logo

Bolehkah Menyanyikan Lagu Aisyah Istri Rasulullah? | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ustadz.

Saya mau bertanya apa hukumnya menyanyikan lagu Aisyah istri Rasulullah? Apakah termasuk perilaku tidak beradab karna menyebut-nyebut fisik istrinya Rasulullah?

Dari : Nanda Habibah

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya melalui tanya jawab grup kajian Whatsapp

Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Menyanyikan lagu Aisyah rodhiyallahu ‘anha tidaklah masalah dan hukumnya boleh karena liriknya juga bagus dan banyak pelajaran yang diambil dari lagu tersebut. Dan lirik lagu Aisyah istri Rasulullah berdasarkan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ustadz, tapi kan di dalam lagu tersebut menyebutkan fisik Aisyah, apakah boleh?

Perlu diketahui bahwa yang disebuitkan di dalam lirik tersebut :

Mulia indah cantik berseri
Kulit putih bersih merahnya pipimu
Dia aisyah putri abu bakar
Istri rasulullah

Kalimat putih bersih merah pipimu itu juga berdasarkan hadist Nabi. Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Aisyah rodhiyallahu ‘anha dengan sebutan Humairah. Hadistnya adalah

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الشَّيْءُ الَّذِي لَا يَحِلُّ مَنْعُهُ قَالَ الْمَاءُ وَالْمِلْحُ وَالنَّارُ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْمَاءُ قَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا بَالُ الْمِلْحِ وَالنَّارِ قَالَ يَا حُمَيْرَاءُ مَنْ أَعْطَى نَارًا فَكَأَنَّمَا تَصَدَّقَ بِجَمِيعِ مَا أَنْضَجَتْ تِلْكَ النَّارُوَمَنْ أَعْطَى مِلْحًا فَكَأَنَّمَا تَصَدَّقَ بِجَمِيعِ مَا طَيَّبَ ذَلِكَ الْمِلْحُ وَمَنْ سَقَى مُسْلِمًا شَرْبَةً مِنْ مَاءٍ حَيْثُ يُوجَدُ الْمَاءُ فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَ رَقَبَةً وَمَنْ سَقَى مُسْلِمًا شَرْبَةً مِنْ مَاءٍ حَيْثُ لَا يُوجَدُ الْمَاءُ فَكَأَنَّمَا أَحْيَاهَا

Dari Sa'id bin Al-Musayyab dari ‘Aisyah Bahwasa dia berkata : "Wahai Rasulullah, sesuatu apakah yang tidak boleh dilarang untuk mengambilnya?" Beliau menjawab: "Air, garam dan api." 'Aisyah berkata : "Aku bertanya : "Wahai Rasulullah, masalah air kami telah mengetahuinya, tapi bagaimana dengan garam dan api?" Beliau menjawab: "Wahai Humaira (Yang kemerah-merahan), barangsiapa memberi api seakan-akan dia telah bersedekah dengan semua yang telah dimatangkan oleh api itu. Dan barangsiapa memberi garam, seakan-akan dia telah bersedekah dengan semua yang telah dibuat nikmat oleh garam itu, barangsiapa memberi minum seorang muslim satu teguk saat ia mendapatkan air, seakan-akan dia telah membebaskan seorang budak, dan barangsiapa memberi minum seorang muslim satu teguk saat ia tidak mendapatkan air, maka seakan-akan dia telah menghidupkannya. (HR. Ibnu Majah, hadist no. 2474).

Imam Ibnul Jauzi rohimahullah mengomentari tentang arti dari Humairah sebagiamana disebutkan di dalam kitab Kasyful Musykil :

وَالْعرب تَقول: امْرَأَة حَمْرَاء: أَي بَيْضَاء، وَمِنْه قَوْله لعَائِشَة: " يَا حميراء "، وَإِذا كَبرت الْمَرْأَة ابيض شدقاها.

Dan orang Arab berkata : “Wanita yang merah,” artinya putih. Dan panggilan (Humairah) putih ini ditujukan kepada Aisyah : Wahai Humairah (Kemerah-merahan). Dan apabila telah beranjak dewasa maka putih pipinya (Sudut Mulut). (Kasyful Musykil, jilid 4 halaman 319).

Apa maknanya? Maknanya lirik di atas berdasarkan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak boleh menyebutkan fisik, lalu bagaimana mungkin disebutkan di dalam hadist Nabi fisik Ummul Mukminin (Aisyah). Kecuali jika di dalam lagu secara detail menyebutkan fisik Ummul Mukminin, seperti misalnya tingginya sekian, badan begini dan begitu, rambut begini dan begitu dan sebagainya. Jika menyebutkan fisik detail seperti itu, maka baru bisa dikatakan kurang sopan karena tidak ada dasarnya dari hadist Nabi. Adapun ciri fisik yang disebutkan di dalam lirik lagu memang ada di dalam Hadist, bukan asal-asalan mengarang atau menebak-nebak saja. Selama ada dalilnya, maka boleh-boleh saja. Jika tidak boleh disebut, lalu bagaimana dengan hadist yang menyebutkan fisik beliau (Aisyah)? Tentunya jawaban sebagian orang yang menyalahkan tidak berkaca dengan Hadist Nabi. Entah dia belum membaca hadistnya atau seperti apa. Allahu a’lam.

Ustadz, bukankah memanggil nama saja tidak sopan?

Tidak sopan dalam pandangan siapa? Apakah memanggil secara langsung kepada orang yang bersangkutan atau hanya sekedar menggambarkan kisahnya?

