logo

Putus Cinta Menyakiti diri sendiri? | Konsultasi Muslim



Islam telah memperingatkan kepada pemeluknya jauh-jauh hari agar mencintai seseorang sewajarnya saja, agar tidak cinta buta dan ketika tidak bersamanya lagi, hati tidak merasa tersakiti.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya, bisa jadi suatu hari dia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya bis jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau sayangi. (HR. At-Tirmidzi, hadist no. 1997).

Selain itu, Islam juga melarang kepada setiap pemeluknya agar menjauhi pacaran, bonceng sana sini, keluar dan jalan bareng, sehingga jika kehidupannya bebas, kehidupan mereka sudah seperti layaknya pasangan yang baru menikah. Maka jangan heran seorang wanita disentuh bahkan direnggut kehormatannya oleh para lelaki hanya bermodalkan cinta. Dan itu terjadi pada sebagian anak-anak muda sekarang ini.

Betapa banyak anak-anak muda zaman sekarang terjebak cinta buta kepada pasangannya sehingga ketika dia putus cinta ada di antara mereka yang menyakiti dirinya sendiri karena sakit hati, entah dia telah disentuh lah, entah kehormatannya telah hilang karena pacarnya lah dan sebagainya. Begitulah jika hanya mementingkan nafsu dan tidak berniat menikah, semua akan sirna karena rasa bosan yang melandanya.

Tindakan menyakiti diri sendiri ini terjadi pada beberapa wanita, tubuhnya dilukai dengan silet, pisau dan bahkan ada yang bunuh diri disebabkan putus cinta. Bukan hanya perempuan saja, namun ada beberapa lelaki yang diberitakan seperti itu. Cinta buta, itulah yang terjadi hingga akhirnya menyakiti diri sendiri. Padahal di dalam Islam seorang muslim diperintahkan untuk menjauhi sesuatu yang bisa membahayakan dirinya sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain. (HR. Ahmad, hadist no. 2865).

Oleh karnanya, tidak boleh menyakiti diri sendiri dan juga orang lain karena Tindakan itu dilarang di dalam Islam. Dan menyakiti diri sendiri termasuk kezoliman dan merugikan diri sendiri. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang menzolimi dirinya sendiri.

Allah berfirman :

وَمَا ظَلَمْنَٰهُمْ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ۖ فَمَآ أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ ٱلَّتِى يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍ لَّمَّا جَآءَ أَمْرُ رَبِّكَ ۖ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS. Hud : 101).

Allah tidak menganiaya hamba-Nya, namun hamba-Nya lah yang menganiaya diri sendiri. Allah telah melarang pacarana karena akan menimbulkan dampak burukl bagi keduanya, namun tetap saja dilaksanakan dan tidak menghiraukan perintah Allah. Setelah disakiti dia mengeluh kepada Allah kenapa dirinya disakiti oleh pasangannya dan bahkan menyakiti dirinya sendiri, itu semua salahnya sendiri dan dia sendiri yang mencelakai dirinya sendiri karena Allah telah melarangnya.

Maka dari itu bagi para pemuda pemudi hendaklah menghindari cinta buta dan menghindari sesuatu yang Allah larang untuk dikerjakan. Jangan menjalin hubungan dengan lawan jenis jika tidak berniat menikah. Jika dia mencintaimu, dia akan mengajakmu menikah, bukan malah mengajakmu pacaran dan menikimati tubuhmu, setelah dia puas menikmati tubuhmu dia pergi meninggalkanmu. Hindarilah pacaran dan cinta buta agar tidak sakit di kemudian hari dan pada akhirnya menyakiti diri sendiri.

Ingatlah bahwa tindakan menyakiti diri sendiri itu merupakan tindakan bodoh yang tidak boleh dilakukan seorang muslim, apalagi hanya gara-gara putus cinta. Hindarilah karena menyakiti diri sendiri adalah Tindakan zolim yang diharamkan di dalam Islam jika dikerjakan oleh seorang muslim.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.