logo

Hukum Menyejukkan Makanan Yang Panas Dengan Kipas Angin | Konsultasi Muslim



Islam memerintahkan kepada setiap muslim, agar tidak meniup makanan yang panas dengan mulutnya, karena selain mengotori makanan dengan nafasnya, perilaku tersebut tidak beradab jika makanan tersebut juga dimakan oleh orang lain.


Dari Abu Qotadah rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ، وَإِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمْسَحْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا تَمَسَّحَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ


Apabila salah seorang di antara kalian minum, maka janganlah dia bernafas di dalam gelas, apabila buang hajat, janganlah menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan dan apabila salah seorang di antara kalian membersihkannya (menyekanya), maka janganlah dia membersihkannya dengan tangan kanannya. (HR. Bukhari, hadist no. 5630).


Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim :


قال العلماء والنهي عن التنفس في الإناء هو من طريق الأدب مخافة من تقذيره ونتنه وسقوط شئ من الفم والأنف فيه ونحو ذلك والله أعلم


Para ulama berkata : Larangan bernafas di dalam gelas itu termasuk adab. Karena dikhawatirkan akan mengotori air minum atau ada sesuatu yang jatuh dari mulut dan dari hidung dan semisal itu. Wallahu a’lam. (Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, jilid 3 halaman 160).


Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata di dalam kitabnya At-Thib An-Nabawi :


وَأَمَّا النَّفْخُ فِي الشَّرَابِ، فَإِنَّهُ يُكْسِبُهُ مِنْ فَمِ النَّافِخِ رَائِحَةً كَرِيهَةً يُعَافُ لِأَجْلِهَا، وَلَا سِيَّمَا إِنْ كَانَ مُتَغَيِّرَ الْفَمِ. وَبِالْجُمْلَةِ: فَأَنْفَاسُ النَّافِخِ تُخَالِطُهُ، وَلِهَذَا جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ النَّهْيِ عَنِ التَّنَفُّسِ فِي الْإِنَاءِ وَالنَّفْخِ فِيهِ فِي الْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ الترمذي وَصَحَّحَهُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُتَنَفَّسَ فِي الْإِنَاءِ، أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ


Adapun meniup minuman bisa menyebabkan air itu terkena bau yang tidak sedap dari mulut orang yang meniup. Lebih-lebih membuat air itu menjijikkan untuk diminum. Terutama ketika terjadi bau mulut. Kesimpulannya, nafas orang yang meniup akan bercampur dengan minuman itu. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan larangan bernafas di dalam gelas dengan meniup air di dalam gelas. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan dia menshahihkannya dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernafas di dalam bejana (gelas) dan meniup air di dalamnya. (At-Thib An-Nabawi, jilid 1 halaman 175).


Inilah alasan mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang setiap muslim untuk meniup makanan atau minuman ketika makan dan minum, karena dikhawatirkan adanya kotoran yang masuk ke dalam makanan dan minuman. Dan juga menurut penelitian kedokteran, bahwa nafas yang berasal dari mulut jika ditiupkan akan menghasilkan bakteri, sehingga jika menempel di makanan dan minuman, akan menimbulkan penyakit.


Para dokter baru tau sekarang setelah menelitinya, karena mereka menganggap larangan meniup makanan dan minuman itu mitos. Akan tetapi setelah mereka teliti, maka apa yang dikatakan oleh Rasulullah tentang larangan meniup makanan dan minuman benar dan itu diakui oleh para dokter. Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menginstruksikan kepada ummat Islam agar tidak meniup makanan dan minuman sejak 1400 trahun yang lalu, dan baru diketahui oleh para dokter baru-baru ini setelah melakukan penelitian.


Itulah bukti kesempurnaan agama Islam, di mana setiap perkara diatur di dalam Islam, bahkan dari hal yang dianggap sepele pun diatur di dalam Islam. Dan ini semua bukti kuasa Allah kepada manusia, sekaligus ingin menunjukkan bahwa Islam lah satu-satunya agama yang benar dan satu-satunya agama yang di ridhoi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Lalu jika menyejukkan makanan dan minuman dengan meniup dari mulut dilarang, bagaimana hukum menyejukkan makanan dan minuman dengan kipas angin? Bolehkah?


Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :


الحكم يدور مع العلة، وجودا وعدما


Hukum itu berputar bersama illatnya (sebabnya), baik ketika illatnya ada maupun tidak ada.


Nah, sebelum menghukumi sesuatu, dilihat dulu apa illatnya (sebabnya), barulah kemudian bisa mengambil kesimpulan tentang hukumnya.


Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi dan Imam Ibnul Qoyyim di atas, bahwa illat (sebab) dilarangnya menyejukkan makanan dengan meniupnya adalah, karena dikhawatirkan ada kotoran yang jatuh dari mulut dan hidungnya, dan jika makanan atau minuman itu ditiup, bisa menimbulkan bau yang tidak sedap.


Jadi, jika makanan atau minuman itu disejukkan dengan menggunakan kipas angin, dan kipas angin tersebut bersih dan terhindar dari debu, maka hukumnya boleh berdasarkan apa yang disampaikan oleh Imam An-Nawawi dan Imam Ibnul Qoyyim di atas. Karena jika bebas dari debu, makanan dan minuman tersebut tidak kotor sehingga terhindar dari penyakit.


Menurut para ulama, larangan di dalam hadist di atas jika dia makan bersama orang lain dalam satu nampan.


Bagaimana jika dia makan sendiri? Apakah masih dilarang meniup makanan dan minuman?


Imam Al-Manawi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Faidhul Qodir :


(نهى عن النفخ في الطعام) لأنه يؤذن بالعجلة وشدة الشره وقلة الصبر قال المهلب: ومحل ذلك إذا أكل مع غيره فإن أكل وحده أو مع من لا يتقذر منه شيئا كزوجته وولده وخادمه وتلميذه فلا بأس أو نحو ذلك


Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang larangan meniup makanan) karena itu mengisyaratkan ketergesa-gesaan, kerakusan dan kurang sabar. Al-Mahlab berkata : bahwa letak larangan itu terdapat ketika seseorang makan bersama orang lain pada satu nampan. Adapun jika seseorang makan sendiri atau bersama orang yang tidak menganggap jorok apapun yang keluar dari dirinya, seperti istri, anak, pembantu, dan muridnya, maka tidak apa-apa atau semisalnya. (Faidhul Qodir, jilid 6 halaman 324).


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.