logo

Hukum Bermaaf-Maafan Sebelum Ramadhan | Konsultasi Muslim



Memang, pada hakikatnya bermaaf-maafan sebelum Ramadhan tidaklah dilarang dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam, sebab saling bermaaf-maafan bisa dilakukan kapan saja. Hanya saja menyandarkan sebuah Hadist atas nama baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, inilah yang menjadi masalah.

Ada yang disangka Hadist oleh kaum muslimin, dan sumbernya berasal dari kitab Durrotun Nasihin, bunyinya seperti ini :

“Ketika Rasulullah sedang berkhutbah, maka beliau mengatakan Aamiin sampai 3 kali, maka sahabatpun heran dan mereka ikut mengatakan Aamiin. Setelah selesai shalat jum’at para sahabat bertanya kepada Rasulullah, maka Rasulullah menjawab : “Ketika aku sedang berkhutbah, malaikat Jibril datang dan berdo’a : 1. Ya Allah jangan terima puasa orang yang sebelum Ramadhan masih memiliki salah kepada orang tuanya dan belum meminta maaf. 2. Ya Allah jangan terima puasa istri yang belum meminta maaf kepada suaminya sebelum Ramadhan. 3. Ya Allah jangan terima puasa orang yang belum bermaaf-maafan dengan orang-orang disekitarnya.”

Kurang lebih bunyi kalimatnya seperti di atas yang tertulis di kitab Durrotun Nasihin, tapi ditulis dengan bahasa arab.

Nah, kalimat di atas bukanlah termasuk Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bisa dijadikan hujjah bermaaf-maafan sebelum Ramadhan.

Lalu bolehkah bermaaf-maafan sebelum Ramadhan?

Jawabannya boleh. Dan dalil yang dipakai adalah dalil umum.

Allah berfirman :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’raf :199).

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali-Imran : 134).

Artinya kita diperintahkan untuk saling memaafkan dan bermaaf-maafan bisa dilakukan kapan saja tanpa terikat waktu.

Bolehkah dilakukan sebelum Ramadhan?

Seperti yang diterangkan di atas bahwa bermaaf-maafan bisa dilakukan kapan saja, termasuk sebelum Ramadhan dan hal itu tidak dilarang dan tidak bertentangan di dalam Islam.

Bukankah mengkhususkan sesuatu itu dilarang?

Imam Ibnu Hajar membuat sebuah bab di dalam kitab Fathul Baari tentang bolehnya mendatangi masjid Quba’ berjalan kaki dan berkendaraan.

Kemudian Imam Ibnu Hajar rohimahullah berkata :

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ عَلَى اخْتِلَافِ طُرُقِهِ دَلَالَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيصِ بَعْضِ الْأَيَّامِ بِبَعْضِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ

Hadist ini, dengan jalur-jalurnya yang berbeda, mengandung dalil bolehnya menentukan sebagian hari, dengan sebagian amal shalih dan boleh melakukannya secara terus-menerus. (Fathul Baari, jilid 3 halaman 69).

Imam Ibnu Hajar mengatakan bolehnya mengkhususkan hari tertentu untuk melakukan amal sholeh dan dilakukan secara terus-menerus.


Begitu juga dengan tradisi bermaaf-maafan sebelum Ramadhan. Hal ini baik dan tidak ada yang bertentangan dengan syari’at Islam.

Loh inikan bid’ah, tidak boleh dikerjakan dong? Apalagi dikhususkan di waktu tertentu, kan bisa dilakukan kapan saja.

Orang yang mengatakan bermaaf-maafan sebelum Ramadhan bid’ah dan sesat, maka dia berarti tidak memahmi pengertian bid’ah yang benar. Apa pengertian bid’ah yang benar?

Di dalam kitab Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal disebutkan :

وقال الحافظ ابن رجب الحنبلي: والمرادُ بالبدعة : ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يَدُل عليه، أما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه، فليس ببدعة شرعاً، وإن كان بدعة لغة.

Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata : “Yang dimaksud bid’ah itu adalah perkara baru yang tidak ada sumber syariah sebagai dalilnya. Sedangkan perkara baru yang bersumber dari syariah sebagai dalilnya, tidak termasuk perkara bid’ah menurut syara’ (agama), meskipun masuk kategori bid’ah menurut bahasa”.

