logo

Panduan Lengkap Shalat Idul Adha, Tata Cara, Niat, Hukum dan Waktu Pelaksanaan | Konsultasi Muslim



Sebentar lagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia akan melaksanakan shalat Idul Adha, oleh sebab itu seorang muslim perlu mengetahui bagaimana tata cara, niat dan waktu pelaksanaan shalat Idul Adha.


1. Hukum shalat Idul Adha


Hukum shalat idul adha adalah sunnah bagi laki-laki dan perempuan


Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab :


قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّهَا سُنَّةٌ مُتَأَكِّدَةٌ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَدَاوُد وَجَمَاهِيرُ الْعُلَمَاءِ وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِ أَبِي حَنِيفَةَ فَرْضُ كِفَايَةٍ وَعَنْ أَحْمَدَ رِوَايَتَانِ كَالْمَذْهَبَيْنِ


Sebagaimana yang telah kami sebutkan, bahwa shalat id hukumnya sunnah muakkad menurut mazhab kami, dan ini juga yang menjadi pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, Daud dan Jumhur (mayoritas ulama). Dan menurut pendapat sebagian murid Imam Abu Hanifah shalat id hukumnya Fardu Kifayah, sedangkan menurut Imam Ahmad ada 2 riwayat seperti 2 mazhab. (Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, jilid 5 halaman 3).


2. Sunnah sebelum shalat Idul Adha


A. Mandi.


Imam Ibnu Rusyd rohimahullah berkata di dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid :


أجمع العلماء على استحسان الغسل لصلاة العيدين، وأنهما بلا أذان ولا إقامة


Para ulama sepakat mereka menyukai mandi sebelum shalat id, dan shalat id (Idul Fitri dan Idul Adha) tanpa adzan dan iqomah. (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, jilid 1 halaman 317).


B. Tidak makan apapun sebelum shalat Idul Adha sampai pulang ke rumah.


Dari Abdullah bin Buraidah rodhiyallahu ‘anhu, dari Ayahnya berkata :


كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ، وَلَا يَأْكُلُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat id pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan kecuali setelah pulang dari shalat id baru beliau menyantap hasil qurbannya. (HR. Ahmad no. 22984).


Syekh Syu’aib Al-Arnauth rohimahullah mengomentari hadist ini di dalam Musnad Ahmad :


حديث حسن


Hadist ini derajatnya Hasan. (Musnad Ahmad, jilid 38 halaman 88).


3. Niat shalat Idul Adha


Niat shalat Idul Adha bisa menggunakan bahasa Indonesia di dalam hati :



“Aku berniat shalat sunnah Idul Adha 2 raka’at, menghadap kiblat sebagai makmum, karena Allah Ta’ala”


Namun jika mau menggunakan bahasa Arab juga tidak masalah, niat dalam bahasa Arabnya adalah :


أُصَلِّيْ سُنَّةً  لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالَى


Usholli Sunnatan Li ‘Iidil Adha Rok’ataini Mustaqbilal Qiblati Ma’muman Lillahi Ta’ala.


Artinya : “Aku berniat shalat sunnah Idul Adha 2 raka’at, menghadap kiblat sebagai makmum, karena Allah Ta’ala.”


Niat dalam bahasa apapun sah, baik dia memakai bahasa Indonesia, bahasa Arab, bahkan bahasa daerah pun sah, karena tidak ada aturan mengenai niat, dan niat tempatnya di dalam hati, jadi bisa berniat dengan bahasa apapun seperti layaknya berdo’a.


Ketika seseorang berdo'a kepada Allah, maka dia diharuskan berdo'a dengan bahasa yang dia pahami. Baik bahasa Indonesia maupun bahasa kampung nya sendiri. Dengan syarat dia mengerti apa yang dia ucapkan.


Begitu juga dengan niat, niat bisa dengan bahasa apapun. Baik berniat dengan bahasa arab maupun dengan Bahasa sehari hari.


Kenapa? Karena sesungguhnya niat itu tempatnya di hati. Maka ketika dilafazkan dengan bahasa selain Arab pun boleh hukumnya.


Imam Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Al-Majmu' :


قال المصنف رحمه الله (ثم ينوى والنية فرض من فروض الصلاة لقوله صلى الله عليه وسلم " إنما الاعمال بالنيات ولكل امرئ ما نوى " ولانها قربة محضة، فلم تصح من غير نية كالصوم. ومحل النية القلب فان نوى بقلبه دون لسانه أجزأه. ومن اصحابنا من قال: ينوى بالقلب ويتلفظ باللسان. وليس بشئ لان النية هي القصد بالقلب)


Niat adalah wajib karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Amal harus berdasar niat. Dan karena shalat itu ibadah murni maka tidak sah tanpa niat sebagaimana puasa. Tempat niat adalah hati. Apabila niat dengan hati tanpa lisan maka itu sudah cukup (sah). (Al-Majmu’, jilid 3 halaman 276).

