logo

Adab-Adab Berkomentar di Media Sosial | Konsultasi Muslim



Pada zaman teknologi yang canggih dan modern ini, tak ayal lagi media sosial sudah menjadi sebuah kebutuhan sehar-hari bagi kehidupan manusia. Baik hanya sekedar digunakan untuk hiburan saja, berbincang masalah pekerjaan, digunakan untuk berdakwah dan lain sebagainya. Tidak heran jika media sosial banyak digunakan sebab banyak manfaatnya.


Media sosial digunakan sebagai sarana transaksi, maka banyak dintara pengguna yang saling berkomentar satu sama lainnya. Namun, dalam bermedia sosial tentu ada adab-adab yang harus diperhatikan agar tidak sembarangan dalam menggunakannya.


Adab-adab berkomentar di media sosial :


1. Tidak terlalu ikut campur dengan urusan orang lain, apalagi tidak mengetahui permasalahannya.


Terkadang banyak di media sosial ditemukan tipe yang satu ini, ketika kita memposting status, dia ikut memberikan komentar dan seolah-olah dia lebih tau daripada orang yang memposting status tersebut. Padahal dia tidak tau masalah yang sebenarnya dan Islam telah memerintahkan, bahwa jika seorang muslim tidak mengetahui suatu masalah ataupun masalah tersebut masih belum jelas, hendaklah dia bertabayun kepada yang bersangkutan untuk memperjelasnya supaya tidak terjadi fitnah.


Allah berfirman :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ


Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat : 6).


Oleh karnanya hindari ikut campur urusan orang lain, lebih-lebih tidak mengetahui akar permasalahannya, karena bisa menyebabkan cekcok ataupun berselisih paham hanya gara-gara yang berkomentar mencampuri sesuatu yang tidak diketahuinya.

 

2. Tidak mencela orang lain.


Media sosial sangat luas cakupannya dan terkadang bisa dijangkau oleh orang yang tidak dikenali. Terkadang juga jika berbeda pendapat dalam suatu masalah, banyak yang saling mencela lawan komentarnya. Maka sikap yang harus dilakukan adalah dengan tidak membalasnya dengan cacian yang serupa.


Allah berfirman :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ


Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat : 11).


Tak seharusnya seorang muslim mencela sesama muslim atau mencela non muslim sekalipun hanya gara-gara berbeda pandangan. Tunjukkan akhlak yang baik kepada orang yang mencela dan nasehatilah bahwa perbuatan mencela adalah Tindakan buruk dan tidak terpuji di dalam Islam.


Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


مَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ


Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya. (HR. Muslim, hadist no. 47).


Maka dari itu sebagai seorang muslim hindarilah mencaci dan memaki saudara sesama muslim karna mncaci dan memaki saudara sesama muslim merupakan tindakan yang tidak terpuji.


Bagaimana jika non muslim mencela Islam atau ummat Islam?


Yang harus dilakukan adalah membela kehormatan Islam dan ummat Islam. Seorang muslim harus membela agama dan saudaranya sesama muslim ketika dicaci dan dimaki oleh non muslim. Akan tetapi haruslah dibalas dengan cara yang santun dan jelaskan dengan baik dan benar dan tunjukkan akhlak sebagai seorang muslim. Debart dia dengan baik dan jika mereka menyerang Islam, maka balas dengan mengutip ayat-ayat dari alkitab mereka yang menerangkan tentang itu supaya mereka yakin, namun harus tetap menunjukkan adab yang baik dalam membalas dan berkomentar.


Allah berfirman :


ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ


Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl : 125).


Boleh mendebat mereka, namun pastinya dengan cara yang santun tanpa menghina sesembahan mereka, karena jika menghina sesembahan mereka, maka mereka akan menghina Allah dan Islam dengan keji tanpa pengetahuan.


Allah berfirman :


وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ


Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS. Al-An’am : 108).


Bela lah kehormatan Islam jika dicaci maki oleh mereka, namun bela lah dengan cara yang baik dan tidak mencaci maki sesembahan mereka.

 

3. Tidak ngerumpi online ketika berkomentar di media sosial.


Salah satu yang harus dihindari di media sosial adalah ngerumpi online, karena hal tersebut termasuk perbuatan yang tidak terpuji dan tidak diperbolehkan di dalam Islam. Apalagi orang yang dibicarakan membaca komentar-komentar tersebut.


Sekalipun hanya sebuah tulisan, tapi efeknya bisa menusuk sampai ke hati, karena pada hakikatnya sebuah kalimat yang hanya berbentuk tulisan di media sosial, ketika dibaca, sama halnya dengan bacaan.


Ada sebuah ungkapan menyebutkan :


الكتابة تنزل  منزلة القول


Tulisan statusnya sama dengan ucapan.


Memang hanya sebuah tulisan, tapi sakitnya luar biasa ketika dibaca. Itulah mengapa Allah memerintahkan untuk menjaga ucapan, baik yang diucapkan dengan lisan maupun tulisan.


Media sosial bisa sebagai ladang untuk mendapatkan pahala dengan beramar ma’ruf nahi munkar, tapi juga bisa menjadi ladang dosa karena menceritakan orang lain dan menyebarkan kemaksiatan di dalamnya.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.