logo

Jangan asal Menikah, tapi cari bekal Ilmu dan Materi sebelum Menikah | Konsultasi Muslim



Sebelum melangsungkan pernikahan, seorang muslim hendaklah mencari bekal bagi dirinya dan untuk istri serta untuk kelangsungan rumah tangganya, baik bekal ilmu agama ataupun harta untuk menghidupi istrinya kelak ketika sudah menikah. Dan dia juga harus menyiapkan mentalnya lahir dan batin untuk menghadapi pernikahan yang akan dia hadapi. Oleh sebab itu bekal berupa materi dan persiapan lahir batin serta Ilmu agama harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum menuju ke jenjang pernikahan.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ


Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya. (HR. Bukhari, hadist no. 5065).


Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Syarah Shahih Muslim :


وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي الْمُرَادِ بِالْبَاءَةِ هُنَا عَلَى قَوْلَيْنِ يَرْجِعَانِ إِلَى مَعْنَى وَاحِدٍ أَصَحُّهُمَا أَنَّ الْمُرَادَ مَعْنَاهَا اللُّغَوِيُّ وَهُوَ الْجِمَاعُ فَتَقْدِيرُهُ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْجِمَاعَ لِقُدْرَتِهِ عَلَى مُؤَنِهِ وَهِيَ مُؤَنُ النِّكَاحِ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعِ الْجِمَاعَ لِعَجْزِهِ عَنْ مُؤَنِهِ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ لِيَدْفَعَ شَهْوَتَهُ وَيَقْطَعَ شَرَّ مَنِيَّهُ


Dan para ulama berbeda pendapat mengenai makna baa-ah disini. Ada 2 pendapat ulama akan tetapi 2 pendapat tersebut kembali pada satu makna. Yang paling benar dari keduanya adalah bahwa pengertian baa-ah secara lughoh adalah Jima’. Jadi kemampuannya bukan hanya mampu berjima’ (bersetubuh) saja, akan tetapi dia juga mampu secara materi sehingga dia menikah. Dan barangsiapa yang tidak mampu berjima’ karena tidak mampu memberi dari segi materi, maka hendaklah dia berpuasa untuk mengekang syahwatnya dan memutus keburukan maninya. (Syarah Shahih Muslim jilid 9 halaman 172).


Maka dari itu seorang muslim tidak hanya berbekal materi saja sebelum menikah, akan tetapi juga harus mempunyai bekal berupa ilmu agama dan mental serta siap lahir dan batinnya. Karena ini sangat berpengaruh terhadap kelancaran hubungan seorang muslim di dalam rumah tangganya.


Banyak kaum muslimin yang asal menikah, asal halal dan menghindari pacaran, maka selesai. Tapi di dalam Islam bukan sesimple itu, karena dia harus mempersiapkan dari segi ilmu agama, bekal berupa materi serta kesiapan mentalnya sebelum pernikahan. Memang betul menikah itu untuk menghindari pacaran, namun tetap memperhatikan hal-hal yang dibutuhkan sebelum menikah dan dia harus mempersiapkan bekal untuk menuju ke jenjang pernikahan. Karena betapa banyak yang asal-asalan menikah tanpa memperhatikan kesiapan ilmu agama, materi dan mentalnya, akhirnya gagal dalam mempertahankan pernikahannya karena tidak bisa mengalah ego masing-masing.


Inilah bukti bahwa menikah tidak cukup asal menikah saja, dan untuk menghindari pacaran saja. Harus luruskan niat dulu terlebih dahulu sebelum menikah. Niat menikah karena siapa dan tujuannya apa, harus jelas agar bisa mewujudkannya setelah menikah. Memang menikah untuk menghindari pacaran boleh-boleh saja, namun jangan melupakan bagian lain yang sangat penting yang harus dimiliki oleh seorang muslim dan muslimah sebelum menuju ke jenjang pernikahan.


Hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim dan muslimah sebelum menikah adalah hendaklah dia meluruskan niatnya terlebih dahulu. Perbaiki niat dalam menikah agar ketika dia menikah, dia mendapatkan pahala disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan sampai dia menikah, tapi dia tidak mendapatkan apa-apa disisi Allah, disebebkan salah niat dalam menikah.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ


Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang dia tuju. (HR. Bukhari, Hadist No. 1).


Menikah itu niatnya semata-mata karena Allah, bukan karena ingin menghindari pacaran. Niatnya harus diluruskan karena Allah, adapun untuk apanya, maka boleh untuk menyempurnakan separoh dari Agama, untuk menghindari pacaran ataupun agar terus istiqomah dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangannya.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.