logo

Di dalam Hati Tidak ada Alquran, diibaratkan Rasulullah seperti Rumah yang Rusak | Konsultasi Muslim



Membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya merupakan sebuah keharusan bagi seorang muslim dan muslimah, karena Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup bagi seluruh kaum muslimin.


Allah berfirman :


إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا


Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS : Al-Isra’ : 9).


Dari Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ


Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari, hadist no. 5027).


Oleh karnanya Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup bagi orang yang membaca sekaligus mengamalkan apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Namun, jika dia tidak mengamalkan apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an, maka dia tidak akan mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an tersebut. Apalagi orang-orang yang di dalam hatinya tidak ada Al-Qur’an, artinya dia tidak pernah membaca Al-Qur’an, mengamalkan Al-Qur’an, bahkan dia sama sekali tidak pernah memegang Al-Qur’an, dan apabila di dalam dirinya tidak ada Al-Qur’an, maka dia diibaratkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti rumah yang rusak.


Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ القُرْآنِ كَالبَيْتِ الخَرِبِ


Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada Al-Qur’an walaupun sedikit, dia itu seperti rumah yang rusak. (HR. At-Tirmidzi, hadist no. 2913).


Imam At-Tirmidzi rohimahullah mengomentari hadist ini :


هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ


Hadist ini Hasan Shahih. (Sunan At-Tirmidzi, jilid 5 halaman 27).


Na’udzubillah, begitulah keadaan seorang muslim jika di dalam dirinya tidak ada sedikitpun dari Al-Qur’an, dia diibaratkan seperti rumah yang rusak. Di mana rumah yang rusak itu tidak bisa ditempati, apalagi digunakan untuk tempat beristirahat, sungguh tidak mungkin, karna rumah yang rusak itu tidak bisa difungsikan untuk apapun. Begitulah keadaan manusia jika di dalam dirinya tidak ada Al-Qur’an sedikitpun, dirinya ibarat rumah yang rusak dan di mana dirinya tidak bisa berfungsi dengan baik, ketika ada suatu hal yang menimpanya, seperti cobaan dan sebagainya, maka dirinya akan roboh. Begitulah keadaan seorang muslim yang diumpamakan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti rumah yang rusak.


Bacalah Al-Qur’an walaupun sedikit, karena orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapat pahala di sisi Allah, dan kelak di hari kiamat, Al-Qur’an akan datang sebagai syafaat baginya.


Dari Abu Umamah Al-Bahily rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ


Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at kepada orang yang membacanya. (HR. Muslim, hadist no. 804).


Dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الْم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ


Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf. (HR. At-Tirmidzi, hadist no. 2910).


Imam At-Tirmidzi rohimahullah mengomentari hadist ini :


هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الوَجْهِ


Hadist ini Hasan Shahih Gharib dari jalur ini. (Sunan At-Tirmidzi, jilid 5 halaman 175).


Maksud Gharib adalah bahwa salah seorang periwayatnya tidak dikenal, karena meriwayatkan hadist seorang diri. Namun di awal Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadist ini Hasan Shahih.


Maka dari itu, jangan sampai seorang muslim seperti yang diumpamakan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu laksana sebuah rumah yang rusak. Karena segala sesuatu yang rusak sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya, dan jika sudah tidak berfungsi, maka tidak ada gunanya lagi, walaupun rumah tersebut tetap berdiri tegak, namun ketika bangunannya rusak, maka tidak berguna sama sekali. Begitulah diri seorang muslim, jangan sampai diri seorang muslim rusak, sebab tidak di isi dengan petunjuk Al-Qur’an, karena jika diri tidak diisi dengan petunjuk Al-Qur’an, maka bisa tersesat dari jalan yang benar, dan bisa-bisa dia jauh dari ridho dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka bacalah Al-Qur’an, kemudian amalkan apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an tersebut.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.