logo

Bolehkah Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Corona? | Konsultasi Muslim



Puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib bagi muslim dan muslimah yang telah baligh berakal.

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 183).

Namun, ada orang-orang yang Allah beri keringanan untuk tidak berpuasa, seperti orang yang sedang sakit, seorang yang akan melakukan perjalanan, ibu hamil, ibu menyusui, orang tua dan lain-lain.

Apakah Boleh Tidak Berpuasa Ramadhan Karena Corona?

Orang-orang yang tidak ada udzur apapun, maka wajib hukumnya berpuasa dan tidak boleh seenaknya tidak berpuasa, karena puasa di bulan Ramadhan merupakan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tujuan tidak berpuasa kan untuk menjaga imun tubuh agar tidak diserang corona. Karena kalo lemas bisa saja terserang corona. Berarti tidak apa-apa dong?

Banyak orang menyangka bahwa imun tubuh bertambah hanya dari makanan saja, padahal menurut beberapa referensi, ketika dia berpuasa, dan semangat, tenang dan senang, maka bisa meningkatkan imunitas tubuh. Jadi, tidak ada alasan sebetulnya untuk tidak berpuasa bagi orang-orang yang tidak mempunyai udzur apapun.

Bagaimana dengan para dokter yang menangani pasien covid 19? Bolehkah untuk tidak berpuasa?

Ada sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الحجة قد تنزل منزلة الضرورة

Hajat (Kebutuhan) terkadang menempati posisi darurat.

Artinya, para dokter yang menangani pasien corona memang membutuhkan imun yang cukup bagi tubuhnya, karena mereka menangani pasien covid 19 secara langsung dan jika imun mereka menurun dan tidak sesuai standar yang telah ditetapkan, maka bisa jadi mereka akan tertular virus corona tersebut. Maka boleh-boleh saja bagi dokter tersebut untuk tidak berpuasa dalam rangka menjaga imun tubuhnya agar tidak tertular virus corona.

Selain itu dalam rangka mencegah kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat. Memang berpuasa lebih baik daripada tidak berpuasa, namun jika memang dikhawatirkan membahayakan diri sendiri karena imun tubuhnya tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan, maka boleh untuk tidak berpuasa.

Ada 2 qoidah yang bisa dipakai di sini :

1. Mencegah kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.


Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Mencegah kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.

2. Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.

Qoidah ini berasal dari Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dari Ibnu Abbas berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain. (HR. Ibnu Majah, hadist no. 2341).

Oleh sebab itu sebelum datang mudorot bagi diri sang dokter, maka hendaklah dicegah dengan tidak berpuasa dan makan secukupnya untuk meningkatkan imun tubuh dan jika dikhawatirkan membahayakan diri sendiri, maka dia boleh untuk tidak berpuasa Ramadhan karena ada illat (sebabnya) dia tidak berpuasa, dan udzur tersebut syar’i, bisa diterima dalam syari’at Islam.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الحكم يدور مع العلة، وجودا وعدما

Hukum itu berputar Bersama illatnya (sebabnya), baik ketika illatnya ada maupun ketiaka tidak ada.

Ulama Inggris baruu-baru ini mengeluarkan fatwa bahwa tenaga medis boleh untuk tidak berpuasa jika berpotensi membahayakan pada perawatan pasien corona, atau bisa membahayakan diri sendiri.

Selain itu MUI Sumatera Utara telah mengeluarkan fatwa bahwa dokter yang menangani pasien corona tetap harus berniat di malam hari. Dan apabila di siang harinya merasa kesulitan, maka boleh berbuka dan mengqodho’nya (menggantinya) di hari lain.

Kesimpulan :

Berdasarkan fatwa ulama Inggris dan MUI Sumatera Utara, dokter yang menangani pasien covid 19 boleh untuk tidak berpuasa jika dikhawatirkan bisa membayakan diri sendiri dan bisa membahayakan pada perawatan pada pasien covid 19 karena membuat sang dokter lemah dan tidak konsentrasi. Maka dari itu dia boleh tidak berpuasa. Atau dia berniat terlebih dahulu, jika dirasa ada kesulitan dengan daya tahan tubuhnya, maka dia boleh berbuka seperti yang dikatakan oleh MUI Sumatera Utara di atas.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.