logo

Hukum Menyalurkan Zakat Sendiri Tanpa Amil Zakat | Konsultasi Muslim

 


Pertanyaan :


Assalamualaikum uatadz.ijin bertanya.tentang zakat fitrah. yg berhak menerima zakat ada 8 golongan. sebelumnya saya zakat fitrah dikasih langsung sama penerimanya.tidak saya serahkan ke masjid. pas penyerahanya akadnya "ini zakat fitrah fulan bin fulan" berupa 3,5 liter beras sama saya tambahin sembako. Org yg saya kasih zakat fitrah ini saya lihat org yang miskin. janda2 yg sdh tua hidup sendiri, janda yg masih punya ank2 yatim. sama org yg tdk punya pekerjaan karena sdh tua. mereka jd ad yg sebagian rumah masih pd ngontrak. untuk nyekolahin ank jg sekolah yg grastis ditanggung sama donator.


Yang jd pertanyaan saya. mereka yg saya sebutkan itu kn janda tidak termasuk yg 8 golongan itu. saya lihat kategori miskin. mereka bekerja jg ART. gaji dibawah 1,5jt/ bln menaggung kebutuhan satu keluarga. apa sah zakat fitrah saya.saya takut kalo zakat fitrah saya tidak sah dan pahala puasa saya sebulan tidak diterima Allah. karena zakat fitrah saya tidak sah.saya pernah denger klo zakat fitrah tidak sah puasa jg tidak diterima sama Allah. maaf ustadz. terima kasih.

 

Dari : Wiwin Putri

 

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

 

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

 

Memang, pada hakikatnya orang yang berhak menerima zakat itu ada 8 orang.

 

Allah berfirman :

 

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

 

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah : 60).

 

Jika memberikan zakat kepada seorang janda, di mana dia punya pekerjaan dan punya gaji, namun gajinya tersebut tidak bisa mencukupi kebutuhannya, maka dia termasuk orang miskin.

 

Pengertian fakir dan miskin menurut Syekh Al-Ghoniman pengarang kitab Syarah Fathul Majid :

 

والفقير الذي لا يجد الكفاية، يجد بعضها ولكن لا يجد ما يكفي، والمسكين قد يكون عنده مال، وقد يكون عنده أشياء، ولكن هذه التي عنده لا تكفي

 

Fakir itu adalah apa yang dia punya tidak mencukupi kebutuhannya. Dia mendapatkan beberapa harta, akan tetapi tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Sedangkan miskin adalah orang yang kadang-kadang mempunyai harta dan kadang-kadang mempunyai sesuatu, akan tetapi apa yang dia punya ini tidak bisa mencukupi kebutuhannya. (Syarah Fathul Majid jilid 27 halaman 13).

 

Nah, jika si janda mempunyai gaji, namun dengan gajinya tidak bisa mencukupi kebutuhannya, maka dia termasuk orang miskin.


Baca Juga : Hukum Berhubungan Suami Istri di Malam Hari Raya


Akan tetapi, jika dengan gajinya tersebut mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari, untuk makan dan lain sebagainya, maka dia tidak lagi digolongkan orang miskin. Dan jika zakat diserahkan kepada mereka, tentunya zakat tersebut tidak sah. Karena memberikan zakat kepada orang yang mampu.

 

Kecuali janda tersebut tidak punya pekerjaan dan atau uang gajinya tidak bisa mencukupi kebutuhannya sehari-hari, maka janda seperti ini masih termasuk kategori orang miskin.

 

Apakah boleh menyalurkan zakat sendiri?

 

Imam Al-Imroni Al-Yamani As-Syafi'i rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Bayaan Fii Madzhabil Imaam As-Syafi'i :

 

فهل الأفضل أن يفرق زكاتها وزكاة الأموال الباطنة بنفسه، أو يدفعها إلى الإمام؟ اختلف في ذلك أصحابنا:

فمنهم من قال: تفرقته بنفسه أفضل؛ لأنه على يقين من تفرقة نفسه، وعلى شك من تفرقة غيره

 

Apakah yang utama dia membagi zakat fitrah dan zakat harta sendiri atau membayar kepada lembaga zakat? Ulama mazhab kami (Syafi'i) berbeds pendapat tentang itu.

 

Ada dari ulama kami yang mengatakan dia membayar sendiri lebih afdhol karena dia yakin zakatnya sampai kepada orang yang berhak menerimanya dan dia ragu jika dibagikan oleh orang lain. (Al-Bayaan Fii Madzhabil Imaam As-Syafi'i, jilid 3 halaman 390).

 

Jadi, membagikan zakat sendiri kepada orang yang berhak menerimanya memang diperbolehkan. Namun yang menjadi catatan adalah ketika membagikan harus benar-benar tau siapa yang pantas menerimanya dan siapa yang tidak.


Baca Juga : Hukum Mengidolakan Artis Korea dalam Islam


Oleh sebab itu untuk ke hati-hatian, hendaklah menyerahkan zakat kepada lembaga yang menerima zakat agar disalurkan kepada orang yang berhak menerimanya. Daripada salah membagikan.

 

Adapun kasus di atas, jika jandanya hidup dalam berkecukupan dengan uang gaji yang dia miliki, maka dia bukan lagi termasuk orang miskin, apalagi fakir dan apabila diserahkan kepadanya zakat, zakatnya tidak sah.


Baca Juga : Ibu Hamil dan Menyusui, Qadha Puasa atau Bayar Fidyah?


Adapun masalah diterima atau tidaknya Allahu a'lam. Itu semua dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

 

Semoga bisa dipahami.

 

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.