logo

Hukum Wanita Haid Memegang Al-Qur'an Terjemahan | Konsultasi Muslim


 

Pertanyaan :


Bismillah, assalamualaikum wr.wb ustd saya izin bertanya,,,


Yg kita telah ketahui bahwasannya wanita yg sedang haid tidak blh memegang alquran,, tetapi kbnykn org jga mengatakan gapapa jika alquran yg memiliki arti, jika difikirkan alquran yg memiliki arti jga termasuk mushaf/lembaran2, dan ada yg mengatakan blh megang alquran tpi yg ada artinya jika ada hujjah seperti dlm menuntut ilmu, mengejar target setoran dll,  ini yg masi bnyk diragukan sehingga bnyk org lebih memilih tidak memegang dan  menghafal  krna takut dosa, tlng diluruskan ustd kegaruan ini.


Syukron wassalamualaikum.wr.wb


Dari : Fulan


Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

 

Orang yang haid dan sedang dalam keadaan junub dilarang membaca Al-Qur'an ataupun memegang Al-Qur'an oleh para ulama.

 

Syekh Muhammad 'Ali As-Shobuni rohimahullah berkata di dalam kitabnya tafsir Rowai'ul Bayaan Ayat Ahkaam minal Qur'an :

 

اتفق العلماء على أن المرأة الحائض يحرم عليها الصلاة،و الصيام،و الطواف،و دخول المسجد،و مس المصحف،و قراءة القرآن،و لا يحل لزوجها أن يقربها حتى تطهر

 

Para ulama mazhab yang 4 bersepakat bahwa wanita haid diharamkan atasnya : shalat, puasa, thawaf, masuk masjid, menyentuh Al-Qur'an, membaca Al-Qur'an, dan jima' (bersetubuh) dengan istri nya tersebut. (Rowai'ul Bayaan Ayat Ahkaam, jilid 1 halaman 283).

 

Bagaimana jika wanita Haid menyentuh tafsir Al-Qur'an? Bolehkah?

 

Di dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan :

 

يَجُوزُ عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ لِلْمُحْدِثِ مَسُّ كُتُبِ التَّفْسِيرِ وَإِنْ كَانَ فِيهَا آيَاتٌ مِنَ الْقُرْآنِ وَحَمْلُهَا وَالْمُطَالَعَةُ فِيهَا، وَإِنْ كَانَ جُنُبًا، قَالُوا: لأِنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ التَّفْسِيرِ: مَعَانِي الْقُرْآنِ، لاَ تِلاَوَتُهُ، فَلاَ تَجْرِي عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْقُرْآنِ

 

Menurut jumhur (mayoritas) ulama, orang yang berhadats (wanita haid atau orang junub) boleh menyentuh kitab-kitab tafsir, membawanya, atau mempelajarinya. Meskipun di sana terdapat ayat-ayat Al-Quran. Para ulama mengatakan : karena sasaran kitab tafsir adalah makna Al-Quran, bukan untuk membaca Al-Quran. Sehingga tidak berlaku aturan Al-Quran. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 13 halaman 97-98).

 

وصرح الشافعية بأن الجواز مشروط فيه أن يكون التفسير أكثر من القرآن لعدم الإخلال بتعظيمه حينئذ ،وليس هو في معنى المصحف.وخالف في ذلك الحنفية،فأوجبوا الوضوء لمس كتب التفسير

 

Ulama Syafi’iyah mengatakan : bahwa bolehnya menyentuh kitab tafsir, dengan syarat jika tulisan tafsirnya lebih banyak dibandingkan teks Al-Qur'an nya, sehingga tidak lagi disebut menyepelekan kemuliaan Al-Qur'an. Dan kitab tafsir tidak disebut mushaf Al-Qur'an.  Sementara ulama mazhab Hanafi memiliki  pendapat berbeda, mereka mewajibkan wudhu’ bagi yang menyentuh kitab-kitab tafsir. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 13 halaman 98).

 

Untuk itu, memegang tafsir Al-Qur'an diperbolehkan oleh para ulama, namun tidak boleh memegang Al-Qur'an yang isinya ayat-ayat Al-Qur'an semua tanpa ada terjemahannya.

 

Bagaimana jika wanita haid tersebut menghafal Al-Qur'an karena takut ketinggalan setoran?

 

Perlu diketahui, bahwa wanita terkena haid itu adalah sebuah fitrah bagi seorang wanita, dan karena haid ini wanita mendapat rukhsoh (keringanan dalam beribadah) kepada Allah seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur'an dan sebagainya.

 

Jadi jika dalam keadaan haid, nikmati saja rukhsoh yang diberikan Allah tersebut.

 

Jika dia tetap menghafal Al-Qur'an, apakah boleh?