وقال الحافظ ابن حجر : والمراد به ما أحدث وليس له أصل في الشرع ويسمى في عرف الشرع بدعة، وما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة.

Ibnu Hajar berkata : “Yang dimaksud perkara baru (bid’ah) adalah tidak ada sumber dalilnya dari syara’ (agama), maka dia disebut bid’ah. Adapun perkara baru yang ada dalilnya dari syara’ (agama), maka tidak termasuk perkara bid’ah.

(Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal, jilid 22 halaman 238).

Kesimpulan dari 2 pendapat ulama di atas :

1. Jika perkara baru tersebut ada dalilnya dari syara' (agama) baik dalilnya berasal dari Al-Qur'an maupun Hadist, dan tidak bertentangan dengan syari'at Islam, maka tidak termasuk perkara bid'ah.

2. Jika perkara baru tersebut tidak ada dalilnya dari syara' (agama), tidak ada dalil dari Al-Qur'an dan Hadist, maka termasuk perkara bid'ah.

Jadi, syarat tidak disebut bid'ah adalah perkara baru tersebut :

1. Ada dalilnya, baik berasal dari Al-Qur'an, maupun dari Hadist Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

2. Tidak bertentangan dengan syari'at Islam.

Dan bermaaf-maafan sebelum Ramadhan tidak termasuk bid'ah karena memenuhi 2 syarat di atas. Ada dalilnya dan tidak bertentangan dengan syari'at Islam.

Bid’ah yang sesat itu jika :

1. Tidak ada dalil pendukungnya sama sekali dari Al-Qur’an dan Hadist.

2. Isi dari amalan yang dia lakukan itu bertentangan dengan syari’at Islam. Contoh : “Dia melakukan shalat zuhur 5 raka’at, maka ini bertentangan dengan syari’at Islam, karena dalil raka’at shalat zuhur hanya 4 raka’at. Intinya isi amalannya bertentangan dengan syari’at Islam. Bukan karena amalan tersebut dikerjakan di waktu tertentu lantas disebut bid’ah sesat. Tentunya dia tidak paham pengertian bid’ah dan apa-apa saja syarat dikatakan bid’ah tersebut sesat.

Selagi ada dalilnya, maka tidak boleh dikatakan bid’ah. Dan bermaaf-maafan ada dalilnya dan dalilnya umum. Bisa dilakukan kapan saja, bukan hanya sebelum Ramadhan. Kebanyakan kaum muslimin juga melakukan sebelum Idul Fitri dan Ketika idul fitri. Dan tradisi ini tidaklah menyalahi syari’at Islam dan boleh-boleh saja dilakukan. Sebab, ada dalil umum yang mendukungnya. Selama ada dalil yang mendukungnya, maka tidak bisa disebut bid’ah.

Mengapa banyak kaum muslimin yang meminta maaf sebelum Ramadhan? Baik melalui sms, chat ataupun secara langsung?

Semua itu dilakukan tidak lain dan tidak bukan dia ingin terbebas dari dosa dan dia bisa tenang menjalani puasanya. Karena bisa jadi dia tidak tenang mengerjakan puasa sementara dia masih mempunyai salah kepada orang lain. Bisa jadi dengan datangnya bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan, dia ingin apa yang dia lakukan tidak sia-sia. Maka dari itu dia meminta maaf kepada yang dulu dia sakiti. Bagaimana mungkin dia berpuasa sementara ada orang yang masih tersakiti olehnya.

Maka dari itu berhusnudzon kepada sesama muslim lebih didahulukan daripada su’udzon (berprasangka buruk) terhadap sesama muslim. Kenapa jika ada amalan kaum muslimin yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam berkomentar pedas kepada mereka? Kenapa orang-orang yang jelas-jelas bermaksiat tidak dikomentari? Ada apa sebenarnya? Maka ini patut dipertanyakan.
Sudah bukan zamannya saling menyalahkan. Apalagi merasa benar sendiri tanpa mau mendengar hujjah orang lain. Tentunya hal ini tidaklah disukai di dalam Islam.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.