logo

Hukum Berbuka Puasa Dengan Yang Manis Menurut Ulama | Konsultasi Muslim



Banyak yang mengatakan bahwa berbuka puasa dengan yang manis-manis, dan pernyataan ini mashur (terkenal) di masyarakat-masyarakat Indonesia. Sebenarnya, sunnah berbuka puasa bukanlah dengan yang manis-manis, akan tetapi sunnah berbuka puasa dengan kurma ataupun air putih, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Anas bin Malik berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَتَمَرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab (kurma basah) maka dengan tamr (kurma kering), jika tidak ada tamr (kurma kering), maka beliau minum beberapa teguk air. (HR. Ahmad, hadist no. 12676).

Di dalam hadist lain dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhobiyyi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ، فَإِنَّهُ طَهُورٌ»

Apabila salah seorang di antara kamu hendak berbuka, maka berbukalah dengan kurma, jika dia tidak menemukan kurma, maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu suci. (HR. Ahmad, hadist no. 16228).

Berdasarkan hadist di atas, bahwa sunnah berbuka puasa itu dengan kurma, jika tidak menemukan kurma, maka hendaklah dia berbuka dengan air putih. Bukan dengan yang manis-manis, tapi mendahulukan kurma, jika tidak ada, minum air putih.

Berbuka dengan yang manis-manis itu adalah ijtihad ulama, bukan hadist Nabi. Dan jika ada Hadist bertemu dengan Ijtihad ulama, maka tentunya kita harus mendahulukan Hadist daripada Ijtihad ulama tersebut.

Imam Ar-Rauyani rohimahullah berkata di dalam kitab Kifayatul Akhyar :


وَيسْتَحب أَن يفْطر على تمر وَإِلَّا فعلى مَاء للْحَدِيث وَلِأَن الحلو يُقَوي وَالْمَاء يطهر وَقَالَ الرَّوْيَانِيّ إِن لم يجد التَّمْر فعلى حُلْو لِأَن الصَّوْم ينقص الْبَصَر وَالتَّمْر يردهُ فالحلو فِي مَعْنَاهُ

Dan dianjurkan berbuka dengan kurma, dan  jika tidak ada maka dengan air, berdasarkan Hadits ini. karena yang manis-manis itu menguatkan tubuh dan air itu membersihkan tubuh. Ar Rauyani berkata : “Kalau tidak ada kurma maka dengan yang manis-manis. Karena puasa itu melemahkan pandangan dan kurma itu menguatkannya, dan yang manis-manis itu semakna dengan kurma.” (Kifayatul Akhyar, jilid 1 halaman 200).

Imam Ar-Rauyani mengatakan seperti itu, namun tetap harus mendahulukan kurma. Dan mudah-mudahan pendapat beliau di atas maksudnya setelah seseorang tidak mendapatkan kurma dan air putih, hanya ada yang manis-manis, maka boleh berbuka dengan yang manis-manis. Dan mudah-mudahan maksud beliau seperti itu. Dan kita hanya bisa berhusnudzon kepada beliau rohimahullah.

Pendapat di atas dikritisi oleh Imam An-Nawawi dan Imam Ar-Rofi’i.

Zainuddin Al-Malibari berkata di dalam kitab Fathul Mu’in :

قال الشيخان : لا شيء أفضل بعد التمر غير الماء فقول الروياني: الحلو أفضل من الماء ضعيف

Syaikhan (An-Nawawi dan Ar-Rafi’i) berkata : “Tidak ada yang lebih afdhal dari kurma selain air minum”. Maka pendapat Ar-Rauyani bahwa makanan manis itu lebih afdhal dari air adalah pendapat yang lemah. (Fathul Mu’in, jilid 1 halaman 274).

Maka dari itu Imam An-Nawawi dan Imam Ar-Rofi’i mengatakan tidak ada yang lebih afdol setelah kurma kecuali air . Hal ini berdasarkan Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang disebutkan di atas.

Kesimpulan :

1. Sunnah berbuka puasa dengan kurma basah, jika tidak ada, maka dengan kurma kering, jika tidak ada maka dengan air putih. Hal ini berdasarkan Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Berbuka dengan yang manis-manis bukan Hadist Nabi, tapi bagian dari Ijtihad Imam Ar-Rauyani pengarang kitab Kifayatul Akhyar.

3. Makan atau minum dengan yang manis-manis itu boleh, tapi hendaklah mendahulukan yang disunnahkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu, yaitu kurma atau air. Setelah makan kurma atau minum air, maka silahkan minum atau makan yang manis-manis, namun tetap mendahulukan yang disunnahkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu kurma atau air putih.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.