 

Ulama mazhab maliki dan beberapa ulama lainnya membolehkan bagi wanita haid menyentuh mushaf Al-Qur'an dengan tujuan membenarkan bacaan Al-Qur'an kepada murid-muridnya. Adapun menghafal Al-Qur'an karena takut ketinggalan setoran tidak termasuk yang diperbolehkan oleh para ulama.

 

Di dalam kitab Syarah Ash-Shoghir 'ala Aqrabil Masalik ila Madzhabil Imam Malik disebutkan :

 

إلَّا لِمُعَلِّمٍ وَمُتَعَلِّمٍ وَإِنْ حَائِضًا لَا جُنُبًا : أَيْ يَحْرُمُ عَلَى الْمُكَلَّفِ مَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، إلَّا إذَا كَانَ مُعَلِّمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا، فَيَجُوزُ لَهُمَا مَسُّ الْجُزْءِ وَاللَّوْحِ وَالْمُصْحَفِ الْكَامِلِ، وَإِنْ كَانَ كُلٌّ مِنْهُمَا حَائِضًا أَوْ نُفَسَاءَ لِعَدَمِ قُدْرَتِهِمَا عَلَى إزَالَةِ الْمَانِعِ. بِخِلَافِ الْجُنُبِ لِقُدْرَتِهِ عَلَى إزَالَتِهِ بِالْغُسْلِ أَوْ التَّيَمُّمِ. وَالْمُتَعَلِّمُ يَشْمَلُ مَنْ ثَقُلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ فَصَارَ يُكَرِّرُهُ فِي الْمُصْحَفِ

 

Kecuali bagi orang yang mengajar atau orang yang belajar meskipun dalam kondisi haid atau junub, artinya haram bagi mukallaf menyentuh mushhaf dan membawanya kecuali dalam kondisi sebagai pengajar atau orang yang belajar maka boleh bagi keduanya menyentuh sebagian  atau papan tulis yang bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an (lauh) dan seluruh mushaf meskipun keduanya dalam keadan haid ata nifas kerena ketidakmampuan keduanya untuk menghilangkan penghalang. Hal ini berbeda dengan orang junub karena kemampuannya untuk menghilangkan penghalang dengan mandi atau tayammum. Dengan begitu menyentuh Al-Qur'an dengan tujuan mengajarkan Al-Qur'an dan membenarkan bacaan Al-Qur'an dibolehkan oleh beberapa para ulama. (Syarah Ash-Shoghir 'ala Aqrabil Masalik ila Madzhab Imam Malik jilid 1 halaman 150).

 

Untuk itu, orang yang mengajar diberikan keringan untuk memegang Al-Qur'an jika diperlukan. Namun tetap memakai alas agar tangannya tidak secara langsung memegang Al-Qur'an, karena itu bagian dari adab seorang muslim terhadap Kitabullah.

 

Hanya saja, zaman sekarang saya rasa sudah bisa menggunakan media yang canggih, sehingga tidak lagi menggunakan Al-Qur'an cetak untuk mengajar. Dan hal ini tentunya lebih selamat, sebab tidak memegang mushaf Al-Qur'an melainkan hanya menampilkan media yang ada tulisan Al-Qur'annya.

 

Bagaimana jika wanita haid tidak mengajar, tapi dia mau mengulang hafalan Qur'annya, Bolehkah?

 

Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Syarah Al-Muhadzab :

 

وأما خوف النسيان فنادر , فإن مدة الحيض غالبا ستة أيام أو سبعة , ولا ينسى غالبا في هذا القدر ; ولأن خوف النسيان ينتفي بإمرار القرآن على القلب , والله أعلم

 

Adapun kekhawatiran seorang wanita haid akan lupanya hapalan Al-Qur'an, maka hal itu sangat jarang terjadi dikarenakan waktu haid biasanya 6 atau 7 hari dan dalam rentang waktu ini biasanya seorang tidak akan lupa hapalannya. Kekhawatiran akan lupanya hapalan bisa ditanggulangi dengan membacanya dalam hati. Wallahu a'lam. (Syarah Muhadzab jilid 2 halaman 357).

 

Jika memang takut hafalannya hilang, maka hanya dibaca di dalam hati saja, tidak dilafadzkan menurut Imam An-Nawawi rohimahullah.

 

Namun untuk menghafal Al-Qur'an, maka hendaklah wanita menjauhinya, karena waktu haid berkisar 6-7 hari saja, maka bersabar menunggu masa suci lebih baik daripada memaksakan diri menghafal Al-Qur'an, sebab tidak menutup kemungkinan dia khilaf, sehingga membacanya secara jahr dan dia berdosa, karena sudah tau dilarang membaca Al-Qur'an dilarang bagi wanita haid dan orang yang junub, tapi dia masih membaca Al-Qur'an dalam keadaan tidak suci. Maka bisa saja dia berdosa.

 

Untuk itu hendaklah dijauhi dan menunggu masa suci saja.

 

Semoga bisa dipahami.

 

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.