logo

Hukum Pawang Hujan dalam Islam | Konsultasi Muslim

 


Pawang hujan adalah orang diyakini bisa menahan hujan agar tidak turun ke tempat tertentu, dan sampai saat ini masih banyak orang-orang yang percaya akan hal-hal yang berbau mistis seperti ini. Padahal sudah jelas sekali bahwa tidak ada yang berkuasa menurunkan dan menahan air hujan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab Dialah yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini.


Allah berfirman :


مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Fatir : 2).


Imam Al-Mawardi rohimahullah mengomentari ayat di atas di dalam kitab tafsirnya An-Nukat wal ‘Uyun :


{مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلاَ مُمْسِكَ لَهَا} فيه سبعة تأويلات: أحدها: من خير , قاله قتادة. الثاني: من مطر , قاله السدي. الثالث: من توبة , قاله ابن عباس. الرابع: من وحي , قاله الحسن. الخامس: من رزق وهو مأثور، السادس: من عافية , قاله الكلبي. السابع: من دعاء , قاله الضحاك


(Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya). Mengenai ini ada 7 tafsiran ulama : 1. Rahmat artinya kebaikan, ini pendapat Qotadah. 2. Rahmat arrinya air hujan, ini pendapat As-Sady. 3. Rahmat artinya taubat, ini pendapat Ibnu Abbas. 4. Rahmat artinya wahyu, ini pendapat Hasan Al-Bashri. 5. Rahmat artinya rizki dan ini yang lebih utama. 6. Rahmat artinya kesehatan yang baik, ini pendapat Al-Kalbi. 7. Rahmat artinya do’a, ini pendapat Ad-Dhohhak. (An-Nukat wal ‘Uyun, jilid 4 halaman 462-463).


Berdasarkan perkataan ulama di atas bahwa yang dimaksud Allah menganugerahkan kepada manusia berupa rahmat, salah satu tafsiran ulama adalah air hujan. Di mana tidak ada satupun manusia yang bisa menahan ataupun melepaskan air hujan.


Maka dari itu jika ada yang mengaku bisa menahan air hujan, seperti orang yang disebut pawang, dia mengaku bisa menahan ataupun melepaskan air hujan, maka ini kebohongan belaka, karena Allah sendiri yang membantah dalam surat Fatir ayat 2 di atas bahwa hanya Allah sajalah yang berkuasa melakukan hal tersebut, adapun makhluk Allah, maka tidak mampu melakukannya.


Perlu diketahui, bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui kapan air hujan diturunkan kecuali Allah saja.


Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


مِفْتَاحُ الغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ: لاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي غَدٍ، وَلاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي الأَرْحَامِ، وَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا، وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ، وَمَا يَدْرِي أَحَدٌ مَتَى يَجِيءُ المَطَرُ


Kunci ghaib itu ada 5, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. 1. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang terjadi keesokan harinya. 2. Tidak ada seorang pun mengetahui apa yang terjadi dalam rahim. 3. Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang dia lakukan besok. 4. Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di manakah ia akan mati. 5. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan turunnya hujan. (HR. Bukhari, hadits no. 1039).


Oleh sebab itu tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan turunnya hujan dan kapan berhenti turun, baik makluk yang di langit maupun di bumi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.


Pawang hujan yang diyakini masyarakat bisa menahan air hujan sebenarnya adalah dukun kontemporer, dia melakukan ritual tersebut dengan bersekutu dengan jin, maka ketika dia bersekutu dengan jin, tidak ada yang dia dapatkan melainkan kesesatan semata, para jin tersebut akan tambah menyesatkannya dari jalan yang benar.


Allah berfirman :


وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا


Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin : 6).


Imam Al-Mawardi rohimahullah mengomentari ayat di atas di dalam kitab tafsirnya An-Nukat wal ‘Uyun :


وفي قوله: {فَزَادُوهم رَهقاً} ثمانية تأويلات: أحدها: طغياناً , قاله مجاهد. الثاني: إثماً , قاله ابن عباس وقتادة. يعني إثماً. الثالث: خوفاً , قاله أبو العالية والربيع وابن زيد. الرابع: كفراً , قاله سعيد بن جبير. الخامس: أذى , قاله السدي. السادس: غيّاً , قاله مقاتل. السابع: عظمة , قاله الكلبي. الثامن: سفهاً , حكاه ابن عيسى


Firman Allah : (maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan). Mengenai ini ada 8 tafsiran ulama : 1. Kesewenang-wenangan, ini adalah pendapat Mujahid. 2. Dosa, ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Qottadah. 3. Ketakutan, ini adalah pendapat Abu ‘Aliyah, Ar-Robi’ dan Ibnu Zaid. 4. Kekafiran, ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair. 5. Kerugian, ini adalah pendapat As-Sadi. 6. Kesesatan, ini adalah pendapat Muqotil. 7. Keangkuhan, ini adalah Al-Kalbi. 8. Kebodohan, ini adalah pendapat Ibnu ‘Isa. (An-Nukat wal ‘Uyun, jilid 6 halaman 107).


Nah, begitu pula dengan pawang hujan yang meminta pertolongan kepada para jin agar menahan air hujan, maka jin tersebut menambahkan rasa angkuh di dalam diri pawang hujan tersebut, karena nanti akan merasa bahwa dirinya hebat sebab tidak ada manusia yang bisa melakukannya kecuali dia. Maka akidahnya disesatkan oleh para jin dan jika dia mengakui dirinya bisa menahan air hujan, maka dia telah kafir disebabkan menyelisihi syari’at Islam dan telah menduakan Allah dengan sesembahan yang lain. Ingat ancaman Allah, bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tapi Allah mengampuni dosa selain syirik.


Allah berfirman :


إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa’ : 48).


Oleh karnanya hendaknya pawang hujan bertobat kepada Allah karena telah menduakan Allah dengan makhluk Allah, dan hendaknya juga ummat Islam tidak mempercayai pawang hujan karena jika meyakini bahwa pawang hujan bisa mendatangkan manfaat dan mudorot atau membenarkan ucapan pawang hujan tersebut, maka dia telah kafir.


Dari Abu Hurairah dan Al-Hasan rodhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ


Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu dia membenarkannya, maka dia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad. (HR. Ahmad, hadits no. 9536).


Syekh Al-Arnauth rohimahullah mengomentari hadits di atas :


حديث حسن، رجاله ثقات رجال الصحيح


Hadits Hasan, prowinya Tsiqoh, perowinya Shahih. (Musnad Al-Imaam Ahmad bin Hanbal, jilid 15 halaman 331).


Semoga kita semua dijauhkan dari perbuatan syirik, karena syirik merupakan dosa besar dan dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang apabila dia tidak bertobat kepada Allah sampai mati, maka berarti dia mati dalam keadaan menduakan Allah dengan makhluk dan dia akan dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka jahannam yang sangat panas. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.