4. Takbir shalat Idul Adha


Imam Ibnu Rusyd rohimahullah berkata di dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid :


1. Menurut Imam Malik


ذهب مالك إلى أن التكبير في الأول من ركعتي العيدين سبع، مع تكبيرة الإحرام قبل القراءة، وفي الثانية : ست مع تكبيرة القيام من السجود


Imam Malik berkata : Takbir pada raka’at pertama berjumlah 7, termasuk takbirotul Ihrom sebelum membaca bacaan. Sedangkan raka’at kedua berjumlah 6 takbir termasuk takbir berdiri dari sujud raka’at pertama.


Rinciannya :


A. Takbir raka’at pertama : 6 (tidak termasuk takbirotul ihrom)


Jika termasuk takbirortul ihrom (takbir pembuka shalat), maka berjumlah 7 takbir


B. Takbir raka’at kedua : 5 (tidak termasuk takbirotul ihrom)


Jika termasuk takbirortul ihrom (takbir pembuka shalat), maka berjumlah 6 takbir


2. Menurut Imam Syafi’i


وقال الشافعي : في الأولى ثمانية، وفي الثنية ست، مع تكبيرة القيام من السجود


Imam Syafi’i berkata : Pada raka’at pertama berjumlah 8 takbir termasuk takbirotul ihrom, Sedangkan pada raka’at kedua berjumlah 6 takbir, termasuk takbir berdiri dari sujud raka’at pertama.


Rinciannya :


A. Takbir raka’at pertama : 7 (tidak termasuk takbirotul ihrom)


Jika termasuk takbirortul ihrom (takbir pembuka shalat), maka berjumlah 8 takbir


B. Takbir raka’at kedua : 5 (tidak termasuk takbirotul ihrom)


Jika termasuk takbirortul ihrom (takbir pembuka shalat), maka berjumlah 6 takbir


(Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, jilid 1 halaman 318).


5. Waktu pelaksanaan shalat Idul Adha


Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab :


ووقتها ما بين طلوع الشمس إلى ان تزول والافضل ان يؤخرها حتى ترتفع الشمس


Waktu pelaksanaannya adalah di antara terbit matahari sampai tengah hari, dan yang lebih utama adalah ditunda sampai matahari naik. (Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, jilid 5 halaman 3).


Imam Ibnu Rusyd rohimahullah berkata di dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid :


واتفقوا على أن وقتها من شروق الشمس إلى الزوال


Para ulama sepakat bahwa waktu pelaksanaan shalat id adalah dari terbit matahari, sampai tengah hari. (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, jilid 1 halaman 320).


6. Tidak ada Adzan dan Iqomah ketika shalat Idul Adha


Imam Ibnu Rusyd rohimahullah berkata di dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid :


وأنهما بلا أذان ولا إقامة


Dan shalat id (Idul Fitri dan Idul Adha) tanpa adzan dan iqomah. (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, jilid 1 halaman 317).


7. Tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat id


Imam Ibnu Rusyd rohimahullah berkata di dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid :


واختلفوا في التنفل قبل صلاة العيد، وبعدها : فالجمهور على أنه لا يتنفل لا قبلها ولا بعدها، وهو مروي عن علي بن ابن طالب، وابن مسعود، وحذيفة، وجابر، وبه قال أحمد


Para ulama berbeda pendapat tentang shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat id. Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat id. Dan ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Jabir dan juga Ahmad berkata sperti ini. (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, jilid 1 halaman 322).


8. Tata cara pelaksanaan shalat Idul Adha


Pertama : Berniat terlebih dahulu.


Kedua : Takbirotul Ihrom sebagaimana shalat pada umumnya. Takbir pada raka’at pertama sebanyak 7 kali.


Ketiga : Bertakbir dengan membaca :


سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ


Subhanallah wal hamdulillah, wala ilaaha illallah wallahu Akbar


Artinya : Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar


Keempat : Membaca Al-Fatihah dan membaca surat yang dia bisa dari Al-Qur’an. Baik membaca surat Al-A’la pada raka’at pertama dan Al-Ghosiyah pada raka’at kedua. Atau boleh membaca sura tapa saja yang dihafal.


Kelima : Kemudian melakukan Gerakan shalat seperti biasanya (Ruku’, I’tidal, Sujud) dan Gerakan lainnya hingga berdiri lagi.


Keenam : Pada rakaat kedua bertakbir sebanyak 5 kali (tidak termasuk takbir ketika bangkit dari sujud). Jika dengan takbir bangkit dari sujud sebanyak 6 kali.


Ketujuh : Bertakbir dengan membaca :


سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ


Subhanallah wal hamdulillah, wala ilaaha illallah wallahu Akbar


Artinya : Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar


Kedelapan : Membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya, bisa membaca surat al-Ghosiyah atau surat yang dihafal dari Al-Qur’an.


Kesembilan : Melakukan Gerakan shalat seperti biasa sampai salam.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.