logo

Berbuka lebih Cepat dari Biasanya Karena Menyangka sudah Maghrib, Sahkah Puasanya? | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :


Assalaamu'alaikum,,  ustadz,  mohon pencerahan smoga bisa segera dijawab,,  kejadian sore ini masjid didusun saya memberi aba-aba terlalu cepat dr jadwal,,  yg harusnya 17:34 tp baru jm 17:24, udh memberi aba2 buat berbuka,,  bagaimana ini ustad bagi yang udah terlanjur berbuka dahulu,,  kondisi alam memang gelap,,  krn mendung,, sedangkn yg memberi aba2 dimasjid udh tua,  rajin kmasjid, sering jg jd muadzin,  mungkin salah lihat jadwal.


terima kasih


Dari : Udin Shubar


Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.


Sebelumnya kami memohon maaf atas keterlambatan menjawab pertanyaan di grup ini.

 

Memang, seorang muslim disunnahkan menyegerakan berbuka puasa.

 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

 

Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.(HR. Bukhari, hadist no.1957).

 

Akan tetapi, jika seseorang berbuka puasa lebih cepat dari jadwal yang seharusnya, maka hal ini bisa menjadi sebuah masalah menyangkut puasa yang dia jalani.

 

Bagaimana komentar para ulama mengenai hal ini?

 

Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzab :

 

وَلَوْ أَكَلَ ظَانًّا غُرُوبَ الشَّمْسِ فَبَانَتْ طَالِعَةً أَوْ ظَانًّا أَنَّ الْفَجْرَ لَمْ يَطْلُعْ فَبَانَ طَالِعًا صَارَ مُفْطِرًا هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ الَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَقَطَعَ بِهِ الْمُصَنِّفُ وَالْجُمْهُورُ وَفِيهِ وَجْهٌ شَاذٌّ أَنَّهُ لَا يُفْطِرُ

 

Jika seseorang makan karena menyangka matahari telah terbenam. Ternyata matahari masih terlihat, atau dia makan karena menyangka fajar belum terbit, namun ternyata telah terbit, maka puasanya menjadi batal. Hukum ini adalah hukum yang shahih dan telah di nash oleh Imam Syafi’i, serta telah dipastikan kebenarannya oleh pengarang dan mayoritas ulama. Namun terdapat pendapat yang syadz (tidak di pertimbangkan) bahwa puasa tersebut tidak batal. (Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzab, jilid 6 halaman 306).

 

Imam Zainuddin Al-Malibari rohimahullah berkata di dalam kitabnya Fathul Mu'in :

 

ولو أكل باجتهاد أولا وآخرا فبان أنه أكل نهارا بطل صومه إذ لا عبرة بالظن البين خطؤه فإن لم يبن شيء: صح

 

Jika seseorang makan dengan berdasarkan ijtihadnya pada awal waktu (waktu sahur) dan akhir waktu (waktu berbuka), lalu ternyata diketahui olehnya bahwa dia makan di waktu siang (waktu puasa) maka puasanya menjadi batal, sebab tidak dapat dijadikan pertimbangan prasangka yang jelas kesalahannya. Jika ternyata tidak tampak apapun padanya maka puasanya tetap sah. (Fathul Mu'in, jilid 1 halaman 269).

 

Oleh sebab itu, jika seorang muslim berbuka lebih cepat daripada biasanya, dan setelah itu dia tau jika dia keliru, maka puasanya bbatal menurut ulama mazhab Syafi'i, dan hendaklah dia mengqodho' puasanya setelah Ramadhan.

 

Semoga bisa dipahami.

 

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.