logo

Hukum Menabung Emas dengan Cara Dicicil, Bolehkah? | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :


Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh... Ustadz..saya mau bertanya mengenai menabung emas dalam ukuran mini. Yang tersedia dalam pecahan kecil antara lain 0,025gr & 0,05gr dst. Misalnya emas dg berat 0,05gr harganya 64.000 jika dikalikan 20 atau hingga mencapai berat 1gr berati totalnya 64.000x20=1.280.000 sedangkan harga emas 1gr pada saat yg sama harganya hanya ±980.000 an. Bagaimana hukumnya jika menabung emas dg cara demikian ustadz?? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih ustadz.


Dari : Agnes Irianty


Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.


Bolehkah menabung emas dengan cara dicicil?

 

1. Para ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim berpendapat jika emas sudah tidak lagi menjadi alat tukar, maka boleh untuk dikreditkan. Karena emas dan perak haram dikreditkan selama menjadi alat tukar. Dan selama dia menjadi alat tukar, maka menjadi barang ribawi yang tidak boleh dikreditkan. Namun setelah tidak menjadi alat tukar, otomatis tidak lagi menjadi barang ribawi sehingga boleh dikreditkan dengan yang lainnya.

 

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata di dalam kitab I'lamul Muwaqqi'in :

 

أن الحلية المباحة صارت بالصنعة المباحة من جنس الثياب والسلع لا من جنس الأثمان ولهذا لم تجب فيها الزكاة فلا يجري الربا بينها وبين الأثمان كما لا يجري بين الأثمان وبين سائر السلع وإن كانت من غير جنسها فإن هذه بالصناعة قد خرجت عن مقصود الأثمان وأعدت للتجارة

 

Bahwa perhiasan yang mubah ketika diproduksi dengan cara yang mubah, berubah statusnya menjadi jenis pakaian dan barang. Bukan lagi mata uang. Karena itu, tidak wajib dizakati dan tidak berlaku hukum barang ribawi, ketika ditukar antara perhiasan dengan uang. Sebagaimana tidak berlaku aturan ibawi antara uang dengan barang lainnya, meskipun tidak sejenis. Karena, dengan proses produksi menyebabkan fungsi emas tidak lagi mata uang tapi menjadi barang dagangan. (I'lamul Muwaqqi'in, jilid 2 halaman 160).

 

Dan MUI juga mengeluarkan fatwa bahwa bolehnya menabung emas di Pegadaian.

 

2. Jumhur (mayoritas) ulama dari ulama mazhab yang 4 berpendapat bahwa sekalipun emas dan perak sudah tidak lagi menjadi alat tukar, maka tetap menjadi barang ribawi yang jika dikreditkan, maka hukumnya haram.

 

Dasar jumhur (mayoritas) ulama adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

 

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ، مِثْلًا بِمِثْلٍ، سَوَاءً بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ، فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ، إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ»

 

Jika emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum bur (gandum halus) ditukar dengan gandum bur, gandum syair (kasar) ditukar dengan gandum syair, korma ditukar dengan korma, garam dirukar dengan garam, maka takarannya harus sama dan tunai. Jika benda yang ditukarkan berbeda maka takarannya boleh sesuka hati kalian asalkan dari tangan ke tangan (tunai). (HR. Muslim, hadist no. 1587).

 

Namun menurut Imam Ibnul Qoyyim yang disebutkan di atas berlaku selama menjadi alat tukar. Ketika dia tidak lagi menjadi alat tukar, maka menjadi boleh hukumnya sebagaimana yang disebutkan beliau (Imam Ibnul Qoyyim) di atas.

 

Semoga bisa dipahami.

 

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.