logo

Hukum Menjilat Kemaluan Istri dalam Islam | Konsultasi Muslim



Pada hakikatnya, persoalan mencium kemaluan istri ataupun istri mencium kemaluan suami masih dianggap aneh bagi sebagian kaum muslimin, bahkan tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor dan merasa jijik melakukan itu dengan pasangannya. Hal ini bisa dimaklumi karena tidak semua orang senang dengan sesuatu tidak biasa dilakukan di dalam rumah tangga.


Akan tetapi, apakah mencium dan menjilat kemaluan istri tersebut dilarang di dalam Islam?


Allah berfirman :


نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا۟ حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّكُم مُّلَٰقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ


Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah : 223).


Imam Al-Mawardi rohimahullah mengomentari ayat di atas di dalam kitab tafsirnya An-Nukat wal ‘Uyun :


{أَنَّى شِئتُمْ} فيه خمسة تأويلات: أحدها: يعني كيف شئتم في الأحوال , روى عبد الله بن علي أن أناساً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم , جلسوا يوماً ويهودي قريب منهم , فجعل بعضهم يقول: إني لآتي امرأتي وهي مضطجعة , ويقول الآخر إني لآتيها وهي قائمة , ويقول الآخر: إني لآتيها وهي على جنبها , ويقول الآخر إني لآتيها وهي باركة , فقال اليهودي: ما أنتم إلا أمثال البهائم ولكنا إنما نأتيها على هيئة واحدة , فأنزل الله تعالى هذه الآية وهذا قول عكرمة


(Bagaimana saja kamu kehendaki). Tafsirannya ada 5, yang pertama : Artinya bagaimanapun yang kamu inginkan. ‘Abdullah bin ‘Ali meriwayatkan bahwa ada beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk-duduk pada suatu hari dan di dekat mereka ada seorang Yahudi. Sebagian mereka berkata : Sesungguhnya saya mendatangi (menyetubuhi) istri saya dalam keadaan dia berbaring. Yang lainnya berkata : Sesungguhnya saya mendatanginya dalam keadaan dia berdiri. Yang lain berkata : Sesungguhnya aku mendatangi istriku dari sampingnya. Yang lain berkata : Sesungguhnya aku mendatanginya dalam keadaan dia duduk. Maka seorang Yahudi tersebut berkata : Cara yang kalian lakukan seperti binatang. Sesungguhnya kami hanya mendatangi istri kami hanya dengan satu arah saja. Maka Allah menurunkan ayat ini dan ini adalah pendapat ‘Ikrimah.


والثاني: يعني من أي وجه أحببتم في قُبِلها , أو من دُبْرِها في قُبلها. روى جابر أن اليهود قالوا: إن العرب يأتون النساء من أعجازهن , فإذا فعلوا ذلك جاء الولد أحول , فَأَكْذَبَ الله حديثهم وقال: {نِسَاؤُكُم حَرثٌ لَكُمْ فَأتُوا حَرثَكُمْ أَنَّى شِئتُمْ} , وهذا قول ابن عباس , والربيع


Yang kedua : Dengan gaya apapun yang kalian sukai di kemaluannya (vagina), atau dari belakang dari kemaluannya. Sahabat Jabir meriwayatkan bahwa seorang Yahudi berkata : Sesungguhnya oarng Arab mendatangi istrinya dari belakang, apabila mereka melakukan cara tersebut maka lahir seorang anak yang bermata juling. Maka Allah menjawab tuduhan bohong mereka itu dengan turunnya firman : “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah : 223). Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ar-Robi’.


والثالث: يعني من أين شئتم وهو قول سعيد بن المسيب وغيره


Yang ketiga : Dari arah manapun yang kamu inginkan. Ini adalah pendapat Sa’id bin Al-Musayyib dan yang lainnya.


والرابع: كيف شئتم أن تعزلوا أو لا تعزلوا , وهذا قول سعيد بن المسيب.


Yang keempat : Bagaimanapun yang kamu inginkan, baik kamu ingin mengisolasi atau tidak mengisolasi. Ini adalah pendapat Sa’id bin Al-Musayyib.


والخامس: حيث شئتم من قُبُلٍ , أو من دُبُرٍ , رواه نافع , عن ابن عمر وروى عن غيره


Yang kelima : Gaya apapun yang kamu inginkan dari kemaluan (vagina) atau dari dubur. Diriwayatkan oleh Naafi’ dari Ibnu ‘umar dan dia meriwayatkan dari selainnya.


(An-Nukat wal ‘Uyun, jilid 1 halaman 284).


Perkataan ulama tentang hukum mencium dan menjilat kemaluan istri :


1. Imam Al-Hattobi Ar-Ru’yani rohimahullah menuqil perkataan Imam Malik rohimahullah sebagaimana disebutkan di dalam kitab Mawahib Al-Jalil Fi Syarhi Mukhtashor Kholil :


وَقَدْ رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ: لَا بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إلَى الْفَرْجِ فِي حَالِ الْجِمَاعِ وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ: وَيَلْحَسَهُ بِلِسَانِهِ


Diriwayat dari Imam Malik bahwa beliau berkata : Tidak apa-apa melihat kemaluan saat bersetubuh. Dan dia menambahkan dalam riwayat lain : Begitu juga boleh menjilat kemaluan tersebut dengan lidahnya. (Mawahib Al-Jalil Fi Syarhi Mukhtashor Kholil, jilid 3 halaman 406).


