logo

Wanita Sarjana Jangan Takut Jadi Ibu Rumah Tangga | Konsultasi Muslim



Banyak wanita sarjana yang menjadi minder ketika dia hanya duduk di dalam rumah sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga). Minder karena teman-temannya dan masyarakat di sekitarnya nyinyir terhadap dirinya. Ntah itu dikatakan di depan dirinya lah, ataupun di dengar dari tetangga dan sebagainya.

Memang, rata-rata wanita menginginkan pekerjaan yang layak setelah menjadi sarjana. Namun yang harus diperhatikan adalah seorang wanita di atur kehidupannya dalam urusan bekerja. Jangan sampai dengan pekerjaannya bisa melalaikan tugas dia sebagai seorang istri. Seperti memasak, menyapu ataupun ngepel dan pekerjaan rumah lainnya. Itu sebabnya seorang lelaki menempatkan perempuan (istri) di rumah saja untuk mengurus itu semua.

Banyak yang mencela perempuan sarjana hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga. Dia tidak tau bahwa pekerjaan rumah tangga jauh lebih mulia daripada dia bekerja, tapi melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Apalagi di tempat kerjanya bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Ini semakin tidak baik karena akan mendatangkan fitnah bagi laki-laki dan perempuan tersebut.

Beda jika seorang perempuan di rumah, dia membersihkan rumahnya, mencuci pakaian suaminya, memasak untuk suaminya, sehingga ketika sampai di rumah suaminya tau bersih dengan rumah dan makanan yang telah terhidang di meja makan. Bukankah yang di dapat perempuan pahala karena telah mengerjakan semua itu? Coba bayangkan jika suami istri menyewa seorang pembantu di rumahnya, tentunya akan mengeluarkan uang berjuta-juta untuk menggaji pembantu tersebut.

Duhai wanita sarjana, pekerjaan IRT (Ibu Rumah Tangga) bukanlah hina, bahkan kalian lebih selamat dari firnah daripada wanita-wanita yang bekerja di luar sana yang di tempat pekerjaannya bercampur baur antara laki-laki dan perempuan.


Apakah yang dikerjakan perempuan di rumah tersebut berpahala?

InsyaAllah akan mendapatkan pahala. Karena dia membantu pekerjaan suaminya, sebab pada dasarnya pekerjaan rumah bukanlah tugas wanita, namun karena di negara kita mempunyai adat perempuan memasak dan mengerjakan rumah, maka sang istri yang mengerjakan itu semua. Tentunya ini terhitung membantu pekerjaan suami dan berpahala jika wanita tersebut mengerjakan ini semua.

Allah berfirman :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Maka Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasan nya. (QS. Al-Zalzalah : 7).

Jadi, sekecil apapun kebaikan yang dilakukan, tetap memperoleh pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dari itu jangan pernah minder dan tidak percaya diri apabila seorang wanita sarjana menjadi IRT (Ibu Rumah Tangga). Karena selain membantu pekerjaan suami, ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi sibuah hati. Oleh sebab itu dengan banyaknya waktu dia di rumah, dia akan mudah memperhatikan anak-anaknya dan mengajari anak-anaknya ilmu, lebih-lebih mengajarkan kepada anak-anak-anaknya ilmu agama, tentunya akan bermanfaat sampai di dewasa nanti, bahkan sampai mati pun ilmu agama yang diajarkan akan digunakan oleh sang anak tersebut.

Semoga wanita-wanita sarjana yang tinggal di rumah lebih semangat lagi setelah ini, sebab pahala menantimu setiap waktu.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.