logo

Hukum Menjual Barang Yang Belum Dimiliki | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamu'alaikum ustadz. Saya mau tanya lagi tentang penjelasan hadist ini :

“Wahai Rasulullah, seseorang mendatangiku lantas dia menginginkan dariku menjual barang yang bukan milikku. Apakah aku harus membelikan untuknya dari pasar? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu. (HR. Abu Daud, no. 3505).”

Apakah termasuk di dalamnya jual beli online seperti yang sekarang ini sering berlaku di masyarakat kita? Saya seorang reseller yang biasanya memasarkan barang dari agen saya melalui sosmed, jadi posisi barang yang saya jual itu masih di agen saya. Kemudian ktika ada yang memesan barang ke saya, saya kemudian mengambilkan barang tersebut dr agen dengan harga reseller (lebih murah dari harga retail) apakah yang seperti saya lakukan ini termasuk dilarang Nabi?

Dari : Zubaidah Rusmaliya

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِى الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّى الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِى أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ فَقَالَ : لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

Wahai Rasulullah, seseorang mendatangiku lantas dia menginginkan dariku menjual barang yang bukan milikku. Apakah aku harus membelikan untuknya dari pasar? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu. (HR. Abu Daud, hadist no. 3503).

Maksud hadist ini adalah ketika transaksi dilakukan, barang tersebut belum dia miliki. Dia tidak tau ciri2 yang di inginkan pembeli ataupun dia tidak menyebutkan ciri-ciri yang akan dia jual. Karena akan dikhawatirkan ketika dia membelikannya, maka pembeli tidak cocok dengan barang yang ditawarkan kepadanya.

Dan barang yang dijual belum pernah di saksikan sama sekali oleh di pembeli, maka jual beli seperti ini dinamakan jual beli ghoib, tidak pernah disaksikan sama sekali.

Beda dengan jualan online, bentuk barang, harga barang, dan lainnya sudah dijelaskan, jadi pembeli sudah mengetahui kualitas dari barang tersebut, sehingga sekalipun di penjual mengambil ke agen atau toko tertentu. Namun barangnya tetap sama dengan yang dipajang di gambar tersebut.

Dan jual beli secara online seperti sekarang ini disebut juga jual beli salam. Apa itu jual beli salam?

Yaitu jual beli dengan pembayaran di awal, dan barangnya diserahkan di kemudian hari, di hari yang telah disepakati bersama. Dengan menyepakati bentuk barang, harga, jumlah barang yang akan dibeli, kualitas, tempat penyerahan serta hari penyerahan barang tersebut. Dan ini disepakati bersama. Jual beli online memakai transaksi semacam ini, dan tentunya diperbolehkan sekalipun barangnya belum dimiliki, namun telah disepakati, bentuk barang dan sebagainya.

Artinya penjual sudah tau bahwa apa yang dia jual sudah pasti ada, oleh sebab itu dia jual. Adapun jika misalnya tidak ada, maka biasanya pasti akan mengatakan barang sudah habis dan mengalihkan kepada barang lainnya.

وبيع شيء موصوف في الذمة فجائز وبيع عين غائبة لم تشاهد فلا يجوز

Dan jual beli yang bisa disifati dalam tanggungan hukumnya boleh. Sedangkan jual beli barang ghoib (tidak ada di tempat) yang belum pernah disaksikan, maka hukumnya tidak boleh. (Kifayatul Akhyar Fii Hilli Ghooyatil Ikhtishar, jilid 1 halaman 240).

Oleh sebab itu, sistem jual beli online tidak termasuk dalam hadist di atas, karena maksud hadist di atas adalah jual beli yang pembelinya tidak pernah menyaksikan barangnya sama sekali dan tidak tau bentuk barangnya seperti apa, kualitasnya seperti apa dan sebagainya.

Kalo jual beli online kan sudah dijelaskan di deskripsinya, bentuk barangnya, kualitasnya seperti ini, harga barangnya dan lain sebagainya. Semua telah diketahui.

Jadi jual beli online itu disebut juga jual beli salam, dan jual beli salam diperbolehkan di dalam Islam.

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu 'anhuma berkata :

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ ، وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلاَثَ ، فَقَالَ « مَنْ أَسْلَفَ فِى شَىْءٍ فَفِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

Dahulu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, penduduk Madinah mempraktekan jual beli buah-buahan dengan sistem salam, yaitu membayar di awal dan diterima barangnya setelah jangka waktu dua atau tiga tahun kemudian. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Siapa yang mempraktekkan salam dalam jual beli buah-buahan hendaklah dilakukannya dengan takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui, serta sampai waktu yang diketahui.(HR. Bukhari, hadist no. 2240).

Selain itu, barang yang dijual secara online itu jelas, hanya segelintir orang saja yang tidak jujur dalam berjualan. Dan jika terjadi kesepakatan dan ridho, maka berarti rela dengan apa yang akan terjadi setelahnya.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الرضى بالشيء رضى بما يتولد منه

Rela akan sesuatu berarti rela dengan konsekuensinya.

Mungkin barang yang dia pesan telat lah sampainya dan lain sebagainya, si pembeli juga harus tau konsekuensi dari belanja online.

Bagaimana jika yang di pesan berbeda warna dan bentuk barang? Apakah itu termasuk kecurangan dari penjual?

Jika si pembeli membeli barang secara online, dan dia memesan sesuai dengan yang di gambar, akan tetapi yang datang ke rumahnya barangnya tidak sesuai dengan yang dia pesan, seperti bentuk barangnya lain lah atau warnanya lain lah, maka ini merupakan bentuk kecurangan. Dan setiap kecurangan hukumnya haram dan tidak termasuk kedalam golongan baginda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Barangsiapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami. (HR. Muslim, hadist no. 101).

Maka dari itu bagi siapapun yang berjualan online harus jujur dalam berjualan.

Jika warnanya kebetulan habis seperti yang di pesan si pembeli, cepat beritahu. Jika bentuk barangnya habis seperti yang dipesan, beritahu juga. Dan jangan sampai memberikan barang yang tidak sesuai dengan kesepakatan di awal, karena hukumnya haram dan berdosa.

Semoga bisa dipahami.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.