logo

Hukum Menjadi Pelawak dalam Islam | Konsultasi Muslim

 


Melawak atau bergurau termasuk perkara mu’amalah (yang bersifat duniawi), dan masalah apapun yang termasuk perkara mu’amalah ini dibolehkan di dalam Islam.


Abul Fida’ rohimahullah menyebutkan sebuah qaidah di dalam kitabnya Ruuhul Bayaan :


الأصل فى الأشياء الإباحة


Asal hukum segala sesuatu (dalam perkara mu’amalah) adalah boleh. (Ruuhul Bayaan, jilid 3 halaman 156).


Namun para ulama masih berbeda pendapat tentang hukum melawak karena meninjau dari beberapa faktor, sebab sekalipun melawak termasuk perkara dunia, tapi dengan banyak bergurau akan menyebabkan banyak tertawa, dan akan mengeraskan hati serta akan lalai dari mengingat Allah serta lalai dari memikirkan perkara-perkara yang penting dalam agama.


Berikut pendapat ulama mengenai hukum melawak atau bergurau dalam Islam :


1. Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Adzkar :


قال العلماء: المزاحُ المنهيُّ عنه، هو الذي فيه إفراط ويُداوم عليه، فإنه يُورث الضحك وقسوةَ القلب، ويُشغل عن ذكر الله تعالى والفكر في مهمات الدين، ويؤولُ في كثير من الأوقات إلى الإِيذاء، ويُورث الأحقاد، ويُسقطُ المهابةَ والوقارَ. فأما ما سَلِمَ من هذه الأمور فهو المباحُ الذي كان رسولُ الله (صلى الله عليه وسلم) يفعله، فإنه (صلى الله عليه وسلم) إنما كان يفعله في نادر من الأحوال لمصلحة وتطييب نفس المخاطب ومؤانسته، وهذا لا منعَ قطعاً، بل هو سنّةٌ مستحبةٌ إذا كان بهذه الصفة، فاعتمدْ ما نقلناه عن العلماء وحقَّقناه في هذه الأحاديث وبيان أحكامها، فإنه مما يَعظمُ الاحتياجُ إليه، وبالله التوفيق


Para ulama berkata : bergurau yang terlarang adalah bergurau yang berlebihan dan dilakukan terus-menerus karena menyebabkan tertawa dan mengeraskan hati serta dapat melalaikan dari berdzikir (mengingat Allah) dan lalai dari memikirkan perkara yang penting dalam agama. Dan bergurau sering kali menyakiti perasaan orang lain, memicu kebencian, dan menurunkan wibawa orang lain. Sementara bergurau yang jauh dari sifat-sifat itu dibolehkan seperti bergurau yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melakukannya sesekali untuk kemaslahatan (kepentingan) dan menghibur hati lawan bicara. Untuk ini tidak ada larangan sama sekali. Bahkan bergurau seperti ini sunnah yang dianjurkan bila dilakukan sesuai sifat-sifat gurauan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka peganglah pendapat ulama yang kami nukil, dan kami lengkapi pernyataan ini dengan hadits-hadits yang sekaligus menjelaskan hukum-hukumnya, karena nasehat ini dibutuhkan. Semoga Allah memberi taufiq. (Adzkar, jilid 1 halaman 326).


2. Di dalam kitab Al-Masu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan :


اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ - كَمَا قَال الزُّبَيْدِيُّ - فِي حُكْمِ الْمُدَاعَبَةِ وَالْمِزَاحِ. فَاسْتَبْعَدَ بَعْضُهُمْ وُقُوعَ الْمِزَاحِ مِنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِجَلِيل مَكَانَتِهِ وَعَظِيمِ مَرْتَبَتِهِ، فَكَأَنَّهُمْ سَأَلُوهُ عَنْ حِكْمَتِهِ بِقَوْلِهِمْ: إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا يَا رَسُول اللَّهِ، قَال: إِنِّي لاَ أَقُول إِلاَّ حَقًّا. وَقَال بَعْضُهُمْ: هَل الْمُدَاعَبَةُ مِنْ خَوَاصِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلاَ يَتَأَسَّوْنَ بِهِ فِيهَا؟ فَبَيَّنَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمْ أَنَّهَا لَيْسَتْ مِنْ خَوَاصِّهِ. وَالْمُدَاعَبَةُ لاَ تُنَافِي الْكَمَال، بَل هِيَ مِنْ تَوَابِعِهِ وَمُتَمِّمَاتِهِ إِذَا كَانَتْ جَارِيَةً عَلَى الْقَانُونِ


Para ulama berbeda pendapat sebagaimana pernyataan Az-Zubaidi mengenai gurau dan melawak. Sejumlah ulama menganggap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh dari gurauan dan melawak melihat kedudukan dan martabatnya yang mulia. Ketika para sahabat menanyakan : Apakah engkau bergurau dengan kami ya Rasulallah? Beliau menjawab : “Aku tidak berkata selain kebenaran.” Sebagian sahabat bertanya : apakah gurauan itu khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana mereka tidak boleh mengikutinya? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa becanda itu bukan kekhususan baginya. Gurauan tidak meniadakan kesempurnaan. Bahkan gurauan itu konsekuensi dan pelengkap kesempurnaan bila gurauan berjalan sesuai aturan. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 36 halaman 273).


Berdasarkan pendapat ulama di atas, maka hukum melawak bisa disimpulkan berikut ini :


1. Jika lawakannya atau gurauannya berlebihan atau dilakukan secara terus menerus, sehingga menyebabkan tertawa dan mengeraskan hati serta dapat melalaikan dari berdzikir (mengingat Allah) dan lalai dari memikirkan perkara yang penting dalam agama, maka lawakan seperti ini dilarang di dalam Islam karena melalaikan kewajiban sebagai seorang muslim terhadap Rabnya.


2. Begitu juga jika dia bergurau bisa menyakiti perasaan orang lain, memicu kebencian, dan menurunkan wibawa orang lain, maka lawakan seperti ini juga dilarang di dalam Islam dan haram hukumnya.


3. Akan tetapi, jika lawakannya hanya sekedar menghibur orang lain, tidak ada perbuatan bohong dalam lawakannya, tidak mencela orang lain ataupun menurunkan wibawa orang lain, maka gurauan seperti ini dibolehkan oleh para ulama seperti yang dinukil oleh Imam An-Nawawi di atas.


Untuk itu, sebelum menghukumi lawak atau gurauan seseorang, dilihat dulu illat (sebabnya). Imam Syihabuddin rohimahullah menyebutkan sebuah qaidah di dalam kitabnya Irsyadus Saari Li Syarhi Shahihil Bukhari :


الحكم يدور مع العلة وجودًا وعدمًا


Hukum itu berputar bersama illatnya, baik ketika illatnya ada maupun ketika tidak ada. (Irsyadus Saari Li Syarhi Shahihil Bukhari, jilid 2 halaman 41).


Oleh karnanya, jika dengan dia bergurau atau melawak bisa mengeraskan hati serta dapat melalaikan dari berdzikir (mengingat Allah) dan lalai dari memikirkan perkara yang penting dalam agama, bisa menyakiti perasaan orang lain, memicu kebencian, dan menurunkan wibawa orang lain, maka lawakan seperti ini juga dilarang di dalam Islam dan haram hukumnya.


Namun, jika gurauannya terhindar dari semua yang disebutkan di atas dan hanya semata-mata untuk menghibur orang lain serta tidak terdapat kebohongan di dalam lawakannya, maka hukumnya dibolehkan oleh ulama.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.