logo

Hukum Tradisi Balimau Kasai Sebelum Ramadhan dalam Islam | Konsultasi Muslim

 


Perlu diketahui bawah Islam tidak melarang adat ataupun tradisi yang ada di masyarakat, selama adat atau tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam. Ada banyak tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia dalam menyambut bulan suci Ramadhan, salah satunya adalah balimau kasai yang dilakukan oleh beberapa tempat di Riau karena bergembira menyambut datangnya Ramadhan. Adapun isi dari Balimau Kasai itu adalah mandi di sungai dengan memakai benin (isi dalam ban motor atau mobil) dan mereka naik di atas benin tersebut. Di dalamnya ada anak-anak dan orang dewasa dan bercampur baur antara laki-laki dan perempuan.


Memang Islam tidak melarang adat istiadat atau tradisi yang ada di masyarakat selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.


Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata di dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa :


وَالْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ لَا يُحْظَرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ


Hukum asal adat (kebiasaan) yang ada di tengah masyarakat tidak dilarang selama tidak dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (tidak bertentangan dengan perintah Allah). (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 4 halaman 196).


Namun tradisi balimau kasai yang terjadi di beberapa tempat sangat bertentangan dengan syariat Islam, di mana di dalamnya bercampur baur antara laki-laki dan perempuan dan bisa menimbulkan mudorot bagi diri mereka sendiri disebabkan mandi di sungai, selain bisa menjadi perantara sakit, sungai tempat balimau kasai juga dalam sehingga bisa saja orang yang ada di sungai tenggelam ataupun hanyut. Padahal di dalam Islam seorang muslim diperintahkan untuk mencegah terjadinya kemudorotan.


Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :


درء المفاسد مقدم على جلب المصالح


Menolak kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat


Artinya daripada dia mandi di sungai terus menyebabkan dia sakit dan bisa menyebabkan tenggelam ataupun hanyut, maka lebih baik tidak melakukannya. Karena di dalamnya juga terdapat kemungkaran yaitu bercampur baur dengan lawan jenis, dan bercampur baur dengan lawan jenis jelas-jelas dilarang di dalam Islam.


Dari Hamzah bin Abi Usaid Al-Anshari, dari bapaknya rodhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


وَهُوَ خَارِجٌ مِنَ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ: اسْتَأْخِرْنَ، فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ» فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ


Di saat beliau keluar dari masjid, sedangkan orang-orang laki-laki bercampur-baur dengan para wanita di jalan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para wanita : “Minggirlah kamu, karena sesungguhnya kamu tidak berhak berjalan di tengah jalan, kamu wajib berjalan di pinggir jalan.” Maka para wanita merapat di dinding sampai bajunya tersangkut di dinding karena rapatnya. (HR. Abu Daud, hadits no. 5272).


Oleh karnanya jika di suatu acara terdapat ikhtilath (bercampur-baur) antara laki-laki dan perempuan, maka tidak diperbolehkan di dalam Islam. Dan acara balimau kasai yang diadakan di sungai tersebut terdapat kemungkaran yaitu bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan serta laki-laki dan perempuan tersebut membuka aurat sehingga haram hukumnya untuk ikut serta di dalamnya.


Dari Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha berkata :


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ، وَيَمْكُثُ هُوَ فِي مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ قَالَ: نَرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَيْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ، قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الرِّجَالِ


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah menucapakan salam setelah shalat, jama’ah wanita ketika itu berdiri. Beliau tetap duduk di tempat beliau sebentar sebelum berdiri. Az-Zuhri berkata : kami melihatnya wallahu a’lam. hal itu dilakukan supaya perempuan bubar lebih dulu sebelum berpapasan dengan laki-laki. (HR. Bukhari, hadits no. 870).


Maka dari itu syariat Islam tidak membolehkan laki-laki bercampur baur dengan perempuan, kecuali ada kepentingan-kepentingan tertentu seperti rapat, diskusi dan sebagainya. Namun tetap tidak boleh berduaan tapi berkumpul dengan banyak dalam rapat atau diskusi tersebut. Dan balimau kasai merupakan tradisi yang bertentangan dengan syariat Islam disebabkan bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Sekali lagi, Islam tidak melarang adat istiadat atau tradisi yang ada di tengah-tengah masyarakat, selagi tidak bertentangan syariat Islam. Akan tetapi jika adat atau tradisi tersebut bertentangan dengan syariat Islam, maka wajib ditinggalkan.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.