيفة: لا بد من النية لكل يوم، لماذا؟ لأن كل يوم عبادة مستقلة فيحتاج إلى نية، فلا يكفي نية واحدة


Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan niat. Imam Ahmad, Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah berpendapat : Dia harus berniat puasa setiap hari di bulan Ramadhan. Kenapa? Karena setiap hari itu ibadah yang berdiri sendiri dan membutuhkan niat. Maka tidak cukup hanya dengan satu niat saja. (Syarah Shahih Al-Bukhari, jilid 13 halaman 13).


3. Imam As-Syirbini rohimahullah berkata di dalam kitabnya Mugni Al-Muhtaj :


وَلَا بُدَّ مِنْ التَّبْيِيتِ لِكُلِّ يَوْمٍ لِظَاهِرِ الْخَبَرِ؛ وَلِأَنَّ صَوْمَ كُلِّ يَوْمٍ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ لِتَخَلُّلِ الْيَوْمَيْنِ بِمَا يُنَاقِضُ الصَّوْمَ كَالصَّلَاةِ يَتَخَلَّلُهَا السَّلَامُ


Dan hendaklah menetapkan (berniat) puasa di malam hari setiap hari berdasarkan zohir hadits ini. Hadits yang dimaksud adalah :


مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ، رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيّ وَغَيْرُهُ وَصَحَّحُوهُ


“Siapa yang belum berniat di malam hari sebelum Shubuh, maka tidak ada puasa untuknya. (HR. Ad-Daruquthni dan yang lainnya dan mereka menshahihkannya).”


Karena puasa setiap hari adalah ibadah yang berdiri sendiri yang menyelingi dua hari yang berlawanan dengan puasa seperti shalat berlawanan dengan salam. (Mugni Al-Muhtaj, jilid 2 halaman 149).


4. Imam Taqiyuddin As-Syafi’i rohimahullah berkata di dalam kitabnya Kifayatul Akhyaar :


وَتجب النِّيَّة لكل لَيْلَة لِأَن كل يَوْم عبَادَة مُسْتَقلَّة أَلا ترى أَنه لَا يفْسد بَقِيَّة الْأَيَّام بِفساد يَوْم مِنْهُ فَلَو نوى صَوْم الشَّهْر كُله صَحَّ لَهُ الْيَوْم الأول على الْمَذْهَب


Dan wajib berniat puasa setiap malam, karena puasa dari hari ke hari selama Ramadhan merupakan ibadah yang berdiri sendiri. Ketahuilah, bukankan puasa Ramadhan sebulan tidak menjadi rusak hanya karena batal sehari? Kalau ada seseorang yang berniat puasa sebulan penuh di awal Ramadhan, maka puasanya hanya sah di hari pertama. Demikian pendapat mazhab ini (Mazhab Syafi’i). (Kifayatul Akhyaar, jilid 1 halaman 198).


Jumhur (mayoritas) ulama menganjurkan untuk memperbarui niat puasa setiap hari di malam harinya, karena setiap hari itu ibadah yang berdiri sendiri dan membutuhkan niat. Maka tidak cukup hanya dengan satu niat saja.


Sedangkan menurut mazhab Maliki bahwa niat puasa cukup sekali saja, yaitu di awal puasa dan diniatkan untuk sebulan penuh.


Berikut pendapat ulama mazhab Maliki mengenai ini :


1. Imam Al-Ghurnathi rohimahullah seorang ulama mazhab Maliki berkata di dalam kitabnya At-Taj wal Iklil Li Mukhtashor Kholil :


وَكَفَتْ نِيَّةٌ لِمَا يَجِبُ تَتَابُعُهُ اللَّخْمِيِّ: أَمَّا مَا تَجِبُ مُتَابَعَتُهُ كَرَمَضَانَ وَشَهْرَيْ الظِّهَارِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَمَنْ نَذَرَ شَيْئًا بِعَيْنِهِ وَمَنْ نَذَرَ مُتَابَعَةَ مَا لَيْسَ بِعَيْنِهِ فَالنِّيَّةُ فِي أَوَّلِهِ لِجَمِيعِهِ تُجْزِئُهُ


Dan cukup berniat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam Al-Lakhmi berkata : Adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadhan, dua bulan puasa zhihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernadzar puasa pada hari tertentu, orang yang bernadzar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya. (At-Taj wal Iklil Li Mukhtashor Kholil, jilid 3 halaman 338).


Beliau rohimahullah melanjutkan :


ابْنُ رُشْدٍ: وَأَمَّا مَا كَانَ مِنْ الصِّيَامِ يَجُوزُ تَفْرِيقُهُ كَقَضَاءِ رَمَضَانَ وَصِيَامِهِ فِي السَّفَرِ وَكَفَّارَةِ الْيَمِينِ وَفِدْيَةِ الْأَذَى فَالْأَظْهَرُ مِنْ الْخِلَافِ إذَا نَوَى مُتَابَعَةَ ذَلِكَ أَنْ تُجْزِئَهُ نِيَّةٌ وَاحِدَةٌ يَكُونُ حُكْمُهَا بَاقِيًا وَإِنْ زَالَ عَيْنُهَا مَا لَمْ يَقْطَعْهَا بِنِيَّةِ الْفِطْرِ عَامِدًا، وَأَمَّا مَا لَمْ يَنْوِ مُتَابَعَتَهُ مِنْ ذَلِكَ فَلَا خِلَافَ أَنَّ عَلَيْهِ تَجْدِيدَ النِّيَّةِ لِكُلِّ يَوْمٍ


