logo

Hukum Menonton Film Bajakan dalam Islam | Konsultasi Muslim

 


Pada asalnya menonton film itu hukumnya boleh, karena termasuk perkara mu’amalah (yang berkaitan dengan kehidupan duniawi).


Imam As-Suyuthi rohimahullah menyebutkan sebuah qoidah ushul fiqh di dalam kitabnya Al-Asbah wa An-Nazhoir :


الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم


Hukum asal segala sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang mengharamkannya. (Al-Asbah wa An-Nadzoir, jilid 1 halaman 60).


Akan tetapi, jika dia menonton film dengan cara yang melanggar syariat Islam, maka yang semula hukumnya boleh bisa berubah menjadi haram.


Mengenai hukum menonton film bajakan dalam Islam di sini hukumnya dibagi menjadi 2 bagian :


1. Hukum bagi (pembajak) membajak video kemudian dijual atau di upload di website, baik untuk memperoleh keuntungan ataupun tidak.


Membajak video orang lain, kemudian mengupload ke website khusus film hukumnya haram, karena hal ini melanggar kekayaan intelektual dan sama dengan mencuri karya orang lain.


Keharamannya sebagai berikut :


A. Memakan harta orang lain dengan cara yang batil.


Allah berfirman :


وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ


Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 188).


Membajak dan menjual barang milik orang lain untuk mendapatkan keuntungan termasuk memakan harta orang lain, karena didapat dari menjual barang milik orang lain dan diharamkan di dalam Islam. Dan tidak halal memakan harta orang lain kecuali dengan izinnya.


Dari ‘Aly bin Zaid, dari ayahnya Hurroh Ar-Roqosy dari pamannya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ


Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya. (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro, hadist no. 11545).


Menurut syekh Al-Albani hadist ini shahih sebagaimana disebutkan di dalam kitabnya Shahih wa Dha’if Al-Jami’ As-Shogir wa Ziyadatuhu, jilid 1 halaman 13620).


B. Membajak dan mengkomersilkan barang milik orang lain termasuk kezaliman, karena bisa merugikan pemiliknya dan tentunya dilarang oleh syariat Islam.


Dari Sa’id bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ ظُلْمًا، فَإِنَّهُ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ


Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan 7 bumi kepadanya. (HR. Muslim, hadist no. 1610).


Syekh Hamzah Muhammad Qosim mengomentari hadist di atas di dalam kitabnya Manar Al-Qory Syarah Mukhtashar Shahih Al-Bukhari :


التحذير الشديد من السطو على أرض الغير وأخذ شيء منها ظلماً، والوعيد الشديد لمن فعل ذلك بالخسف به يوم القيامة


Peringatan yang keras terhadap pencurian tanah milik orang lain dan mengambilnya secara zalim. Dan ancaman yang keras bagi siapa saja yang melakukan itu dengan membenamkannya di dalam neraka pada hari kiamat nanti. (Manar Al-Qory Syarah Mukhtashar Shahih Al-Bukhari, jilid 4 halaman 149).


2. Hukum bagi penonton film bajakan


Orang yang menonton film bajakan di website ataupun di aplikasi tertentu seperti Layar Kaca 21, IndoXXI, Lebah Movie ataupun website film ilegal lainnya, dan dia tau kalau website penyedia film gratis tersebut ilegal, maka hukumnya juga haram dan berdosa, karena dia sudah mengetahui bahwa film yang diupload di website tersebut adalah film bajakan yang bisa merugikan pemilik aslinya. Sedangkan di dalam Islam kita diperintahkan untuk menjauhi mudorot atau hal yang bisa menimbulkan kerugian bagi orang lain.


Oleh karnanya, keharaman menonton film bajakan ada 2 :


1. Bisa merugikan pemegang hak cipta film/pemilik asli.


Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ


Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain. (HR. Ahmad, hadist no. 2865).


Syekh Sy’uaib Al-Arnauth rohimahullah mengomentari status hadist di atas di dalam Musnad Ahmad :


حسن


Derajatnya Hasan. (Musnad Ahmad, jilid 5 halaman 55).


Artinya, tindakan dia menonton film di website ilegal berdampak kerugian  bagi pemilik film aslinya, itulah mudorot yang ditimbulkan dari menonton film bajakan yang disediakan oleh situs-situs tersebut. Dan tentunya merugikan orang lain adalah perbuatan tercela dan berdosa.


2. Membantu situs ilegal tersebut dalam berbuat kejahatan karena merugikan pemilik filmnya.


Seorang muslim harus menghindari menonton film bajakan di situs ilegal, karena ketika dia menonton film bajakan di situs ilegal tersebut, sama saja dia membantu dalam hal kejahatan, kenapa? karena perbuatan tersebut bisa merugikan pemilik asli filmnya.


Allah berfirman :


وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ


Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah : 2).


Untuk itu, nasehat kami kepada setiap penikmat film, jika ingin menonton film, maka perhatikan 3 hal di bawah ini :


1. Tontonlah film yang tidak menampakkan aurat di dalam film tersebut.


2. Dengan menonton film, tidak melalaikan kewajiban seorang muslim, baik shalat, mencari nafkah ataupun yang lainnya.


3. Jika ingin menonton film, maka silahkan berlangganan kepada situs resminya, dan sekarang sudah banyak situs resmi yang menyediakan film hasil produksi sendiri, namun tentunya harus membayar setiap bulannya.


Bagaimana jika film atau video diupload oleh pemegang hak cipta ke media sosial, apakah boleh menontonnya?


Tentunya boleh karena diupload oleh pemegang hak ciptanya. Hanya saja terkadang yang diupload tersebut hanya potongan video saja. Ada juga yang menjadikan videonya ber part. Part 1,2,3 dan seterusnya. Karena sekarang dengan mengupload video bisa mendapatkan keuntungan dari iklan yang ditampilkan di video tersebut.


Dan boleh jadi salah satu alasan pemegang hak cipta mengupload videonya karena berfikir, daripada video lama hanya disimpan dan diupload oleh orang lain, bisa merugikan mereka, lebih baik diupload dalam bentuk part, biar semakin banyak ditonton, semakin banyak iklan yang ditampilkan dan semakin banyak penghasilan. Boleh jadi begitu. Allahu a’lam.


Semoga penyedia film bajakan di situs ataupun aplikasi tidak lagi mengulang kesalahannya dan bagi penonton film tidak lagi menonton film bajakan di situs-situs ilegal setelah membaca artikel ini. Aamiin.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.