logo

Hukum Tradisi Lewat di Bawah Keranda Mayit dalam Islam | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :


Assalamualaikum ustadz ijin bertanya.nenek saya beragama hindu.kami semua sekeluarga islam.waktu nenek meninggal.ad upacara jenazah sebelum dikubur yaitu terobosan. kami keluarga besar, ank n cucunya semua ikut acara terobosan tersebut. jalan dibawah jenazah dgn mengelilinginya sebelum diberangkatkan kemakam.itu sebagai penghormatan terakhir.karena ketidaktahuan kami.berdosakah saya dan keluarga.terimakasih


Mohon maaf pertanyaan saya terlalu banyak

 

Jazakallah khoir sebelumnya ustdaz.


Dari : Wiwin Putri


Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.


Seorang muslim tidak boleh memandikan kerabatnya yang non muslim, tidak boleh juga menshalatinya, begitu juga mengikuti jenazahnya dan menguburkannya. Itu semua haram hukumnya menurut para ulama.

 

Imam Al-Hajjawi Al-Maqdisi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Iqna' Fi Fiqhi Al-Imam Ahmad bin Hanbal :

 

ويحرم أن يغسل مسلم كافرا ، ولو قريبا ، أو يكفنه ، أو يصلي عليه ، أو يتبع جنازته ، أو يدفنه، إلا يجد من يواريه غيره ، فيوارَى عند العدم

 

Seorang muslim  diharamkan memandikan orang kafir, meskipun dia kerabat dekat. Dilarang pula mengkafani, menshalati mayatnya, mengikuti jenazahnya atau menguburkannya. Kecuali jika tidak ada orang lain yang menguburkannya, maka keluarganya harus menguburkannya. (Al-Iqna' Fi Fiqhi Al-Imam Ahmad bin Hanbal, jilid 1 halaman 228).

 

Oleh sebab itu, mengiringi jenazahnya sampai ke kubur saja dilarang oleh para ulama, apalagi sampai mengelilingi jenazah sebagai penghormatan. Tentu hukumnya haram, sebab tidak boleh seorang muslim memberi penghormatan kepada orang kafir. Karena mereka menyekutukan Allah. Tidak pantas seorang muslim memberikan penghormatan kepada orang yang menyekutukan Tuhan yang sebenarnya.

 

Allah berfirman :

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa. (QS. Al-Mumtahanah : 13).

 

Maka dari itu, apapun bentuk penghormatan kepada jenazah, haram hukumnya bagi seorang muslim untuk mengikuti ritual tersebut, meskipun itu keluarga dekatnya sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Hajjawi di atas.

 

Lalu jika tidak tau, apakah masih berdosa?

 

Adapun orang yang tidak mengetahui, insyaAllah diampuni Allah dan dimaafkan kesalahannya.

 

Dari Ibnu 'Abbas rodhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 

إِنَّ اللهَ  تَـجَاوَزَ لِـيْ عَنْ أُمَّتِيْ الْـخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

 

Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku kesalahan tanpa sengaja, karena lupa dan terpaksa dilakukan. (HR. Ibnu Hibban, hadist no. 7219).

 

Imam Ibnu Hajar rohimahullah mengomentari hadist di atas di dalam kitabnya Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari :

 

قَالَ بَعْض الْعُلَمَاء : يَنْبَغِي أَنْ يُعَدَّ نِصْف الْإِسْلَام ، لِأَنَّ الْفِعْل إِمَّا عَنْ قَصْدٍ وَاخْتِيَارٍ أَوْ لَا ؛ الثَّانِي : مَا يَقَعُ عَنْ خَطَأٍ أَوْ نِسْيَانٍ أَوْ إِكْرَاهٍ ، فَهَذَا الْقِسْم مَعْفُوٌّ عَنْهُ بِاتِّفَاقٍ ، وَإِنَّمَا اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ : هَلْ الْمَعْفُوُّ عَنْهُ الْإِثْم ، أَوْ الْحُكْم ، أَوْ هُمَا مَعًا ؟ وَظَاهِر الْحَدِيث الْأَخِير ، وَمَاخَرَجَ عَنْهُ كَالْقَتْلِ فَلَهُ دَلِيل مُنْفَصِل

 

Sebagian ulama menyatakan hadits ini bisa dianggap separuhnya Islam karena perbuatan adakalangan karena sengaja atau tidak. Kedua, perbuatan terjadi karena kesalahan, lupa atau paksaan. Bagian kedua ini dimaafkan dengan kesepakatan ulama. Ulama berbeda hanya dalam soal berikut, apakah yang dimaafkan itu dosanya atau hukumnya atau keduanya? Menurut zahir hadist dan yang keluar darinya seperti soal pembunuhan, masalah ini dirinci. (Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, jilid 5 halaman 161).

 

Berdasarkan hadist dan perkataan ulama di atas, jika dia tidak tau, lupa, ataupun terpaksa dilakukan tidak berdosa, dalam artian dimaafkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

 

Hanya saja sekarang ini zaman sudah canggih, tidak seharusnya seorang muslim awam dalam masalah agama, sebab ilmu telah menyebar di mana-mana. Bahkan di media sosial sudah bertebaran dengan sangat banyak.

 

Oleh karnanya, di lain waktu ketika ingin melakukan sesuatu, hendaknya seorang muslim mencari tau terlebih dahulu berkenaan dengan yang ingin dikerjakan. Agar jangan sampai dia mengerjakan sesuatu rupa-rupanya perbuatan tersebut dilarang di dalam Islam. Berhati-hatilah sebelum melalukan perbuatan apapun sebelum mencari tau halal atau haram perbuatan tersebut.

 

Semoga bisa dipahami.

 

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.