logo

Hukum Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain di dalam Islam | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamualaikum, izin bertanya.

1. Jika di sini tadi ada penjelasan tentang larangan jika orang yang sudah menikah untuk memuji orang lain. Bagaimana jika ada orang yang malah mengagumi atau mengidolakan atau memuji seseorang yang sudah menikah? Posisi yang memuji ini belum menikah.

2. Bagaimana jika ada orang yang suka membanding-bandingkan pasangannya dengan pasangan orang lain. Apa solusinya ummi jika ada yang seperti ini?

Dari : Titin Atika

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

1. Perlu diketahui, bahwa mengagumi seseorang tidak dilarang di dalam Islam. Namun mengaguminya cukup hanya selayang pandang, tidak sampai berlebihan, apalagi yang dikagumi itu sudah menjadi pasangan orang lain.

Mengagumi itu boleh-boleh saja, tapi kagum karena ilmu yang dia miliki, bukan kagum karena ketampanan ataupun yang lainnya, karena jika mengagumi orangnya, apalagi sampai mengingat-ngingatnya, maka setan bisa menyesatkannya dari jalan yang lurus. Akan timbul perasaan di dalam hati misalnya dan segala hal yang bisa menjerumuskannya kepada hal yang dilarang di dalam Islam. Entah itu dia nge-chat yang bersangkutan di media sosial dan lain sebagainya.

Jangan memancing di air yang keruh, sekuat dan setinggi apapun tembok yang dibangun oleh seorang lelaki, baik dia lelaki biasa ataupun lelaki sholeh, maka tembok tersebut bisa roboh karena rayuan wanita.

Sekali lagi mengagumi itu tidaklah terlarang, selama dia mengagumi ilmu seseorang, bukan kagum disebabkan ketampanannya, kecantikannya, kekayaannya dan jabatannya. Namun murni karena ilmu yang dia punya.

Dan mengaguminya pun tidak boleh sampai berlebihan. Cukup hanya sekedar kagum saja, kemudian hilangkan perasaan itu dan jangan di ingat-ingat kembali.

2. Inilah akibat yang saya sebutkan di poin pertama tadi, bahwa berawal dari kagum, berubah menjadi suka dan setelah itu dia membanding-bandingkan pasangannya orang lain dengan. Dan orang seperti ini termasuk kufur nikmat. Dia tidak bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Pasangan yang Allah titipkan kepadanya adalah berupa nikmat yang besar. Dan dulunya dia menikah dengan pasangannya atas dasar cinta dan sayang. Namun, setelah melihat kelebihan orang lain dia membanding-bandingkan dengan pasangannya.


Bukankah setiap manusia tidak luput dari kekurangan? Hanya saja, kekurangannya tidak kau ketahui, sedangkan kekurangan pasanganmu sudah diketahui, itulah kenapa membandingkan orang lain dengan pasanganmu. Dan boleh jadi, kekurangannya lebih banyak dibandingkan pasanganmu.


Yang perlu diketahui adalah bahwa Allah tidak menilai seorang muslim dari rupa dan hartanya, tapi Allah menilai seseorang dari hatinya.


Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ


Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat hati dan amal kalian. (HR. Muslim, hadist no. 2564).


Jika hanya gara-gara pasangannya ada kekurangan lantas dia membanding-bandingkan dengan orang lain, maka ini merupakan perbuatan tercela yang harus dijauhi seorang muslim.


Ingatlah! Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Dan ini pasti ada pada setiap manusia.


Oleh sebab itu sebuah ungkapan menyebutkan :


من طلب أخا بلا عيب بقي بلا أخ


Barangsiapa yang mencari teman tanpa cela, maka selamanya dia tanpa teman.


Artinya tiada manusia yang sempurna di dunia ini. Karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Adapun makhluknya penuh dengan kekurangan. Dan siapa saja yang mencari teman, suami atau istri tanpa cela, maka hal itu tidak akan pernah dia dapatkan, karena manusia penuh dengan kekurangan dan manusia tempatnya lupa, salah dan dosa.


Membandingkan suami atau istri dengan orang lain bisa menjadikan seseorang berdosa, karena dia telah menyakiti hati pasangannya. Dan seseorang bisa terjerumus ke dalam jurang api neraka jika dia menganggap bahwa dia menganggap ringan telah menyakiti pasangannya.


Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم


Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka. (HR. Bukhari, Ad-Dhiya-u Al-Laami’ Min Shahihil Kutubis Sittah wa Shahihil Jaami’, jilid 1 halaman 472).


Ketahuilah, bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa, bukan orang yang ganteng, cantik dan sebagainya.


Allah berfirman :


إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ


Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat : 13).


Menikah itu menyempurnakan yang kurang dari suami istri, maka dari itu ada pernikahan, untuk melengkapi sesuatu yang kurang.


Apa solusinya? Tiada solusinya yang lebih baik daripada musyawarah dan berbincang-bincang dengan pasangan. Ingatkan dia bahwa setiap manusia penuh dengan kekurangan. Dan pernikahan ada disebabkan cinta dan sayang. Jika dia berniat menikah dengan seseorang, maka dia harus siap-siap melihat kekurangan dari pasangannya dan dia harus menerimanya, dan sebagai pasangan, dia bertugas untuk melengkapinya, bukan malah menjauhinya dan mencari yang lain. Kenapa? Karena jika dia mencari yang lain, yang lain itu nanti juga akan kurang.

Misalnya begini :

Si A kurang dalam hal nyuci pakaian. Si B ahli dalam tersebut.

Si A ahli dalam hal masak. Si B kurang dalam hal ini.

Nah, setiap orang punya kekurangan. Orang yang dia bandingkan dengan pasangannya itu pasti ada kurangnya. Karena tiada manusia yang sempurna.

Mudah-mudahan pasangan di luar sana lebih memperhatikan bagaimana adab ketika bersama pasangan.

Semoga bermanfaat.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.