logo

Mimpi Basah Saat Puasa, Batalkah Puasanya? | Konsultasi Muslim




Ketika seseorang tidur, maka dia tidak tau apa saja yang dia lakukan, dan orang yang tidur tidak sadar terhadap semua yang terjadi kepadanya. Oleh sebab itu ketika seorang muslim sedang tidur, maka dia dibebaskan dari dosa sampai dia bangun dari tidur.

Dari Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu berkata :

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

Diangkat (dibebaskan) pena dari tiga golongan : orang yang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai mimpi basah (baligh) dan orang gila sampai dia kembali sadar (berakal). (HR. Abu Daud, hadist no. 4403).

Berdasarkan hadist ini bahwa seorang muslim yang tidur kemudian mimpi basah dan mengeluarkan mani, maka tidaklah membatalkan puasanya, karena dia dalam keadaan tidak sadar dengan apa yang terjadi dan keluarnya mani bukan hasil dari usahanya sendiri, tapi terjadi karena mimpi dan hal itu di luar kendalinya.

Bagaimana hukum mimpi basah menurut para ulama?

Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab :


(أَمَّا) إذَا احْتَلَمَ فَلَا يُفْطِرُ بِالْإِجْمَاعِ لِأَنَّهُ مَغْلُوبٌ كَمَنْ طَارَتْ ذُبَابَةٌ فَوَقَعَتْ فِي جَوْفِهِ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ فَهَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ فِي دَلِيلِ الْمَسْأَلَةِ (وَأَمَّا) الْحَدِيثُ الْمَرْوِيُّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " لا يُفْطِرُ مَنْ قَاءَ وَلا مَنْ احْتَلَمَ وَلا مَنْ احْتَجَمَ " فَحَدِيثٌ ضَعِيفٌ لَا يُحْتَجُّ به وسبق بيانه في مسالة القئ والله تعالى أَعْلَمُ

Adapun jika dia mimpi basah saat puasa, maka tidaklah membatalkan puasa berdasarkan Ijma’ (kesepakatan ulama). Karena dia dikalahkan, sebagaimana halnya lalat yang terbang kemudian dia jatuh di lobangnya, dan hal ini terjadi di luar apa yang dia usahakan (di luar kehendaknya). Dan pendapat ini (yang mengatakan mimpi basah tidak membatalkan puasa, seperti lalat yang terbang, kemudian jatuh ke lobangnya tanpa kehendaknya) adalah pendapat yang mu’tamad (yang bisa dijadikan pegangan) berdasarkan dalil-dalil tentang masalah ini. Dan adapun hadist yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : Tidak membatalkan puasa orang yang muntah, orang yang mimpi basah dan orang yang berbekam. Maka hadist ini dho’if dan tidak bisa dijadikan hujjah dan telah kami jelaskan terdahulu pada masalah muntah. Wallahu Ta’ala a’lam. (Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, jilid 6 halaman 322).

Imam Al-Mawardi rohimahullah berkata di dalam kitab Al-Hawi Al-Kabir :

قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: أَمَّا مَنْ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنَ احْتِلَامٍ فَهُوَ عَلَى صَوْمِهِ إِجْمَاعًا، وَكَذَلِكَ لَوِ احْتَلَمَ نَهَارًا كَانَ عَلَى صَوْمِهِ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ

Imam Al-Mawardi berkata : Adapun orang yang junub sampai subuh karena mimpi basah, maka dia tetap berpuasa (puasanya sah) menurut Ijma’ (kesepakatan ulama). Dan begitu juga jika diam impi basah di siang hari, maka dia tetap berpuasa (puasanya sah) menurut kesepakatan ulama. (Al-Hawi Al-Kabir, jilid 3 halaman 414).

Oleh sebab itu, jika seorang muslim mimpi basah ketika tidur di siang hari saat puasa, maka dia tetap harus melanjutkan puasanya, karena puasanya sah dan tidak batal, begitu menurut Ijma’ (kesepakatan ulama). Dan seorang muslim tidak perlu cemas lagi memikirkan apakah puasanya batal atau tidak, karena para ulama jauh-jauh hari telah menjelaskan permasalahan ini.

Ketika dia mimpi basah di siang saat puasa, baik di bulan Ramadhan maupun di hari biasa saat puasa sunnah, baik lelaki ataupun perempuan, jika diam mimpi basah, maka hendaklah dia mandi junub dan melanjutkan puasanya, karena puasanya dan tidak batal.

Semoga bisa dipahami.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.