logo

Hukum Menyentuh Orang Yang Bukan Mahrom di dalam Islam | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :


Assalamu'alaikum, maaf izin bertanya mengenai ini ustadz (Berjabat Tangan Ketika Bertemu Bisa Menggugurkan Dosa) apakah termasuk wanita dan laki-laki bukan mahrom juga diperbolehkan itu?


Dari : Annisa


Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.


Tidak termasuk. Maksud hadist di atas adalah untuk sejenis. Laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan. Karena jumhur (mayoritas) ulama mazhab mengatakan bahwa bersalaman dengan yang bukan mahrom hukumnya Haram.

 

Dalilnya adalah :

 

Dari Ma'qil bin Yasar rodhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

 

Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahromnya. (HR. Thobroni di dalam Kitab Mu'jam Al-Kabir, hadist no. 211).

 

Ulama mazhab Syafi'i dan Maliki tidak membedakan apakah lawan jenis tersebut muda ataupun tua.

 

Adapun pendapat ulama mazhab Hanafi dan Hambali mengatakan bahwa boleh berjabat tangan dengan yang sudah tua, di mana dia sudah tidak lagi memiliki nafsu.

 

Bagaimana jika salaman dengan yang bukan mahrom memakai alas? Seperti sarung tangan atau kain?

 

Di dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu disebutkan :

 

وحرم الشافعية المس والنظر للمرأة مطلقاً، ولو كانت المرأة عجوزاً. وتجوز المصافحة بحائل يمنع المس المباشر

 

Mazhab Syafi'i mengharamkan bersentuhan dan memandang perempuan secara mutlak, meskipun hanya perempuan tua. Tetapi boleh berjabat tangan dengan alas (seperti sarung tangan atau kain) yang bisa mencegah sentuhan secara langsung. (Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu jilid 3 halaman 567).

 

Oleh karnanya jika ada keperluan, maka pakailah alas tangan biar tidak bersentuhan secara langsung. Karena hal itu diperbolehkan oleh ulama, terutama mazhab Syafi'i.

 

Semoga bisa dipahami

 

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.