logo

Telinga Berdenging Menurut Islam, Benarkah Harus Baca Shalawat? | Konsultasi Muslim

 


Pertanyaan :


Bismillah assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh


Kata guru ngaji ku, bunyi ngiiing di telinga itu adalah suara daun milik kita yang ada di sidratul muntaha saat sedang bergoyang.


Bukan karena angin, hanya saja saat itu sedang tersenggol oleh daun yang jatuh milik seseorang yang telah tuntas menjalani tugasnya alias baru meninggal.


"Jika telinga salah seorang diantara kalian berdenging, maka hendaknya ia mengingat Rasulullah SAW dan membaca shalawat kepadaku dan mengucapkan : dzakarallahu man dzakarani bi khairin

Semoga Allah mengingat orang yang mengingatkan dengan kebaikan (HR. Al Hakim, Ibn As Sinni, At Thabarani).


Apakah ini benar? Dan hadistnya shahih?


Syukron katsir


Dari : Ahda


Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

 

Kalimat yang dimaksud adalah :

 

إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ، وَلْيَقُلْ: ذَكَرَ اللَّهُ مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ

 

Apabila telinga kalian berdenging, hendaklah dia mengingatku, dan membaca shalawat untukku, dan hendaknya dia mengucapkan : Semoga Allah mengingat orang yang mengingatkan dengan mendoakan kebaikan.

 

A. Komentar ulama tentang status hadist di atas :

 

1. Imam Mara’i Al-Maqdisi Al-Hanbali rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Fawaaid Al-Maudhu’ah :

 

سَنَدُهُ ضَعِيفٌ. بَلْ قَالَ الْعَقِيلِيُّ: إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ

 

Sanadnya Dha’if. Akan tetapi Al-‘Aqily berkata : Hadist ini tidak ada asalnya (tidak ada di dalam kitab-kitab hadist). (Al-Fawaaid Al-Maudhu’ah, jilid 1 halaman 133).

 

2. Syekh Abu Ishaq Hijazy rohimahullah berkata di dalam kitabnya An-Nafilah Fill Ahaadits Ad-Dha’ifah wal Bathilah :

 

قلت: وهذا سند واه. ومعمر بن محمد، قال فيه البخاري: ((منكر الحديث)) . وهذا جرح شديد عنده. وقال العقيلي: ((لا يتابع على حديثه، ولا يعرف إلا به)

 

Saya berkata : Sanadnya tidak kokoh. Tentang Ma’mar bin Muhammad, Imam Bukhari berkata : Hadist yang diriwayatkan Munkar. Dan ini merupakan kecacatan yang sangat besar di sisi Imam Bukhari. Al-‘Aqily berkata : Tidak diikuti ucapannya, dan hadist ini tidak diketahui kecuali darinya. (An-Nafilah Fill Ahaadits Ad-Dha’ifah wal Bathilah, jilid 1 halaman 54).

 

3. Syekh Al-Albani rohimahullah berkata di dalam kitabnya Silsilah Al-Haadits Ad-Dha’ifahwal Maudhu’ah :

 

موضوع

 

Hadist palsu. (Silsilah Al-Haadits Ad-Dha’ifahwal Maudhu’ah, jilid 6 halaman 137).

 

Komentar para ulama tentang status hadist di atas sangat jelas bahwa kalimat di atas antara hadist palsu dan hadist dha’if jiddan. Bahkan komentar Imam Bukhari rohimahullah terhadap perowi hadistnya adalah : Munkarul Hadits (hadist darinya diingkari). Dan Al-‘Aqily berkata hadist tersebut tidak ada asalnya.

 

Untuk itu, hadist di atas tidak bisa dijadikan acuan, apalagi sampai diamalkan. Karena para ulama mengecam sanad kalimat di atas, dan bahkan mengatakan hadist palsu.

 

B. Di dalam kalimat di atas tidak disebutkan bahwa bunyi nging di telinga adalah suara daun milik seseorang yang berada di sidratul muntaha saat sedang bergoyang karena tersenggol oleh daun yang jatuh milik orang lain.

 

Pernyataan ini jelas-jelas batil dan tidak ada asalnya, baik dari Al-Qur’an, Hadist ataupun pendapat para ulama.

 

Pernyataan seperti di atas hanya ucapan yang di dengar dari turun-temurun dari nenek moyang dan kemudian disampaikan kepada anak cucunya dan tidak berdasar sama sekali dan tentunya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

 

Oleh karnanya, pernyataan di atas tidak bisa diajarkan apalagi disebarkan kepada masyarakat, karena tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an, Hadist Nabi ataupun pendapat para ulama.

 

C. Waktu bersholawat kepada baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa kapan saja, tidak mesti menunggu telinga harus berdenging dulu. Bahkan kita memang diperintahkan untuk memperbanyak bersholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا

 

Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali. (HR. Muslim, hadist no. 408).

 

Kesimpulan :

 

Kalimat di atas tidak bisa diamalkan karena para ulama mengatakan perowinya diingkari dan bahkan ada ulama yang mengatakan kalimat di atas tidak ada asalnya.

 

Semoga bisa dipahami.

 

Wallallahu Ta’ala a’lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.