Kemudian Imam Al-Hattobi Ar-Ru’yani rohimahullah menuqil perkataan Ibnu Rusyd rohimahullah :


أَكْثَرُ الْعَوَامّ يَعْتَقِدُونَ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يَنْظُرَ الرَّجُلُ إلَى فَرْجِ امْرَأَتِهِ فِي حَالٍ مِنْ الْأَحْوَالِ وَلَقَدْ سَأَلَنِي عَنْ ذَلِكَ بَعْضُهُمْ وَاسْتَغْرَبَ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ جَائِزًا وَمِثْلُ ذَلِكَ مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ


Kebanyakan orang awam meyakini bahwa tidak boleh seorang suami melihat kepada kemaluan istrinya dalam keadaan apapun, dan saya telah menanyakan itu pada Sebagian ahli ilmu dan yang lebih mengejutkan lagi bahwa mereka mengatakan hukumnya boleh. Adapun salah satu dari ulama yang mengatakan hal itu adalah ulama dari kalangan mazhab Hanafi. (Mawahib Al-Jalil Fi Syarhi Mukhtashor Kholil, jilid 3 halaman 406).


2. Imam Zainuddin Al-Malibari berkata di dalam kitabnya Fathul Mu’in :


يجوز للزوج كل تمتع منها بما سوى حلقة دبرها ولو بمص بظرها أو استمناء بيدها لا بيده


Boleh bagi seorang suami menikmati semua jenis aktifitas hubungan badan dengan istrinya selain pada lingkaran duburnya, sekalipun menghisap klitoris istrinya. Atau mengeluarkan air mani dengan tangan istrinya, bukan dengan tangannya sendiri. (Fathul Mu’in, jilid 1 halaman 482).


3. Imam Al-Buhuti rohimahullah berkata di dalam kitab Kasyaf AL-Qona’, beliau menuqil perkataan Al-Qodhi Ibnul Muflih :


قَالَ الْقَاضِي يَجُوزُ تَقْبِيلُ فَرْجِ الْمَرْأَةِ قَبْلَ الْجِمَاعِ


Al-Qodhi Ibnul Muflih berkata : Boleh mencium kelamin istrinya sebelum bersetubuh. (Kasyaf AL-Qona’, jilid 5 halaman 17).


Oleh karnanya para ulama membolehkan mencium kemaluan istri sebagai bentuk bersenang-senang dengan istri. Hanya saja, harus menghindari istri ketika dalam keadaan haid ataupun tidak menyetubuhi istri di duburnya.


Ada 2 keadaan yang tidak boleh dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya :


1. Menyetubuhi istrinya dalam keadaan haid, dan ini haram hukumnya menurut para ulama. Dan menurut jumhur (mayoritas) ulama sebagaimana yang dinuqil oleh Syekh Muhammad ‘Ali As-Shobuni di dalam tafsir Rowai’ul Bayan Ayat Ahkam Minal Qur’an jilid 1 halaman 280, bahwa jika dia menyetubuhi istrinya ketika haid, dia harus meminta ampun kepada Allah dan tidak ada yang bisa dilakukan selain beristighfar kepada Allah. Karena kemaksiatan yang dia lakukan seperti kemaksiatan yang lain pada umumnya, dan membutuhkan taubat dan istighfar.


Bahkan beliau juga menuqil pendapat Imam Ahmad rohimahullah yang mengatakan dia harus membayar kaffaroh dengan menyedekahkan uangnya satu dinar atau setengah dinar.


2. Menyetubuhi istri dari dubur. Hukumnya haram sebagaimana hadist baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا


Dilaknat, siapa saja di antara para suami yang menyetubuhi istrinya di duburnya. (HR. Ahmad, hadist no. 9733).


Syekh Syu’aib Al-Arnauth rohimahullah mengomentari hadist ini di dalam Tahqiqnya pada Musnad Ahmad :


حديث حسن، رجاله ثقات رجال الصحيح


Hadist Hasan. Perowinya Tsiqah (orang yang terpercaya) perowinya shahih. (Musnad Imam Ahmad bin Hanbal yang ditahqiq oleh Syekh Syu’aib Al-Arnauth, jilid 15 halaman 457).


Belajar ilmu fiqih memang harus sampai detail, tidak harus malu mempelajarinya, bahkan mempelajari yang dianggap senonoh pun harus dipelajari. Tentunya para ulama telah membahas itu jauh-jauh hari dan kita hanya membaca ulang saja dan menyampaikan kepada kaum muslimin.


Jangan malu belajar ilmu fiqih, karena Syekh Az-Zurnuji rohimahullah berkata di dalam Syi’irnya sebagaimana disebutkan di dalam kitab Syarah Ta’limul Muta’allim :


فإن فقيها واحدا متورعا، أشد على الشيطان من ألف عابد


Sesungguhnya seorang ahli fiqih yang waro’ (menjauhi dari yang haram), lebih ditakuti setan daripada 1000 abid (ahli ibadah) yang tidak didasari dengan ilmu agama. (Syarah Ta’limul Muta’allim halaman 7).


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.