logo

Menjual Makanan di Pagi Hari Melayani Orang Yang Tidak Puasa, Bolehkah? | Konsultasi Muslim



Banyaknya fatwa ngawur yang terus bermunculan di Indonesia ini terkadang membuat hati sedih sekaligus geram, sebab orang yang berpuasa disuruh untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Tentunya ini sebuah lelucon yang dipertontonkan orang-orang munafik, sekuler sampai orang jahil yang tidak tau ilmu agama. Bagaimana mungkin orang yang berpuasa menghromati orang yang tidak berpuasa? Seharusnya orang yang tidak berpuasalah yang menghormati orang yang berpuasa, karena orang yang berpuasa menahan lapar dan haus di siang hari, sedangkan mereka yang tidak puasa enak-enakan makan dan minum di siang hari dan dilihat oleh orang yang berpuasa.


Sungguh jika orang yang berbicara adalah orang yang bodoh, maka akan banyak menyesatkan banyak orang.


Lalu apa hukum penjaga warung membuka warungnya di siang Ramadhan dan menjual makanan ke orang yang tidak berpuasa?


Fatawa Syabakah Al-Islamiyyah mengutip perkataan di dalam kitab Hasyiyah ‘ala Syarah Minhaj At-Tullab :


ومن ثم أفتى شيخنا محمد بن الشهاب الرملي بأنه يحرم على المسلم أن يسقي الذمي في رمضان بعوض أو غيره، لأن في ذلك إعانة على معصيته. انتهى


Dari sinilah, kemudian guru kami Muhammad bin Syihab ar-Ramli berfatwa, bahwa diharamkan setiap muslim untuk memberi minum kafir dzimmi di bulan Ramadhan, baik melalui cara membayar atau selainnya. Karena itu sama saja membantu dalam kemaksiatan. Selesai. (Fatawa Syabakah Al-Islamiyyah, jilid 11 halaman 16780).


Sedangkan di dalam Al-Qur’an Allah melarang setiap hamba-Nya untuk tolong menolong dalam dosa dan maksiat.


Allah berfirman :


وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ


dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah : 2).


Oleh karnanya tidak boleh tolong menolong dalam berbuat dosa dan kemaksiatan. Membuka warung di pagi hari melayani orang yang tidak berpuasa sama saja menjadi perantara mereka untuk berbuat dosa, dan di dalam Islam hal tersebut dilarang.


Dari Al-Mundzir bin Jarir rodhiyallahu ‘anhu berkata, dari Ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ


Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga. (HR. Muslim, hadist no. 1017).


Oleh karnanya, apabila menjadi wadah bagi orang lain untuk berbuat maksiat, maka dia berdosa. Apalagi berpuasa wajib bagi setiap muslim. Dan sekalipun yang dia layani orang-orang kafir, namun orang-orang kafir juga harus mentaati dan menghromati ummat Islam, karena apabila mereka hidup di tengah-tengah ummat Islam, berarti mereka terkena beban syari’at yang ditujukan kepada ummat Islam. Dalam arti kata, mereka juga harus ikut mentaati agar tidak makan sembarangan di jalan pada siang hari di bulan Ramadhan, untuk menghormati orang berpuasa.


Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim :


والمذهب الصحيح الذي عليه المحققون والأكثرون أن الكفار مخاطبون بفروع الشرع فيحرم عليهم الحرير كما يحرم على المسلمين والله أعلم


Pendapat yang benar, yang diikuti oleh para ulama Muhaqqiq (peneliti) dan mayoritas ulama, bahwa orang kafir mendapatkan beban dengan syariat-syariat Islam. Sehingga mereka juga diharamkan memakai sutera, sebagaimana itu diharamkan bagi kaum muslimin. (Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, jilid 14 halaman 39).


Artinya jika di tengah-tengah masyarakat muslim melarang warung buka di bulan Ramadhan untuk menghormati orang yang berpuasa, seharusnya mereka mengikuti peraturan itu, karena mereka berada di tengah-tengah kaum muslimin.


Jadi, jangan membuka warung di pagi hari untuk melayani orang-orang yang tidak berpuasa, karena hal itu sama saja membantu dalam perkara maksiat. Jika ingin membuka warung, maka bukalah di sore hari. Artinya menjual makanan untuk orang yang berpuasa. Mereka membeli untuk berbuka puasa di waktu Maghrib.


Jangan khawatir rezekimu habis, karena rezeki manusia tidak akan pernah habis. Setiap hari rezeki manusia sudah dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Allah berfirman :


وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ


Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS. Hud : 6).


Bayangkan, binatang yang melata sekalipun sudah dijamin rezekinya. Apalagi manusia, tentunya juga Allah jamin rezekinya. Semua makhluk Allah jamin rezekinya, bahkan sampai melata sekalipun. Jadi tidak usah takut jika gak jualan di pagi hari rezeki berkuarang. Jangan takut, jika niatmu baik, insyaAllah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.