logo

Tidur Saat Puasa, Apakah Bernilai Ibadah? | Konsultasi Muslim




Perlu diketahui bahwa setiap amal perbuatan tergantung kepada niatnya. Jika niatnya baik, maka akan baik pula hasilnya dan bisa bernilai pahala, namun apabila niatnya tidak baik, sekalipun perbuatan tersebut baik, maka dia tidak mendapatkan apa-apa dari apa yang telah dia kerjakan.

Dari Umar bin Khattab rodhiyallahu ‘anhu bahwa dia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang dia tuju. (HR. Bukhari, hadist no. 1).

Berdasarkan hadist ini bahwa setiap perbuatan, yang di nilai pertama kali adalah niatnya. Baik ataukah buruk. Maka dari situ ditentukan, dia mendapat pahala atau tidak, dan itu tergantung niatnya, baik ataukah buruk.

Begitu juga dalam masalah tidur di siang Ramadhan. Tidur merupakan perkara mubah (boleh) yang biasa ada pada setiap manusia dan tidak ada satu manusia pun yang tidak tidur. Semuanya pasti tidur di waktu-waktu yang diperlukan.

Adapun mengenai tidurnya orang yang berpuasa di siang hari, Imam Al-Ghozali menuliskan hadist tentang tidurnya orang yang berpuasa di dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin.

Dari Abdullah bin Abi Aufa berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan. Do’anya dikabulkan dan dosanya diampuni. (HR. Al-Baihaqi, hadist no. 3652).


Hadist di atas dinilai lemah oleh para ulama sehingga tidak bisa dijadikan hujjah dalam masalah pahala. Lalu bisakah sesuatu yang mubah bernilai pahala di sisi Allah? Jawabannya bisa.

Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim :

أَنَّ الْمُبَاحَ إِذَا قُصِدَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ تَعَالَى صَارَ طَاعَةً وَيُثَابُ عَلَيْهِ

Bahwa perbuatan mubah (boleh), jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi ketaatan dan akan diberi ganjaran (pahala) baginya. (Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, jilid 11 halaman 77).

Maka dari itu sangat bisa sekali tidurnya orang yang berpuasa di siang hari mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الحكم يدور مع العلة، وجودا وعدما

Hukum itu berputar bersama illatnya (sebabnya), baik ketika illatnya ada maupun tidak ada.

Periciannya sebagai berikut :

1. Jika niat dia tidur misalnya untuk menguatkan dia melaksanakan shalat tarawih berjama’ah di masjid, tadarus dan mengerjakan amalan lainnya di malam hari, maka niat seperti ini bisa mendapatkan pahala dari Allah.

Dengan catatan, dia tidak tidur sepanjang hari karena tubuhnya tidak sempurna menahan rasa lapar disebabkan dia tidur sepanjang hari.

2. Jika niat dia tidur hanya untuk menahan rasa lapar sampai batas yang dia tentukan, tidak ada niat lainnya, maka tidur yang seperti ini bisa jadi tidak bernilai pahala, karena perkara mubah tidak dinilai pahala kecuali setelah dirubah niatnya menjadi niat dalam rangka ibadah, seperti contoh di atas bahwa niat dia tidur dalam rangka agar tubuhnya kuat untuk melaksanakan ibadah di malam harinya.

Oleh sebab itu perbaiki niat tidur di siang Ramadhan dan niatkan tidur di siang harinya untuk menguatkan ibadah di malam harinya. InsyaAllah bernilai pahala di sisi Allah Subahanhu wa Ta’ala.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.