logo

Sedekah Untuk Pesantren Atau Menafkahi Anak Istri? | Konsultasi Muslim

 


Pertanyaan :


Assalamualaikum ustad. Saya mau bertanya.


Saya adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak yg masih balita...dan suami saya adalah alumni suatu pondok pesantren. Saya merasa tidak cukup nafkah yg diberikan suami. Karena dia juga harus sedekah ke pondoknya itu. Sebagian penghasilan dia diserahkan ke pondok untuk memenuhi kebutuhan pondok. Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari hari saja tidak cukup, belum lagi saya dan suami mempunyai hutang yg lama belum terbayarkan, tetapi suami saya mengesampingkan itu, dia lebih memprioritaskan pondoknya, terus apa yg harus saya lakukan ustad.


Suami saya dituntut oleh gurunya untuk iuran ke pondoknya itu. Sementara saya dan suami masih repot dalam ekonomi. Perlu diketahui suami saya sangat nurut apa yg dikatakan gurunya, dia akan melakukan apapun yg gurunya suruh.


Dari : Fulanah


Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

 

Perlu diketahui bahwa seorang suami wajib hukumnya menafkahi istri dan anak-anaknya.

 

Allah berfirman :

 

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

 

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. At-Thalaq : 7).

 

Dari Mu'awiyah rodhiyallahu 'anhu berkata, bahwa dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

 

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟، قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، أَوِ اكْتَسَبْتَ، وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْت

 

Saya berkata : “Wahai Rasulullah, apa hak seorang istri salah seorang di antara kami dari suaminya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian atau engkau usahakan dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya selain di rumah.” (HR. Abu Daud, no. 2142).

 

Imam Al-Baghawi rohimahullah menuqil pendapat Abu Sulaiman Al-Khittobi bahwa beliau (Abu Sulaiman Al-Khittobi) mengomentari hadist yang diriwayatkan Abu Daud di atas sebagaimana disebutkan di dalam kitab Syarhus Sunnah :

 

فِي هَذَا إِيجَاب النَّفَقَة وَالْكِسْوَة لَهَا، وَهُوَ على قدر وُسع الزَّوْج

 

Di dalam hadist ini menunjukkan wajibnya bagi seorang suami menafkahi dan memberi pakaian istrinya. Dan besar nafkahnya sesuai dengan kemampuan suami. (Syarhus Sunnah, jilid 9 hal. 160).

 

Oleh karnanya, nafkah itu wajib ditunaikan oleh suami kepada istri sebagai bentuk tanggung jawab kepada keluarganya.

 

Dan perlu diketahui, bahwa menafkahi istri dan anak itu wajib hukumnya yang jika tidak diberikan akan mendapat dosa di sisi Allah. Sedangkan sedekah ke pondok itu hukumnya Sunnah bukan wajib.

 

Jadi seorang muslim khususnya para suami hendaknya mengedepankan perkara yang wajib daripada yang Sunnah. Karena termasuk kezoliman apabila dia memenuhi yang Sunnah, namun kewajibannya tidak dia laksanakan dengan baik dan benar.

 

Imam Ibnu Hajar rohimahullah berkata di dalam kitab Fathul Baari :

 

مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ

 

Siapa yang sibuk dengan yang wajib dari yang sunnah maka dialah orang yang patut diberi udzur. Dan barangsiapan yang sibuk dengan yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib, maka dialah orang yang benar-benar tertipu. (Fathul Baari, jilid 11 halaman 343).

 

Oleh sebab itu yang harus dilakukan adalah istri harus mengingatkan suami agar memenuhi kewajibannya terlebih dahulu.

 

Jangan sampai nafkah yang diberikan suami kurang hanya gara-gara bersedekah ke pondok pesantren. Karena hal itu termasuk kezoliman kepada istri dan anak. Dahulukan yang wajib daripada yang sunnah.

 

Bersedekah kepada Pondok pesantren tidaklah dilarang, namun kewajiban menafkahi harus benar-benar dilaksanakan dengan baik dan benar, serta memastikan agar istri dan anak tidak kekurangan dalam masalah nafkah.

 

Apabila istri dan anak sudah cukup dalam perkara nafkah, maka silahkan bersedekah. Namun penuhi dulu apa yang menjadi hak istri.

 

Jika nafkah kepada istri dan anak saja kurang, lantas menyedekahkan separoh penghasilannya ke pondok pesantren, maka ini termasuk kezaliman kepada istri dan anak. Maka hendaknya seorang suami menafkahi anak dan istrinya terlebih dahulu dan memastikan keperluannya cukup baru bersedekah kepada pondok pesantren atau yang lainnya.

 

Semoga bisa dipahami.

 

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.