logo

Bahaya Belum Mengaqiqahi Anak Yang Sudah Meninggal | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :


Assalamualaikum wr wb


Ustadz izin bertanya benarkah jika punya anak yg meninggal waktu kecil tapi blm sempat di aqiqohi,si anak tersebut tidak bisa memberi safaat pada orang tuanya kelak di akhirat


Dari : Mudiyati


Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.


Pendapat yang mengatakan bahwa jika anak belum di aqiqah, dan meninggal ketika masih bayi, maka anak tersebut tidak bisa memberikan syafa'at kepada kedua orang tuanya, ini adalah pendapat Imam Ahmad.

 

Beliau mengomentari hadist Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang anak yang tergadai ketika belum di aqiqahi.

 

Dari Samuroh rodhiyallahu 'anhu berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ، وَيُسَمَّى

 

Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih untuknya pada hari ketujuh dicukur rambutnya dan diberi nama. (HR. Ibnu Majah, hadist no. 3165).

 

Imam Al-Khattabi rohimahullah menuqil pendapat Imam Ahmad rohimahullah sebagaimana disebutkan di dalam kitabnya Ma'alim As-Sunan :

 

قال الشيخ: قال أحمد هذا في الشفاعة يريد أنه ان لم يعق عنه فمات طفلاً لم يشفع في والديه

 

Berkata syekh : menurut Imam Ahmad, hadist ini menerangkan tentang syafa'at. Yang beliau maksudkan, bahwa ketika anak tidak diaqiqahi, kemudian dia meninggal masih bayi, tidak bisa memberikan syafa'at bagi kedua orang tuanya. (Ma'alim As-Sunan, jilid 4 halaman 285).

 

Namun menurut mazhab Hanafi, maksud tergadai dari hadist di atas bukan tidak bisa memberikan syafa'at untuk kedua orang tuanya, akan tetapi maksudnya adalah jaminan keselamatan untuknya dari segala bahaya, tertahan dengan aqiqahnya.

 

Imam Abul Hasan Nuruddin Al-Qory rohimahullah seorang ulama mazhab Hanafi berkata di dalam kitabnya Mirqotu Al-Mafaatih Syarah Miskatu Al-Mashobih :

 

مَرْهُونٌ بِعَقِيقَتِهِ: يَعْنِي أَنَّهُ مَحْبُوسُ سَلَامَتِهِ عَنِ الْآفَاتِ بِهَا أَوْ إِنَّهُ كَالشَّيْءِ الْمَرْهُونِ لَا يَتِمُّ الِاسْتِمْتَاعُ بِهِ دُونَ أَنْ يُقَابِلَ بِهَا لِأَنَّهُ نِعْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَلَى وَالِدَيْهِ، فَلَا بُدَّ لَهُمَا مِنَ الشُّكْرِ عَلَيْهِ

 

Tergadaikan dengan aqiqahnya, artinya jaminan keselamatan untuknya dari segala bahaya, tertahan dengan aqiqahnya. Atau si anak seperti sesuatu yang tergadai, tidak bisa dinikmati secara sempurna, tanpa ditebus dengan aqiqah. Karena anak merupakan nikmat dari Allah bagi orang tuanya, sehingga keduanya harus bersyukur. (Mirqotu Al-Mafaatih Syarah Miskatu Al-Mashobih, jilid 7 halaman 2687).

 

Oleh karnanya, para ulama berbeda pendapat mengenai tafsiran tergadai jika belum di aqiqahi. Ada pendapat yang mengatakan jika tidak diaqiqahi dan meninggal sewaktu masih bayi, maka dia tidak bisa memberikan syafa'at kepada orang tuanya. Di sisi lain ulama mazhab lain juga menafsirkan dengan hal yang berbeda.

 

Dan tentunya aqiqah bukan syarat seorang anak bisa memberikan syafa'at kepada orang tuanya, karena melihat dari hukum aqiqah sendiri yang hukumnya sunnah muakkad dan tidak sampai kepada wajib.

 

Dan para ulama mazhab yang lain pun tidak mengatakan aqiqah sebagai syarat seorang anak bisa memberi syafa'at kepada orang tuanya. Pendapat ini hanya pendapat Imam Ahmad saja.

 

Tentunya, seseorang bisa memberikan syafa'at atas izin Allah.

 

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata di dalam kitabnya Tuhfatul Maudud Biahkaamil Maulud :

 

فَلَا يشفع أحد لأحد يَوْم الْقِيَامَة إِلَّا من بعد أَن يَأْذَن الله لمن يَشَاء ويرضى فإذنه سُبْحَانَهُ فِي الشَّفَاعَة مَوْقُوف على عمل الْمَشْفُوع لَهُ من توحيده وإخلاصه

 

Karena itu, seseorang tidak bisa memberikan syafaat kepada orang lain pada hari kiamat, kecuali setelah Allah izinkan, untuk diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia ridhai. Sementara izin Allah dalam syafaat, tergantung dari tauhid dan kekuatan ikhlas dari orang yang mendapat syafa'at itu. (Tuhfatul Maudud Biahkaamil Maulud, jilid 1 halaman 73).

 

Silahkan memilih pendapat yang diyakini, karena para ulama sama-sama berdasarkan dalil, hanya saja para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan hadist di atas.

 

Semoga bisa dipahami.

 

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.