logo

Sesuatu yang Diniatkan Ikhlas Karena Allah Akan Kekal Abadi | Konsultasi Muslim



Ketika niat seorang muslim dalam melakukan suatu perbuatan tidak iklas karena Allah, maka terkadang banyak sekali hambatan dalam mengerjakan perbuatan itu. Dan sering sekali tidak langgeng disebabkan niatnya bukan karena Allah, karena segala sesuatu yang diniatkan bukan karena Allah, maka tidak akan kekal. Sebaliknya, sesuatu yang diniatkan ikhlas hanya karena Allah, insyaAllah akan berkekalan sampai kapanpun.


وذكر العلماء أن الإمام ابنَ أبي ذئب مُعاصِرَ الإمام مالك وبلديَّه - قد صنَّف موطّأً أكبرَ من موطأ مالك، حتى قيل لمالك: ما الفائدة في تصنيفك؟ فقال: ما كان لله بقي


Para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Untuk itu, Imam Malik pernah ditanya : “Apa manfaatnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?”Beliau berkata : “Sesuatu yang diniatkan ikhlas hanya karena Allah, pasti akan kekal. (At-Ta’liq Al-Mujaddid ‘ala Muwattho’ Muhammad, jilid 1 halaman 14).


Untuk itu, sebelum melakukan perbuatan apapun, niatkan ikhlas hanya mengharap ridho Allah, dalam mencari rezeki, sedekah, menikah, menuntut ilmu, ataupun amalan baik lainnya, haruslah didasari dengan niat yang ikhlas karena Allah. Ketika seorang muslim meniatkan sedekah, sedekah, menuntut ilmu, menikah dan lain sebagainya semata-mata ikhlas karena Allah, maka akan kekal abadi.


Dia akan mendapatkan keberkahan dalam hartanya jika dia bersedekah ataupun mencari rezeki, dalam rumah tangganya akan mendapatkan keberkahan, serta ilmunya akan barokah dan bermanfaat bagi manusia.


Bagaimana jika ilmu susah masuk ke dalam diri seseorang? Padahal sudah diniatkan karena Allah, bukankah kata Imam Malik sesuatu yang diniatkan karena Allah akan kekal?


Betul sekali. Namun ketika seorang muslim merasa bahwa ilmu susah masuk ke dalam dirinya, maka yang harus dia lakukan adalah :


1. Intropeksi diri, apakah niatnya sudah benar atau belum. Apakah niatnya sudah sepenuhnya ikhlas hanya karena Allah atau masih ada karena selain Allah.


Ketika masih ada di dalam dirinya karena makhluk, maka inilah yang mungkin menjadi penyebab ilmu susah masuk ke dalam dirinya karena niatnya tidak sepenuhnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.


2. Intropeksi diri apakah pernah melakukan dosa atau maksiat, walau sekecil apapun sangatlah berpengaruh terhadap masuknya ilmu ke dalam diri manusia.


Imam Syafi’i rohimahullah pernah kehilangan hafalannya hanya gara-gara tidak sengaja melihat betis seorang perempuan. Kemudian lantas belaiu bertaubat dan hafalannya kembali seperti sediakala.


Beliau juga mengadu kepada gurunya (Waki’) tentang buruknya hafalan beliau, beliau rohimahullah berkata :


شكوت إلى وكيع سوء حفظي فأرشدني إلى ترك المعاصي


وأخبرني بأن العلم نور ونور الله لا يهدى لعاصي


Aku pernah mengadu kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak mungkin diberikan kepada ahli maksiat. (I’anatut Thalibin ‘ala Halli Alfaadzi Fathil Mu’in, jilid 2 halaman 190).


Kadang-kadang, ilmu masuk masuk ke dalam diri orang yang bermaksiat, namun dia akan merasakan 2 hal :


A. Ilmu yang masuk tersebut cepat hilang dari dalam dirinya


B. Ilmu yang dia dapatkan tersebut tidak barokah dan tidak bisa bermanfaat bagi banyak orang


C. Dia susah dalam mengamalkan ilmunya tersebut


Dalam masalah apapun itu, maka niatkan semua ikhlas hanya karena Allah. Karena sekalipun berniat karena Allah, namun tidak disasari dengan keikhlasan, tetap tidak mendapatkan rodho dari Allah Subhanhu wa Ta’ala.


Dari Umar bin Khattab rodhiyallahu ‘anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ


Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang dia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka dia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka dia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang dia niatkan. (HR. Abu Daud, hadist no. 2201).


Berdasarkan hadist di atas, bahwa ketika seseorang meniatkan suatu perbuatan bukan karena Allah, maka dia tetap mendapatkan apa yang dia niatkan, seperti misalnya dia berniat hijrah karena ingin menikahi seorang wanita. Allah mungkin akan memberikan apa yang dia inginkan, dan Allah akan menikahkan dia dengan wanita yang menjadi pilihannya, namun dia tidak mendapatkan pahala dari Allah dari pernikahannya tersebut.


Allah berfirman :


مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا


Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (QS. Al-Isra’ : 18).


Ketahuilah, bahwa jika engkau mencari kehidupan dunia, maka akhirat tak kan kau dapatkan. Akan tetapi jika engkau mencari akhirat, maka dunia akan bersimpuh di telapak kakimu. Artinya dunia akan kau dapatkan dan Allah akan memudahkan untuk mendapatkannya, asalkan niatnya harus benar-benar ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala terlebih dahulu.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.