logo

Hukum Mengelap Wajah Setelah Berwudhu, Bolehkah? | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :


Assalamu'alaikum ustadz, izin bertanya.. apa boleh/tidak dianjurkannya setelah berwudhu hendak shalat itu mengelap wajah dengan kain/handuk supaya air wudhu tidak bercucuran basah kena mukena? Mohon penjelasannya ustadz, syukron.


Dari : Annisa


Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.


Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum mengelap wajah setelah berwudhu'.

 

1. Mazhab Syafi'i mengatakan sunnah untuk tidak mengelap wajah setelah berwudhu'.

 

Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzab :

 

فِي مَذَاهِبِ السَّلَفِ فِي التَّنْشِيفِ قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الصَّحِيحَ فِي مَذْهَبِنَا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ تَرْكُهُ وَلَا يُقَال التَّنْشِيفُ مَكْرُوهٌ وَحَكَى ابْنُ الْمُنْذِرِ إبَاحَةَ التَّنْشِيفِ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ وَالْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَبَشِيرِ بْنِ أَبِي مَسْعُودٍ وَالْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَابْنِ سِيرِينَ وَعَلْقَمَةَ وَالْأَسْوَدِ وَمَسْرُوقٍ وَالضَّحَّاكِ وَمَالِكٍ وَالثَّوْرِيِّ وَأَصْحَابِ الرَّأْيِ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ وَحَكَى كَرَاهَتَهُ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَالنَّخَعِيِّ وَمُجَاهِدٍ وَأَبِي الْعَالِيَةِ وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ كَرَاهَتُهُ فِي الْوُضُوءِ دُونَ الْغُسْلِ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ كُلُّ ذَلِكَ مُبَاحٌ وَنَقَلَ الْمَحَامِلِيُّ الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّهُ لَا يَحْرُمُ وَإِنَّمَا الْخِلَافُ فِي الْكَرَاهَةِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

 

Dari beberapa pendapat mazhab salaf yang telah kami sampaikan, bahwa pendapat yang shahih menurut mazhab kami adalah "sunnah untuk tidak mengelap air bekas wudhu yang tersisa di anggota wudhu", akan tetapi tidak berarti jika mengelapnya dihukumi makruh. Adapun menurut Ibnu Mundzir dari Utsman bin Affan dari Hasan bin Ali dari Anas bin Malik, Basyir bin Abi Mas’ud, Hasan Basri, Ibnu Sirin, Alqamah, Aswad, Masruq, Dhahak, Tsauri, Ahli ra’y, Ahmad dan Ishaq menghukuminya dengan boleh. Sementara menurut Jabir bin Abdullah, Abdurrahman bin Abi Laila, Said bin Musayyab, Nakha’i, Mujahid, Abi Aliyah, Ibnu Abas mengelapnya dihukumi makruh, namun hanya bagi wudhu saja, tidak bagi mandi. Sedangkan menurut Ibnu Mundzir, baik bagi wudhu maupun mandi sama saja, semuanya boleh mengelapnya. Menurut Al-Mahalli yang menuqil pendapat ijma', tidak ada yang mengharamkan mengelap bekas wudhu', hanya saja berbeda pendapat dalam kemakruhannya. Wallahu a'lam. (Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzab, jilid 1 halaman 462).

 

Pendapat mazhab Syafi'i yang mengatakan sunnah tidak mengelap air bekas wudhu' karena baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam suatu waktu dibawakan handuk oleh Ummul Mukminin Maimunah rodhiyallahu 'anha, namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menolaknya.

 

Ummul Mukminin Maimunah rodhiyallahu 'anha berkata :

 

ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ فَرَدَّهُ

 

Kemudian aku ambilkan kain untuk beliau, namun beliau menolaknya. (HR. Muslim, hadist no. 317).

 

Maka berdasarkan dalil inilah Imam An-Nawawi mengatakan disunnahkan untuk meninggalkan dari mengelap anggota-anggota wudhu'.

 

2. Mazhab Maliki mengatakan bahwa mengelap wajah setelah berwudhu' tidak mengapa.

 

Imam Al-Qurtubi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Bayan wa At-Tahshil :

 

وسئل مالك عن الرجل يجعل الخرقة يمسح بها وجهه عند وضوئه، قال: لا بأس بذلك، وأنا أفعل ذلك

 

Imam Malik pernah ditanya tentang seseorang lelaki yang mengusap wajahnya ketika berwudhu', maka Imam Malik berkata : "Tidak mengapa melakukan itu, karna saya pun melakukannya. (Al-Bayan wa At-Tahshil, jilid 1 halaman 86).

 

3. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa mengelap wajah setelah berwudhu' tidak mengapa.

 

Imam Badruddin Al-'Ainy rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Banayah Syarah Al-Hidayah :

 

ثم اختلف العلماء في التنشيف والمسح بالمنديل أو الخرقة بعد الوضوء: فمذهبنا لا بأس به، حكى ابن المنذر إباحته عن عثمان بن عفان، والحسين بن علي، وأنس بن مالك، وبشير بن أبي مسعود، والحسن البصري، وابن سيرين، وعلقمة، والأسود، ومسروق، والضحاك، ومالك، والثوري، وأحمد، وإسحاق

 

Kemudian para ulama berbeda pendapat mengenai masalah mengusap air wudhu' dengan kain setelah berwudhu', maka menurut mazhab kami tidak mengapa melakukan itu. Dan menurut Ibnu Mundzir hukumnya boleh, dan ini pendapat Utsman bin Affan, Al-Husain bin Ali, Anas bin Malik, Basyir bin Abi Mas'ud, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, 'Alqomah, Al-Aswad, Masruq, Ad-Dhokhak, Malik, At-Tsauri, Ahmad dan Ishaq. (Al-Banayah Syarah Al-Hidayah, jilid 1 halaman 253).

 

Adapun dalil para ulama yang mengatakan bolehnya mengelap wajah setelah berwudhu' adalah hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Salman Al-Farisi rodhiyallahu 'anhu.

 

Dari Salman Al-Farisi rodhiyallahu 'anhu berkata :

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ، فَقَلَبَ جُبَّةَ صُوفٍ كَانَتْ عَلَيْهِ، فَمَسَحَ بِهَا وَجْهَهُ

 

Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu', kemudian membalik jubah wol beliau dan mengusap wajahnya dengannya. (HR. Ibnu Majah, hadist no. 468).

 

Inilah pendapat para ulama mengenai hukum mengelap wajah setelah berwudhu'.

 

Oleh sebab itu, silahkan kerjakan dan ikuti pendapat mana saja yang diyakini. Karna mengikuti pendapat mana pun di atas insyaAllah selamat karena para ulama berpendapat berdasarkan dalil dan para ulama yang berpendapat adalah ulama yang memang berkompeten di bidangnya. Jadi silahkan pilih pendapat mana saja yang diyakini.

 

Semoga bisa dipahami.

 

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.