logo

Menasehati Bukan Memaksa | Konsultasi Muslim



Berdakawah memang tugas setiap orang yang mengetahui, tidak selamanya harus ustadz, kiyai, syekh dan lain sebagainya, tapi berdakwah adalah tugas setiap orang yang mengetahui. Karena pengertian berdakwah adalah mengajak, artinya mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Sekalipun dia bukan ustadz, namun jika dia mengetahui bahwa apa yang dilakukan saudaranya salah, maka dia harus mengajak saudaranya tersebut berbuat kebaikan dan mengajaknya untuk meninggalkan kemungkaran. Sekalipun baru hijrah dan baru mengetahui sedikit saja tentang agama, namun jika dia tau dan melihat kemungkaran, dia harus menyampaikan kebenaran tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat. (HR. Bukhari, hadist no. 3461).

Berdakwah hukumnya wajib bagi setiap muslim yang mengetahui dalam rangka mencegah kemungkaran yang dia lihat.

Allah berfirman :

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl : 125).

Bagaimana jika sudah dinasehati dia tidak mau mendengarkan? Haruskah dipaksa?

Berdakwah ada tata caranya, ketika menasehati seseorang kemudian dia tidak mau menerimanya otomatis kita harus memaksa mereka untuk mengikuti nasehat kita, sekalipun apa yang kita katakana itu benar dan berdasarkan Syari’at Islam, namun tugas kita hanya berdakwah, bukan memaksa orang lain untuk mengikutinya, apalagi memberi mereka hidayah karena hanya Allah sajalah yang bisa memberi hidayah kepada manusia. Bayangkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak bisa memberi hidayah kepada paman beliau Abu Thalib.

Allah berfirman :

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashas : 56).

Apalagi kita yang bukan siapa-siapa, tentunya juga tidak akan bisa memberi hidayah kepada manusia. Oleh karnanya Islam tidak pernah memaksa kepada setiap pemeluknya, namun ingat bahwa setiap sesuatu akan dipertanggung jawabakan di hadapan Allah kelak di hari kiamat.

Cukup menasehati mereka agar mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Ketika mereka tidak mendengarkan bukan lantas mereka halal untuk disakiti dan dipaksa agar mengikuti apa yang kita sampaikan dan cara seperti ini bukanlah cara yang diajarkan Islam kepada pemeluknya, tapi cara yang benar adalah cukup berdakwah kepadanya, nasehati dia agar mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan maka sudah selesailah tugas seorang muslim dalam menasehati muslim lainnya.

Jangan pernah memaksa seseorang harus mengerjakan seperti yang kau dakwahkan, karena dakwah itu dengan hikmah (kebijaksanaan), lemah lembut dan sabar. Hidayah itu semata-mata milik Allah. Jadi, sekuat apapun kau menasehatinya, namun jika dia tidak diberikan Allah hidayah, maka dia tidak akan mengikuti apa yang kau dakwahkan.

Sekali lagi, Islam tidak memaksa kepada setiap pemeluknya, namun ingat bahwa hari perhitungan itu pasti dan setiap perbuatan akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.