logo

Benarkah Penyebutan Kata Gusti dilarang? | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamualaikum ustad, mohon tanya ,apa betul penyebutan kalimat gusti Alloh tidak di perbolehkan, karena kalimat gusti tidak ada dalam alquran maupun hadist,mohon penjelasanya ustad ,mengingat lidah kami lidah kami ini udah terbiasa menyebut kalimat gusti Alloh. Syukron ustad.

Dari : Mudiyati

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Gusti merupakan bahasa jawa yang diartikan sebagai Tuhan.

Memang pada hakikatnya kata "gusti" tidak ada disebutkan di dalam Al-Qur'an maupun Hadist Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi penyebutan gusti tidaklah dilarang di dalam Islam karena maknanya baik.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الأمور بمقاصدها

Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.

Oleh sebab itu tidak ada dalil yang mengharamkan penyebutan gusti ataupun yang lainnya, baik dari Al-Qur'an maupun dari Hadist Nabi. Sama halnya dengan sebutan kanjeng Nabi dan sebagainya.

Ini hanya sebutan saja bukan mengganti penyebutan Nama Allah dengan gusti. Orang-orang salah paham dengan penyebutan gusti tersebut.

Sebelum menghukumi sesuatu yang dilihat pertama kali adalah tujuannya apa? Maknanya apa? Ini yang seharusnya ditanyakan. Karena terkadang sebab dari segala sesuatu bisa merubah sebuah hukum tersebut.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما

Hukum itu berputar bersama illat (sebabnya), baik ketika illatnya ada maupun tidak ada.

Artinya, sebabnya apa? Maknanya apa?

Penyebutan gusti hanyalah sebuah kebiasaan saja dalam rangka penghormatan. Dan ini sudah menjadi kebiasaan orang-orang jawa dalam memanggil Allah dengan dibarengi gusti. Artinya Tuhan. Gusti Allah berarti Tuhan Allah. Tidak ada yang salah dengan sebutan ini.

Dan yang perlu dipahami di sini adalah gusti di sini bukan mengganti kata Allah menjadi gusti. Bukan. Akan tetapi hanya membarengi kata Allah dengan kata gusti. Gusti Allah yang berarti Tuhan Allah.

Beda halnya jika kata Allah diganti dengan kata gusti. Maka hal ini baru bisa dipermasalahkan dan tentunya ini termasuk perkara yang batil dan tidak boleh dilakukan.

Maka dari itu kenali titik permasalahannya. Bukan jika tidak ada di dalam Al-Qur'an dan Hadist langsung dihukumi tidak boleh. Kalau begitu betapa sempitnya Islam dalam menghukumi sesuatu.

Para ulama telah membagi bahwa jika tidak terdapat di dalam Al-Qur'an dan Hadist, maka dia bisa mengambil dari Ijma', Qiyas, Istihsan, Istishab, Al-Maslahah Al-Mursalah, Saddud Dzari'ah, Sar'un Man Qoblana Sar'un Lana.

Istinbat hukumnya harus jelas dan mengetahui apa yang ditetapkan ulama di atas. Bukan sedikit-sedikit jika tidak ada di dalam Al-Qur'an dan Hadist, maka langsung dihukumi tidak boleh. Tentunya orang seperti ini tidak belajar ilmu ushul fiqh sehingga dia tidak tau apa-apa saja yang termasuk istinbat hukum di dalam Islam. Memang Al-Qur'an dan Hadist merupakan pedoman utama kita, akan tetapi jika di dalam keduanya tidak ada, maka kita lihat kepada yang telah ditetapkan para ulama kita terdahulu, sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Semoga bisa dipahami.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.