logo

Bolehkah Berkumur-Kumur dan Beristinsaq Saat Puasa? | Konsultasi Muslim



Berkumur-kumur dan beristinsaq ketika berwudhu’ hukumnya sunnah menurut para ulama. Dan ini merupakan salah satu penyempurna wudhu’.

Dasarnya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ

Apabila engkau berwudhu’, maka berkumur-kumurlah. (HR. Abu Dawud, hadist no. 144).

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ


Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu’, maka hendaklah dia menghirup air ke lubang hidungnya (istinsyaq), lalu dia keluarkan (istintsar). (HR. Muslim, hadist no. 237).

Namun bagaimana hukumnya jika berkumur-kumur dan beristinsaq saat puasa di siang bulan Ramadhan?

Imam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata di dalam kitab Majmu A-Fatawa :

أَمَّا الْمَضْمَضَةُ وَالِاسْتِنْشَاقُ فَمَشْرُوعَانِ لِلصَّائِمِ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ. وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصَّحَابَةُ يَتَمَضْمَضُونَ وَيَسْتَنْشِقُونَ مَعَ الصَّوْمِ. لَكِنْ قَالَ لِلَقِيطِ بْنِ صَبِرَةَ: " {وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا} فَنَهَاهُ عَنْ الْمُبَالَغَةِ؛ لَا عَنْ الِاسْتِنْشَاقِ

Adapun berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air dalam hidung) maka keduanya disyari’atkan (boleh dilakukan) bagi orang yang berpuasa menurut kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat juga berkumur-kumur dan beristinsyaq ketika berpuasa. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Laqith bin Shabirah : “Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (menghirup air dalam hidung) kecuali jika engkau berpuasa. Yang dilarang saat puasa di sini adalah dari berlebih-lebihan ketika istinsyaq. (Majmu A-Fatawa, jilid 25 halaman 266).

Oleh sebab itu berkumur-kumur ketika bewudhu’  saat puasa hukumnya boleh, hanya saja tidak dilakukan berlebih-lebihan, apalagi air bekas kumur-kumur tersebut sampai tertelan, maka bisa membatalkan puasa jika dilakukan dengan sengaja.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.