logo

Meluruskan Kekeliruan Mengajak Istri Jalan-Jalan Pahalanya Lebih Besar dari I’tikaf di Masjid Nabawi? | Konsultasi Muslim

 


Banyak para istri yang menshare berbagai tulisan yang di dalam tulisan itu membawakan hadist yang seakan-akan ditafsirkan pahala mengajak istri jalan-jalan pahalanya sangat besar sekali, bahkan lebih besar pahalanya daripada I’tikaf di Masjid Nabawi.


Benarkah?


Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


أحب الناس إلى الله تعالى أنفعهم للناس وأحب الأعمال إلى الله عز وجل سرور يدخله على مسلم أو يكشف عنه كربة أو يقضي عنه دينًا أو تطرد عنه جوعًا، ولأن أمشي مع أخ في حاجةٍ أحب إلي من أن اعتكف في هذا المسجد يعني مسجد المدينة شهرًا


Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan. (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, Tanbih Al-Qori’, jilid 1 halaman 202).


Status Hadist :


1. Syekh Ahmad Ad-Duwais rohimahullah mengomentari hadist di atas di dalam kitabnya Tanbih Al-Qori’ :


وهذا إسناد ضعيف جدًا سكين هذا اتهمه ابن حبان فقال: يروي الموضوعات. وقال البخاري: منكر الحديث. وعبد الرحمن بن قيس الضبي مثله أو شر منه قال الحافظ في التقريب: متروك كذبه أبو زرعة وغيره لكن قد جاء بإسناد خير من هذا


Sanad hadist ini sangat lemah. Sakin dicurigai oleh Ibnu Hibban, beliau berkata : Dia meriwayatkan hadist-hadist palsu. Al-Bukhari berkata : Hadist ini munkar. Dan Abdur Rahman ibnu Qays Ad-Dhobi seperti dia atau lebih buruk darinya. Al-Hafiz berkata dalam At-Taqrib : Kebohongan Abu Zara'a dan yang lainnya ditinggalkan, akan tetapi dia datang dengan sanad yang lebih baik dari ini. (Tanbih Al-Qori’, jilid 1 halaman 202).


2. Syekh Al-Albani rohimahullah mengomentari hadist ini di dalam kitabnya Shahih At-Targib wa At-Tarhib :


حسن لغيره


Hadist ini Hasan Lighairihi. (Shahih At-Targib wa At-Tarhib, jilid 2 halaman 359).


Pelajaran yang bisa diambil dari hadist di atas :


1. Dalam hadist di atas tidak sama sekali menyinggung masalah mengajak istri jalan-jalan, namun hadist di atas menerangkan bahwa memenuhi keperluan seorang muslim seperti membayar hutangnya, meringankan bebannya dan yang lainnya.


2. Yang perlu diingat adalah titik poin dari hadist di atas adalah menyenangkan seorang muslim dengan meringannya hajatnya, inilah yang membuat amalan tersebut lebih baik daripada I’tikaf di Masjid Nabawi bukan pada mengajak jalan-jalan.


3. Poin jalan-jalan di sini bukan jalan-jalan yang sia-sia, namun jalan-jalan dalam rangka memenuhi hajat seorang muslim.


4. Jika hadist ini dijadikan acuan oleh para istri agar suaminya mengajak jalan-jalan, maka tidaklah tepat karna hadist ini sifatnya umum dan pada kalimat terakhir hadist di atas sudah dijelaskan berjalan untuk meringankan hajat seorang muslim, bukan hanya sekedar membuatnya senang, tapi ada illatnya yaitu meringankan beban atau hajatnya.


5. Hadist di atas sifatnya umum, yang jika kita tarik dari segi ilmu ushul, maka setiap lafadz umum diperuntukkan untuk umum, tidak bisa dikhususkan kepada sesuatu, kecuali ada dalil yang menerangkan lafadz umum tersebut bisa diamalkan untuk amalan khusus atau tertentu. Selama tidak ada dalil lain yang menjadi penjelasnya, maka dalil umum tetaplah diamalkan secara umum sebagaimana mestinya. Artinya tidak dikhususkan mengajak istri jalan-jalan karena tidak ada lafadz khusus yang menjelaskan seperti itu di dalam hadist di atas.


Untuk itu kurang tepat jika hadist di atas dijadikan acuan oleh para istri untuk mengajak suami jalan-jalan dengan dalih pahalanya lebih besar daripada I’tikaf di Masjid Nabawi, padahal redaksi secara umum hadist di atas adalah berjalan dalam rangka menyenangkan saudara muslim, maksudnya seperti membayar hutang, menghilangkan rasa lapar dan berbagai hajat lainnya. Inilah titik poin hadist di atas, bukan pada jalan-jalan namun tidak ada hajat yang diringankan dari saudara muslim tersebut.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.