logo

Hukum Makan di Wadah Orang Kafir, Bolehkah? | Konsultasi Muslim



Islam adalah agama yang sempurna, setiap sesuatu diatur di dalamnya. Bahkan pertanyaan yang ditanyakan sekarang ternyata sudah ada jawabannya 1400 tahun yang lalu. Hebat bukan? Ya, itulah bukti kesempurnaan ajaran Islam dan tidak ada agama di dunia ini yang detail peraturannya selain agama Islam.

Salah satu yang diatur dalam Islam adalah makan dari wadah orang kafir. Para sahabat Rasulullah itu sangat cerdas, sehingga mereka bertanya mengenai agama mereka dan mereka mencintai agama yang mereka peluk. Apa yang hendak ditanyakan kaum muslimin sekarang ternyata telah ditanyakan oleh para sahabat Rasulullah sejak 1400 tahun yang lalu.

Lalu apa sih hukum makan dari wadah orang kafir?

Dari Abu Tsa’labah rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمُ الْخِنْزِيرَ وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمُ الْخَمْرَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَكُلُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا

Kami bertetangga dengan Ahli Kitab, mereka memasak babi di panci-panci mereka, dan meminum khamar di wadah-wadah mereka. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Jika kalian dapatkan selainnya maka gunakanlah (wadah itu) untuk makan dan minum. Jika kalian tidak mendapatkan selainnya, maka cucilah wadah (mereka) dengan air, lalu makan dan minumlah (dengan wadah tersebut). (HR. Abu Daud, hadist no. 3839).

Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim :

وهذا الحديث يقتضي كراهة استعمالها إن وجد غيرها ولا يكفي غسلها في نفي الكراهة وإنما يغسلها ويستعملها إذا لم يجد غيرها والجواب أن المراد النهي عن الأكل في آنيتهم التي كانوا يطبخون فيها لحم الخنزير ويشربون الخمر كما صرح به في رواية أبي داود وإنما نهى عن الأكل فيها بعد الغسل للاستقذار وكونها معتادة للنجاسة

Hadist ini menunjukkan makruhnya menggunakan wadah orang kafir jika masih ada selain itu dan tidak cukup hanya membersihkannya untuk meniadakan hukum makruh padanya. Dan membersihkan serta menggunakannya apabila tidak terdapat wadah lainnya. Jawabannya bahwa maksud pelarangan makan di wadah orang kafir adalah jika mereka pernah masak daging babi di wadah itu dan minum khomar di wadah tersebut  sebagaimana dijelaskan pada riwayat Abu Daud. Dan dilarang makan di wadah tersebut setelah dicuci karena najis dan keberadaannya yang biasa menjadi tempat najis. (Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, jilid 13 halaman 80).

Nah, maksud Imam An-Nawawi di atas adalah bahwa pelarangan makan dari wadah orang kafir di dalam hadis di atas jika orang kafir tersebut menjadikan wadah tersebut untuk memasak daging babi atau menjadikan wadahnya untuk minum khomar. Karena itu merupakan najis dan tidak boleh makan di dalam wadah tersebut. Adapun jika wadah tersebut tidak digunakan untuk memasak daging babi dan khomar, maka boleh menggunakan wadah mereka untuk makan dan minum. Namun, hendaklah dia mencucinya terlebih dahulu sebelum menggunakannya dan mencari wadah lain, jika tidak ditemukan wadah lain, maka barulah boleh memakai wadah tersebut untuk makan.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.