logo

Bolehkah Shalat Tarawih di Rumah Karena Corona? | Konsultasi Muslim



Saat ini wabah corona masih tetap terus menyebar dan terus menular dari orang ke orang. Korbannya pun bukan hanya ratusan, tapi ribuan jumlahnya, dan tak sedikit juga yang meninggal dunia dengan perantara corona ini. Oleh sebab itu MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa tentang shalat jum’at dan shalat tarawih yang dilakukan secara berjama’ah.

Dalam hal ini MUI (Majelis Ulama Indonesia) membagi kedalam 2 tingkat :

1. Jika daerah tersebut sudah ditetapkan zona kuning dan merah, maka melaksanakan shalat 5 waktu, shalat jum’at dan shalat tarawih berjama’ah dilakukan di rumah dan tidak dilakukan di rumah.

2. Jika daerah tersebut masih zona hijau sehingga tidak ada ancaman apapun, maka daerah tersebut tetap melaksanakan shalat 5 waktu, shalat jum’at dan shalat tarawih berjama’ah dilaksanakan masjid.

Kenapa MUI (Majelis Ulama Indonesia) menganjurkan untuk shalat di rumah bagi daerah-daerah yang telah ditetapkan sebagai zona kuning dan merah? Karena untuk memutus mata rantai penyebaran covid 19 dan agar tidak banyak yang tertular penyakit covid 19 ini.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.

Berdasarkan qoidah ini maka Majelis Ulama Indonesia menganjurkan untuk sementara untuk tidak melakukan shalat berjama’ah di masjid. Dan sebelum terjadi banyak kemudorotan, makanya MUI terlebih dahulu melarangnya.

Dari Ibnu Abbas berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain. (HR. Ibnu Majah, hadist no. 2341).

Jika dalam kedokteran mengenal istilah : “Mencegah lebih baik daripada mengobati”, begitu pula di dalam Islam. Islam sudah lebih dulu menerapkan : Mencegah kemudorotan lebih di dahulukan daripada mengambil manfaat. Dan tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.

Jadi, kaum muslimin yang berada pada zona kuning dan merah hendaknya mematuhi fatwa yang dikeluarkan oleh MUI, yaitu shalat tarawih di rumah, bukan di masjid.

Fatwa dari lembaga Fatawa Sabakah Al-Islamiyyahtentang bolehnya shalat tarawih di rumah :

وصلاة الرجل التراويح في البيت أفضل إذا كانت بنية حث أهل البيت عليها، ورغبة في عدم تركهم لها، لما في ذلك من إعانتهم على إحياء السنة، وتحصيل الخير

Shalat tarawih yang dilakukan di rumah lebih afdhol apabila diniatkan untuk mendorong (memotivasi) keluarga di rumah untuk shalat, dan membiasakan mereka untuk tidak meninggalkan tarawih. Karena ini berarti membantu mereka untuk menghidupkan sunah dan mendapatkan kebaikan. (Fatawa Sabakah Al-Islamiyyah, jilid 11 halaman 9549).

Oleh sebab itu, shalat tarawih boleh dilakukan di rumah, apalagi dalam situasi pandemic corona seperti sekarang yang mengharuskan untuk shalat tarawih di rumah. Ikuti fatwa ulama, karena para ulama berbicara dengan ilmu. MUI mengeluarkan fatwa dengan mengkaji Hadist-hadist Rasulullah serta pendapat-pendapat ulama terlebih dahulu. bukan mengeluarkan fatwa dengan hawa nafsu. Jadi para ulama lebih tau apa yang harus dilakukan kaum muslimin dan tau kebaikan dan kemudorotan yang ditimbulkan bagi kaum muslimin.

Semoga kaum muslimin yang berada pada zona kuning dan merah mengikuti anjuran MUI untuk shalat tarawih di rumah, dalam rangka mencegah penyebaran vidur corona ini. Adapun daerah-daerah yang masih zona hijau dan masih aman dari virus corona, maka diperbolehkan oleh MUI untuk shalat tarawih berjama’ah di masjid. Namun untuk kehati-hatian, tetap tidak melakukan shalat tarawih berjam’ah di masjid lebih selamat, karena sekalipun masih zona hijau, kita tidak tau jama’ah yang hadir darimana saja. Boleh jadi dia pernah melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang sudah dinyatakan zona kuning dan zona merah. Ketika dia ikut shalat berjama’ah, dikhawatirkan akan menularkan virus tersebut kepada banyak orang yang berada di dalam masjid. Kecuali di kampung terpencil misalnya yang tidak membolehkan orang luar masuk ke kampung tersebut dan masih aman dari virus corona, maka yang seperti ini insyaAllah masih boleh melakukan shalat tarawih secara berjama’ah di masjid.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.