logo

Poligami Syar’i Sesuai Yang Rasulullah Ajarkan | Konsultasi Muslim

 


Poligami merupakan bagian dari syari’at Islam yang harus diterima oleh kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak boleh seorang muslim menolak sesuatu yang disyari’atkan di dalam Islam, karna menolak syari’at Islam berarti dia telah keluar dari Islam, karna syari’at Islam berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Pensyari’atan poligami sebagaimana yang disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 3 di mana Allah berfirman :


فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً


Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja. (QS. An-Nisa’ : 3).


Imam Al-Mawardi rohimahullah mengomentari ayat di atas di dalam tafsirnya An-Nukat wal ‘Uyun :


وفي قوله تعالى: {مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ الْنِّسَاءِ} قولان:


Dan firman Allah : (wanita-wanita yang kamu senangi). Ada 2 pendapat mengenai ini :


1. Tergantung kesanggupan laki-laki ingin menikahi berapa, asalkan tidak lebih dari 4 wanita.


أحدهما: أن ذلك عائد إلى النساء وتقديره فانحكوا من النساء ما حلَّ. وهذا قول الفراء


Salah satunya : Bahwa itu semua kembali kepada perempuan dan kesanggupan laki-laki dalam menikahi perempuan, maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi selama itu diperbolehkan. Dan ini pendapat Al-Farro’.


2. Tergantung kesanggupan laki-laki dalam membiyai pernikahan, namun harus menikahinya dengan pernikahan yang baik sesuai yang diajarkan Islam.


والثاني: أن ذلك عائد إلى النكاح وتقديره فانحكوا النساء نكاحاً طيباً. وهذا قول مجاهد


Yang kedua : Bahwa itu semua kembali kepada pernikahannya dan kesanggupan laki-laki dalam menikahinya, maka nikahilah perempuan dengan pernikahan yang baik. Ini adalah perkataan Mujahid.


(An-Nukat wal ‘Uyun, jilid 1 halaman 449).


Artinya laki-laki boleh menikahi wanita-wanita yang dia senangi asalkan dia sanggup berlaku adil kepada istri-istrinya kelak dan tidak menelantarkan istri-istrinya. Dan cara pernikahannya juga harus sesuai dengan yang diajarkan Islam serta tidak menikahi wanita lebih dari 4 orang.


Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan poligami ketika istrinya (Khadijah) masih hodup, namun beliau menikahi lagi dan melakukan poligami setelah pernikahan beliau selanjutnya.


Dari Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata :


لَمْ يَتَزَوَّجِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خَدِيجَةَ حَتَّى مَاتَتْ


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikahi wanita lain sampai Khadijah wafat. (HR. Muslim, hadist no. 2436).


Lalu bagaimana poligami yang diajarkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?


1. Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi para janda untuk mensejahterakan mereka.


2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan poligami untuk memperluas jaringan dakwah beliau agar diterima oleh banyak orang.


3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu berlaku adil kepada istri-istri beliau.


Inilah bentuk poligami yang diajarkan baginda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mencontohkan bagaimana memperlakukan istri-istri dan beliau juga mencontohkan bagaimana berlaku adil kepada para istri.


Beliau menikahi para janda karena wahyu dari Allah dan agar dakwah beliau semakin luas sehingga dikenal banyak orang.


Banyak diantara kaum muslimin sekarang yang hanya bermodalkan harta, namun sebenarnya tidak mampu berlaku adil kepada para istrinya. Hal ini tentu saja tidak diperbolehkan di dalam Islam, karena perempuan tidak semata-mata membutuhkan uang dalam rumah tangga, namun juga butuh kasih sayang dan yang paling penting adalah adil kepada semua istrinya.


Jika memang niatnya berpoligami mau mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hendaknya mencontoh bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpoligami dengan menikahi janda misalnya. Akan tetapi laki-laki sekarang berpoligami dengan menikahi gadis-gadis yang masih muda. Tentunya niat poligaminya menjadi tanda tanya, benarkah niatnya karna Allah dan mengamalkan sunnjah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? masih banyak para janda yang miskin serta sulit ekonominya, tapi tidak dinikahi.


Gadis yang dinikahi tersebut masih muda dan secara ekonomi mampu, maka niat poligaminya patut dipertanyankan.


Apakah poligami dengan menikahi gadis salah? Tidak salah, akan tetapi ada orang yang lebih utama dinikahi daripada seorang gadis. Kenapa pilih-pilih? Berarti benarkah niatnya karena Allah? Untuk itu luruskan lagi niat berpoligami, jangan sampai menggembar-gemborkan niat poligami karena Allah di depan orang, tak taunya berpoligami hanya karena nafsu belaka dengan menikahi gadis yang masih fresh dan muda.


Perbaiki niatmu dalam berpoligami ikhwah fillah. Memang berpoligami dengan menikahi gadis tidaklah dilarang, namun harus benar niat dan tujuannya. Jika sedikit saja niatmu bukan karena Allah, maka pernikahanmu menjadi tidak berpahala, bahkan jika berpoligami hanya karena nafsu belaka, maka mendapatkan dosa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Jangan minder karena menikahi janda, karena menikahi janda memiliki pahala tersendiri di sisi Allah.


Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمَسَاكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَكَالَّذِي يَصُومُ النَّهَارَ وَيَقُومُ اللَّيْلَ


Orang yang berusaha menghidupi para janda dan orang-orang miskin laksana orang yang berjuang di jalan Allah. Dia juga laksana orang yang berpuasa di siang hari dan menegakkan shalat di malam hari. (HR. Bukhari, hadist no. 131).


Maka dari itu yang harus diperhatikan sebelum melakukan poligami adalah niat dalam berpoligami apa dan untuk siapa serta tujuannya apa, dan harus bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya kelak. Jika 2 hal penting ini dia langgar dan tidak sesuai dengan syari’at Islam, maka ingatlah azab Allah sangat pedih dan Allah akan memasukkannya ke dalam neraka yang sangat panas disebabkan perbuatannya yang menyalahi syari’at Islam. Itulah konsekuensi dari salah niat dan tidak bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Maka berhati-hatilah serta berfikirlah lagi sebelum melakukan poligami, karena tanggung jawab yang diemban sangatlah besar dan kelak perbuatannya tersebut akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.