logo

Hukum Wanita Memakai Hena Ketika Menikah, Bolehkah? | Konsultasi Muslim



Memakai hena bagi perempuan hukumnya mubah, karena termasuk perkara mu’amalah (hubungan dengan sesama manusia) seperti jual beli, hutang piutang, gadai dan segala yang berhubungan dengan sesama manusia.


Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :


الأصل في الأشياء الإباحة


Asal hukum segala sesuatu (perkara mu’amalah) adalah boleh


Kebolehannya karena ada hadist yang diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallahu ‘anha, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan sahabat dari kalangan perempuan untuk memakai hena agar bisa membedakan antara tangan laki-laki dan perempuan.


Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata :


أَنَّ امْرَأَةً مَدَّتْ يَدَهَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ فَقَبَضَ يَدَهُ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَدَدْتُ يَدِي إِلَيْكَ بِكِتَابٍ فَلَمْ تَأْخُذْهُ، فَقَالَ: «إِنِّي لَمْ أَدْرِ أَيَدُ امْرَأَةٍ هِيَ أَوْ رَجُلٍ» قَالَتْ: بَلْ يَدُ امْرَأَةٍ، قَالَ: «لَوْ كُنْتِ امْرَأَةً لَغَيَّرْتِ أَظْفَارَكِ بِالْحِنَّاءِ»


Seorang perempuan mengulurkan tangannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah kitab, perempuan itu memegang tangan beliau dan berkata : Wahai Rasulullah, aku ulurkan tanganku dengan sebuah kitab namun engkau tidak mengambilnya? Beliau bersabda : Aku tidak tahu, apakah itu tangan seorang perempuan atau tangan laki-laki. Perempuan itu berkata : “Ini tangan seorang perempuan.” Beliau bersabda : Kalaulah kamu seorang perempuan, hendaklah kamu warnai kukumu dengan henna. (HR. An-Nasa’i, Sunan An-Nasa’i, hadist no. 5089).


Lalu bagiamana jika seorang wanita memakai hena ketika menikah? Bolehkah?


Imam Zakaria Al-Anshori rohimahullah berkata di dalam kitabnya Asna Al-Matholib :


(وَفِي بَاقِي الْأَحْوَالِ) أَيْ فِي غَيْرِ الْإِحْرَامِ (يُسْتَحَبُّ لِلْمُزَوَّجَةِ) ؛ لِأَنَّهُ زِينَةٌ وَهِيَ مَطْلُوبَةٌ مِنْهَا لِزَوْجِهَا كُلَّ وَقْتٍ


Dan dalam kondisi lain selain ihram, maka dianjurkan memakai hena bagi perempuan yang sudah menikah. Karena dengan henna tersebut bisa mempercantik diri untuk suaminya setiap waktu. (Asna Al-Matholib, jilid 1 halaman 472).


Dalam kondisi apapun, seorang wanita boleh memakai hena di tangannya, termasuk ketika dia menikah, kecuali dalam keadaan ihram, maka telah datang atsar yang tidak menganjurkan bagi seorang wanita untuk tidak memakai hena di saat ihram.


Khalifah Umar bin Khattab rodhiyallahu ‘anhu berkhutbah dan berkata :


يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ إِذَا اخْتَضَبْتُنَّ، فَإِيَّاكُنَّ النَّقْشَ، وَالتَّطْرِيفَ وَلْتَخَضِبْ إِحْدَاكُنَّ يَدَيْهَا إِلَى هَذَا، وَأَشَارَ إِلَى مَوْضِعِ السِّوَارِ


Wahai para wanita, apabila kalian menggunakan inai, maka janganlah kalian hanya mengukir di ujung kuku. Dan hendaklah kalian memakai inai di tangannya sampai sini. Kemudian beliau mengisyaratkan sampai ke tempat gelang. (HR. Abdurrazaq, Mushonnaf, no. 7929, jilid 4 halaman 318).


Khalifah Umar bin Khattab mengatakan seperti ini bisa jadi agar tidak terjadi fitnah, karena ketika ihram, wanita tidak diperbolehkan memakai sarung tangan, maka ketika hena yang ada di ujung kuku perempuan dilihat laki-laki, bisa menimbulkan fitnah. Bisa saja ini merupakan penyebab beliau mengatakan seperti di atas.


Adapun hal yang harus diperhatikan oleh seorang wanita jika dia memakai hena adalah : “Hendaklah seorang wanita menutupi henanya dari pandangan laki-laki yang bukan mahromnya.”


Allah berfirman :


وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا


dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. (QS. An-Nur : 31).


Maka dari itu seorang wanita harus menutupi henanya jika dia keluar rumah agar tidak menimbulkan fitnah, baik laki-laki yang melihat hena tersebut bersyahwat ataupun terpesona melihat hena perempuan tersebut. Padahal Islam memerintahkan seorang muslim dan muslimah untuk menjauhi fitnah.


Allah berfirman :


وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ


Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal : 25).


Oleh sebab itu, seorang wanita yang memakai hena hendaklah menutup tangannya dari pandangan laki-laki yang bukan mahromnya untuk menghindari fitnah.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.