Ibnu Rusyd berkata : adapun puasa yang boleh dipisah seperti qadha Ramadhan, puasa Ramadhan saat bepergian, denda sumpah, fidyah al-adza (denda bagi orang ihram yang melanggar keharaman saat ihram), maka pendapat yang jelas dari ikhtilaf ulama bahwa bila dia bermaksud melakukan puasa tersebut secara terus-menerus, maka mencukupi baginya satu niat, hukum satu niat tersebut akan menetap meski hilang sosoknya selama tidak diputus dengan niat berbuka puasa secara sengaja. Adapun orang yang tidak berniat melakukannya secara terus-menerus, maka tidak ada ikhtilaf bahwa dia wajib untuk memperbarui niat di setiap harinya. (At-Taj wal Iklil Li Mukhtashor Kholil, jilid 3 halaman 338).


2. Imam Al-Qolyubi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Hasyiyah Al-Qolyubi wa ‘Amiroh :


وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ


Disunahkan pada malam pertama bulan Ramadhan untuk berniat puasa sebulan penuh untuk mengambil kemanfaatannya serta mengikuti pendapat Imam Malik pada suatu hari ketika lupa untuk berniat di dalamnya. Karena beliau menganggap niat tersebut mencukupi apabila lupa berniat pada malam-malam berikutnya di semua malam Ramadhan. (Hasyiyah Al-Qolyubi wa ‘Amiroh, jilid 2 halaman 66).


Niat Puasa Sebulan Penuh :


Tidak ada lafadz khusus yang berkenaan dengan niat puasa sebulan penuh. Maka bagi seorang muslim bisa berniat memakai bahasa masing-masing, bisa bahasa Arab, Indonesia atau bahasa daerah masing-masing, karena tidak adanya ketentuan dalam masalah niat.


Seperti dalam bahasa Indonesia :


1. “Aku berniat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti Imam Malik, fardhu karena Allah.”


2. “Aku berniat puasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini, fardhu karena Allah Ta’ala.”


3. “Aku berniat puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan tahun ini, fardhu karena Allah Ta’ala.”


Ataupun dengan versi masing-masing dan dengan bahasa daerah masing-masing. Tidak ada kewajiban melafadzkan niat puasa dan tidak ada pula lafadz khusus yang harus diucapkan ketika berniat puasa. Bisa berniat dengan cara sendiri dan dengan bahasa yang dimengerti oleh orang yang berniat.


Bagaimana jika dia lupa maka sahur atau lupa berniat untuk berpuasa kemudian dia kesiangan, apakah puasanya sah?


Imam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata di dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa :


وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ؛ فَإِنْ نَوَى بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِلِسَانِهِ أَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ بِاتِّفَاقِهِمْ


Niat itu letaknya di dalam hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di dalam hatinya tanpa dia lafadzkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama. (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 18 halaman 262).


Oleh karnanya jika seseorang bangun kesiangan dan tidak sempat berniat di malam harinya, maka sudah terhitung berniat karena dia berkeinginan mau berpuasa pada besoknya dan sudah terhitung berniat karena niat menurut para ulama tempatnya di dalam hati dan sehingga tidak harus dilafadzkan.


Kedua pendapat di atas insyaAllah benar karena para ulama sama-sama berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadits dan silahkan memilih pendapat yang diyakini lebih kuat dari segi dalilnya.


Kesimpulan :


1. Ulama mazhab Maliki berpendapat boleh seseorang berniat puasa di awal bulan saja untuk puasa sebulan penuh dan berniat di awal bulan sudah mencukupi untuk niat puasa di malam-malam berikutnya. Namun, sekalipun mazhab Maliki memperbolehkan seseorang berniat sekali saja dengan niat puasa sebulan penuh, tapi Syekh Ahmad bin Ghanim An-Nafrawi rohimahullah seorang ulama mazhab Maliki tetap menganjurkan untuk mengulang niat pada setiap malamnya.


Beliau rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Fawaakih Ad-Dawaani :


فَلَا يُنَافِي أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ تَبْيِيتُهَا كُلَّ لَيْلَةٍ لِمُرَاعَاةِ الْخِلَافِ، فَإِنَّ الشَّافِعِيَّ وَأَبَا حَنِيفَةَ يَقُولَانِ بِوُجُوبِ النِّيَّةِ كُلَّ لَيْلَةٍ


Dan tidak dinafikan bahwa dianjurkan untuk berniat setiap malam untuk menghormati perbedaan pendapat. Karena Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah berkata : wajib memperbarui niat puasa di bulan Ramadhan setiap malamnya. (Al-Fawaakih Ad-Dawaani, jilid 1 halaman 305).


2. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa niat puasa harus diperbarui setiap harinya, karena setiap hari itu ibadah yang berdiri sendiri dan membutuhkan niat. Maka tidak cukup hanya dengan satu niat saja.


3. Apabila seseorang bangun kesiangan dan tidak sempat berniat di malam harinya, maka puasanya tetap sah karena dia terhitung sudah berniat disebabkan dia berkeinginan mau berpuasa pada besoknya dan sudah terhitung berniat karena niat menurut para ulama tempatnya di dalam hati dan sehingga tidak harus dilafadzkan.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.