Betapa banyak ulama-ulama hadist yang membawakan Hadist dari Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallahu ‘anha,tapi ulama Hadist tidak menyebut embel-embel apapun seperti kata Sayyidah atau Ummul Mukminin di sebelum nama Aisyah. Contoh Hadistnya adalah :


1. Hadist di atas, hanya menyebutkan kata Aisyah saja tanpa Sayyidah atau Ummul Mukminin.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الشَّيْءُ الَّذِي لَا يَحِلُّ مَنْعُهُ قَالَ الْمَاءُ وَالْمِلْحُ وَالنَّارُ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْمَاءُ قَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا بَالُ الْمِلْحِ وَالنَّارِ قَالَ يَا حُمَيْرَاءُ مَنْ أَعْطَى نَارًا فَكَأَنَّمَا تَصَدَّقَ بِجَمِيعِ مَا أَنْضَجَتْ تِلْكَ النَّارُوَمَنْ أَعْطَى مِلْحًا فَكَأَنَّمَا تَصَدَّقَ بِجَمِيعِ مَا طَيَّبَ ذَلِكَ الْمِلْحُ وَمَنْ سَقَى مُسْلِمًا شَرْبَةً مِنْ مَاءٍ حَيْثُ يُوجَدُ الْمَاءُ فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَ رَقَبَةً وَمَنْ سَقَى مُسْلِمًا شَرْبَةً مِنْ مَاءٍ حَيْثُ لَا يُوجَدُ الْمَاءُ فَكَأَنَّمَا أَحْيَاهَا

Dari Sa'id bin Al-Musayyab dari ‘Aisyah Bahwasa dia berkata : "Wahai Rasulullah, sesuatu apakah yang tidak boleh dilarang untuk mengambilnya?" Beliau menjawab: "Air, garam dan api." 'Aisyah berkata : "Aku bertanya : "Wahai Rasulullah, masalah air kami telah mengetahuinya, tapi bagaimana dengan garam dan api?" Beliau menjawab: "Wahai Humaira (Yang kemerah-merahan), barangsiapa memberi api seakan-akan dia telah bersedekah dengan semua yang telah dimatangkan oleh api itu. Dan barangsiapa memberi garam, seakan-akan dia telah bersedekah dengan semua yang telah dibuat nikmat oleh garam itu, barangsiapa memberi minum seorang muslim satu teguk saat ia mendapatkan air, seakan-akan dia telah membebaskan seorang budak, dan barangsiapa memberi minum seorang muslim satu teguk saat ia tidak mendapatkan air, maka seakan-akan dia telah menghidupkannya. (HR. Ibnu Majah, hadist no. 2474).

Hadist ini ada di kitab Sunan Ibnu Majah dan tanpa menggunakan kata Sayyidah dan Ummul Mukminin.

2. Hadist tentang Rasulullah bersiwak ketika masuk rumah ketemu istrinya.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ»

“Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam jika masuk ke rumahnya, hal yang pertama kali beliau lakukan adalah bersiwak.” (HR. Muslim, hadist no. 253).

Hadist ini ada di dalam kitab Shahih Muslim.

3. Hadist tentang Rasulullah membantu istrinya di rumah.

Dari Aswad berkata, saya bertanya kepada Aisyah rodhiyallahu ‘anhu :

عَنِ الأَسْوَدِ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ، مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي أَهْلِهِ؟ قَالَتْ: «كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ»

Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari, hadist no. 6039).

Hadist ini ada di dalam kitab Shahih Bukhari.

Dan masih banyak lagi sebenarnya ulama-ulama hadist menyebutkan nama Ummul MukmininAisyah tanpa menulis embel-embel Sayyidah dan Ummul Mukminin. Dan apakah ulama-ulama hadist juga tidak sopan kepada Ummul Mukminin Aisyah? Tentunya tidak. Karena bukan berhadapan langsung dengan yang bersangkutan.

Memang, yang lebih utama memanggil dengan sebutan Sayyidah ataupun Ummul Mukminin. Akan tetapi jika tidak menyertakan Sayyidah dan Ummul Mukminin bukan berarti tidak sopan karena ulama-ulama hadist tidak menulis gelar di dalam kitab-kitab hadist mereka.

Begitu juga jika menggunakan kata sayyidah dan ummul mukminin di dalam lagu. Lagu tersebut terasa janggal dan aneh didengar jika lagu ditulis dan dilafadzkan dengan gelar.

Bahkan lagu Kisah Sang Rasul yang dikarang oleh Habib Rizieq Syihab sekaligus tanpa menyebut gelar di awal nama Khadijah dan Fatimah. Apakah beliau berarti tidak menghormati Khadijah dan Fatimah rodhiyallahu ‘anhuma juga? Tentunya tidak.

Oleh sebab itu, apa yang ditulis oleh sebagian orang yang mengatakan tidak sopan tanpa menyebutkan gelar, ada benarnya juga. Tapi hal itu bukan berarti tidak boleh dan tidak sopan. Karena bukan berinteraksi dengan yang bersangkutan secara langsung.

Seharusnya ummat Islam itu bersatu, bukan mencari-cari celah kesalahan kaum muslimin lainnya. Betapa banyak non muslim setelah mendengar lagu Aisyah rodhiyallahu ‘anha, mereka mencari tau siapa itu Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallahu ‘anha seperti pengakuannya di komentar youtube. Bukankah itu nilai positif yang diperoleh ummat Islam? Tentunya iya.

Maka dari itu mari berhusnudzon terlebih dahulu sebelum menilai. Kita diperintahkan untuk berhusnudzon dan dilarang dari su’udzon. Karen su’udzon (berprasangka buruk) adalah termasuk seduta-dustanya perkataan hati.

Menyanyikan lagu Aisyah Istri Rasulullah tidaklah mengapa dan tidak dilarang insyaAllah.

Semoga bermanfaat.

Wallahu Ta’ala a’lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.