logo

Bolehkah Mempelai Wanita Berhias Saat Walimah? | Konsultasi Muslim



Islam mengatur seluk beluk kehidupan manusia, dari bangun tidur sampai tidur lagi, dari hal terkecil sampai hal terbesar sekalipun diatur di dalam Islam, bahkan sesuatu yang dianggap remeh sekalipun diatur di dalam Islam. Seorang muslim tidak akan pernah bisa lepas dari peraturan yang ada di dalam Islam. Salah satu yang diatur di dalam Islam adalah masalah pernikahan, dari persiapan sampai punya anak, semuanya diatur di dalam Islam, tergantung kepada pemeluknya, mau atau tidak menjalani sebagaimana yang diperintahkan Islam atau malah mengikuti kemauannya dan mengabaikan ketentuan syari’at Islam. Salah satu tentang pernikahan yang diatur Islam adalah tentang mempelai wanita yang berhias ketika walimah.


Mempelai wanita yang berhias ketika walimah tidak dibolehkan di dalam Islam karena berhias kepada selain suami dan dilihat oleh laki-laki, sedangkan di dalam Islam melarang wanita berhias selain kepada suaminya.


Allah berfirman :


وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى


Dan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah zaman dahulu. (QS. Al-Ahzab : 33).


Oleh karnanya berhias ketika walimah, apalagi sampai dipajang di luar agar dilihat oleh orang banyak, hal ini haram hukumnya disebabkan berhias untuk orang banyak dan dilihat oleh laki-laki yang bukan mahromnya. Hal ini berpotensi fitnah dan bisa membuat laki-laki tertarik kepada mempelai wanita tersebut dan bisa menimbulkan banyak fitnah disebabkan hal itu. Sedangkan di dalam Islam memerintahkan untuk  menjauhi fitnah.


Allah berfirman :


وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ


Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal : 25).


Sebelum banyak fitnah dan mudorot yang ditimbulkan disebabkan berhias dan dipajang di luar rumah, maka hendaklah mencegah terlebih dahulu berbagai macam fitnah tersebut dengan cara tidak berhias ataupun tidak duduk di tempat umum agar dilihat banyak orang.


Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :


درء المفاسد مقدم على جلب المصالح


Menolak kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat


Bagaimana jika orang tua dan keluarga tetap bersikukuh menyuruh berhias dan meminta tetap memajang di luar rumah agar dilihat orang banyak?


Jika orang tua meminta seperti itu, maka sebagai anak hendaklah menolaknya terlebih dahulu dan perintah tersebut tidak wajib ditaati, karena orang tua memerintahkan dalam perkara maksiat.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي المَعْرُوفِ


Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf. (HR. Bukhari, hadist no. 7257).


Jelaskan juga pandangan Islam mengenai hal itu dan katakan bahwa perbuatan tersebut dilarang di dalam Islam. Jika tidak didengarkan, minta tolong kepada orang yang sekiranya didengar omongannya oleh orang tua dan minta untuk menjelaskan sebagaimana yang disampaikan sebelumnya. Jika orang tua tidak mendengarkan anaknya, siapa tau orang tua mau mendengarkan orang yang dimintai tolong tersebut.


Apabila orang tua juga tidak mendengarkannya, maka apa boleh buat. Daripada cek cok dan bermasalah, dan nanti tidak jadi walimah dan segala macam, maka lakukanlah dengan menolaknya dan mengingkari perbuatan tersebut dengan hati. Itulah yang bisa dilakukan oleh seorang anak, khususnya mempelai perempuan yang biasanya mengalami seperti ini. Mempelai perempuan tidak mau dipajang dan berhias karena tau agama, sementara dari pihak keluarga meminta dia berhias dan dipajang di depan khalayak umum. Yang penting ditolak terlebih dahulu, jika tidak berhasil apa boleh buat. InsyaAllah perbuatan tersebut dimaafkan Allah, karena melakukannya dalam keadaan terpaksa.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ


Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa, dan dipaksa. (HR. Al-Baihaqi, hadist no. 15094).


Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :


الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما


Hukum itu berputar bersama illatnya (sebabnya), baik ketika illatnya ada maupun tidak ada.


Jika sebabnya karena orang tua yang memaksa, maka ada rukhsoh bagi perempuan, namun hendaklah dia menolaknya di dalam hati. Daripada tetap menolak, akhirnya acaranya tidak jadi dan lebih banyak lagi fitnah yang ditimbulkan karena pertengkaran tersebut dan segala kemungkinan lainnya. Oleh karnanya laksanakanlah, namun jika orang tua menerima agar tidak sang wanita tidak berhias dan kedua mempelai tidak dipajang di depan umum, maka itu lebih baik bagi kedua mempelai.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi 

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.