logo

Benarkah Wanita Melamar Lelaki duluan Hukumnya Sunnah? | Konsultasi Muslim



Banyak sekali kita temukan poster dan kata-kata yang diposting beberapa wanita di media sosial yang menunjukkan sunnahnya hukum wanita melamar lelaki duluan. Mereka merujuk kepada hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik.

Dari Tsabit Al-Bunani rodhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Anas bin Malik bercerita :

جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَكَ بِي حَاجَةٌ؟ " فَقَالَتْ بِنْتُ أَنَسٍ: مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا، وَا سَوْأَتَاهْ وَا سَوْأَتَاهْ، قَالَ: «هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ، رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا»

Ada seorang wanita menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengatakan : “Ya Rasulullah, apakah anda ingin menikahiku?” Mendengar itu putri Anas pun berkata : “Betapa dia tidak tahu malu. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.” Anas menjawab : “Dia lebih baik dari pada kamu, dia ingin dinikahi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, hadist no. 5120).

Memang, berdasarkan hadist di atas bahwa wanita tidak mengapa jika melamar lelaki duluan, dengan syarat lelaki tersebut sholeh dan baik agamanya serta bisa membimbing wanita tersebut di dunia dan bisa membawanya ke surga Allah Subhanhu wa Ta’ala, bukan karena duniawi seperti ganteng, kaya, tinggi jabatannya dan lainnya. Oleh sebab itu hendaklah wanita memperhatikan hal itu sebelum melamar lelaki yang dia inginkan menjadi imamnya di dalam rumah tangga.

Tapi, betul gak sih hukum wanita melamar lelaki duluan hukumnya sunnah?

Imam Badruddin rohimahullah membuat sebuah bab di dalam kitabnya Umdatul Qori Syarah Shahih Bukhari yang berjudul Baabu ‘Ardhil Mar-ati Nafsaha ‘alar Rojulis Shoolih (Bab bolehnya wanita menawarkan dirinya untuk dinikahi lelaki sholeh). Beliau rohimahullah berkata :

أَي: هَذَا بَاب فِي بَيَان جَوَاز عرض الْمَرْأَة نَفسهَا على الرجل الصَّالح رَغْبَة لصلاحه، قيل: لما علم البُخَارِيّ الخصوصية فِي قصَّة الواهبة نَفسهَا للنَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم استنبط من الحَدِيث مَا لَا خُصُوصِيَّة فِيهِ، وَهُوَ جَوَاز عرض الْمَرْأَة نَفسهَا للرجل الصَّالح. انْتهى.

Artinya : Bab ini menjelaskan bolehnya wanita menawarkan dirinya agar dinikahi oleh lelaki sholeh karena dia mengagumi kebaikan lelaki tersebut. Sebagaimana yang diketahui, bahwa Bukhari membuat bab khusus tentang ini berdasarkan kisah seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah untuk dinikahi dan berdasarkan hadist ini bahwa tidak ada pengkhususan kepada siapapun. Dan hadist ini menunjukkan bolehnya seorang wanita menawarkan dirinya kepada lelaki sholeh untuk dinikahi. Selesai. (‘Umdatul Qori Syarah Shahih Bukhari, jilid 20 halaman 113).

Imam Syihabuddin rohimahullah mengomentari hadist di atas di dalam kitab Irsyaadus Saari Lisyarhi Shahihil Bukhari :

فيه جواز عرض المرأة نفسها على الرجل الصالح وأنه لا عار عليها في ذلك بل فيه دلالة على فضيلتها نعم إن كان لغرض دنيوي فقبيح.

Berdasarkan hadist ini bahwa bolehnya seorang wanita menawarkan dirinya kepada lelaki sholeh untuk dinikahi, dan itu bukanlah perbuatan tercela, melainkan hadist ini menjadi dalil atas keutamaannya. Namun, jika tujuannya untuk duniawi, maka hal itu dianggap buruk. (Irsyaadus Saari Lisyarhi Shahihil Bukhari, jilid 8 halaman 44).

Berdasarkan pendapat ulama di atas bahwa wanita yang melamar lelaki duluan hukumnya bukannya sunnah, akan tetapi hanya sekedar boleh saja. Karena jika hukumnya sunnah tentulah baginda Rasulullah akan menjelaskan akan kesunnahannya, namun perbuatan itu tidaklah tercela karena sifat Rasulullah yang tidak memprotes Tindakan prempuan yang menawarkan dirinya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Boleh-boleh saja wanita melamar lelaki duluan, namun tujuannya untuk akhirat bukan duniawi seperti karena kegantengannya, jabatannya yang tinggi ataupun kekayaan lelaki tersebut. Bukan karena itu, melainkan karena agama, akhlak dan kesholehan lelaki tersebut.

Sekali lagi, para ulama mengatakan bahwa hukumnya hanya sekedar boleh saja, tidak sampai kepada sunnah sebagaimana yang ditulis oleh beberapa wanita di media sosial.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.