logo

Hukum Brobosan, Lewat di Bawah Keranda Mayit dalam Islam, Bolehkah? | Konsultasi Muslim

 


Perlu diketahui, bahwa Islam tidak melarang adat (kebiasaan) atau tradisi yang ada di masyarakat. Selama adat dan tradisi masyarakat tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam.


Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata di dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa :


وَالْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ لَا يُحْظَرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ


Hukum asal adat (kebiasaan) yang ada di tengah masyarakat tidak dilarang selama tidak dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (tidak bertentangan dengan perintah Allah). (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 4 halaman 196).


Berdasarkan perkataan Imam Ibnu Taimiyah di atas bahwa hukum adat ataupun tradisi itu boleh, selama tidak bertentangan dengan perintah Allah. Akan tetapi, jika suatu adat atau tradisi bertentangan dengan syariat Islam, maka adat tersebut tidak boleh dilanjutkan.


Sama halnya dengan Brobosan (lewat di bawah keranda mayit) dalam rangka untuk menghormatinya dan di beberapa tempat ada juga yang meyakini bahwa lewat di bawah keranda mayit ketika mau di bawa ke pemakaman agar tidak memimpikan mayit serta tidak mengingat mayit tersebut. Dan ada juga yang berkeyakinan melakukan tradisi Brobosan ini agar semua kebaikan si mayit semasa hidupnya menurun ke anak cucunya.


Kepercayaan seperti ini tentunya tidak berdasar sama sekali, dan tradisi seperti ini hanya dilakukan karena turun-temurun dari nenek moyang yang tidak entah seperti asal muasalnya. Yang jelas di dalam Islam tidak diperintahkan melakukan perbuatan seperti ini bahkan seorang muslim diperintahkan untuk meninggalkan ajaran nenek moyang.


Allah berfirman :


وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ


Dan apabila dikatakan kepada mereka : "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab : "Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami". "Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. Al-Baqarah : 170).


Oleh sebab itu, ada beberapa perincian mengenai hukum Brobosan dalam Islam :


1. Jika dia berkeyakinan bahwa ketika dia melakukan brobosan (lewat di bawah keranda mayit) bisa mendatangkan manfaat, seperti agar tidak memimpikan si mayit atau agar keluarga tidak mengingatnya, maka sama saja meyakini bahwa makhluk Allah bisa mendatangkan manfaat dan mudorot, maka hukumnya haram, karena tidak ada satu makhluk pun yang bisa mendatangkan manfaat dan mudorot di dunia ini kecuali Allah.


Allah berfirman :


قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ


Katakanlah : "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS. Al-A’raf : 188).


2. Jika berkeyakinan tradisi seperti ini harus dilakukan bahkan dianggap wajib, maka hukumnya haram, karena hukum asal tradisi itu boleh selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Jika berkeyakinan wajib bahkan meyakini bisa mendatangkan manfaat jika dilakukan ataupun bisa mendatangkan mudorot jika tidak dilakukan, maka haram hukumnya. Karena Allah sajalah yang bisa mendatangkan manfaat dan mudorot.


3. Jika dia tidak berkeyakinan apapun dengan tradisi brobosan tersebut, tapi hanya sekedar menjalankan tradisi saja dan tidak percaya dengan apapun yang berkenaan dengan tradisi brobosan tersebut, serta hanya untuk menghindari celaan dari masyarakat, maka pada dasarnya boleh dilakukan.


Akan tetapi jika ada satu saja keyakinan di dalam hatinya melakukan brobosan tersebut, seperti agar tidak ingat kepada si mayit dan sebagainya, maka berarti kembali ke awalnya, bahwa dia melakukan itu karena berkeyakinan yang dia lakukan itu bisa mendatangkan manfaat, maka haram hukumnya.


Saran kami tidak melakukan perbuatan brobosan ini, karena tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an dan Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekalipun tidak meyakini apapun ketika melakukannya misalnya, tetap saja untuk menjaga aqidah, seorang muslim meninggalkan perbuatan brobosan ini, karena tidak diperintahkan di dalam Islam.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.